Laporan Keuangan Komersial Yang Disusun Oleh Suatu Entitas Bertujuan Untuk?

Laporan Keuangan Komersial Yang Disusun Oleh Suatu Entitas Bertujuan Untuk
Laporan keuangan komersial disusun berdasarkan standar Akuntansi Keuangan yang tujuannya adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Apa yang dimaksud dengan laporan keuangan Komersial dan tujuannya?

Dalam menyusun laporan keuangan, entitas perlu memperhatikan laporan keuangan fiskal dan laporan keuangan komersial. Dalam menyusun laporan keuangan fiskal harus selalu mengikuti kaidah fiskal yang berlaku, sehingga nantinya akan mendapatkan laporan keuangan fiskal tersebut bisa menjadi dasar pelaporan dan pembuatan SPT PPh yang dilakukan oleh pihak perusahaan. Secara umum, beda laporan keuangan komersial dan fiskal berdasarkan standar yang yakni akuntansi dan juga perpajakan. Tapi, untuk laporan keuangan komersial nantinya harus dilakukan rekonsiliasi fiskal atau yang umumnya disebut dengan koreksi fiskal. Laporan keuangan fiskal adalah suatu laporan yang mempunyai kepentingan untuk perpajakan, sehingga laporan tersebut harus didasarkan pada peraturan perpajakan. Beberapa unsur laporan keuangan fiskal tersebut adalah sebagai berikut:

Laporan neraca fiskal Melakukan penghitungan laporan laba rugi dan perubahan laba yang ditahan Mampu Memberikan penjelasan contoh laporan keuangan fiskal Harus melakukan rekonsiliasi fiskal dengan laporan keuangan secara komersial. Melakukan ikhtisar kewajiban pajak pada pemerintah

Laporan keuangan komersial adalah suatu kegiatan laporan penyusunan laporan yang mengacu pada prinsip akuntansi dan lebih bersifat netral, dan bahkan tidak memihak. Sehingga, dengan demikian perbedaan ini dapat diketahui dengan adanya pengakuan pendapatan dan juga biaya dengan adanya prinsip akuntansi.

Apa yang dimaksud dengan laporan keuangan yang disusun secara komersial?

Menjadi pebisnis tentunya Anda memerlukan laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal. Maka dari itu Anda juga perlu mengetahui perbedaan dari kedua laporan tersebut sebagai kepentingan perusahaan ataupun pajak. Sehingga dalam menghasilkan laporan keuangan komersial dan fiskal Anda perlu juga memperhatikan karakteristik laporan keuangan, yang menjadi suatu bentuk pertanggung jawaban perusahaan kepada negara dan pihak investor. Lalu apakah perbedaan antara laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal ? Pengertian Laporan Keuangan Komersial dan Fiskal Laporan keuangan komersial adalah disusun berdasarkan standar-standar yang telah ditetapkan sesuai dengan prinsip akuntansi yang bersifat netral atau tidak memihak. Laporan keuangan fiskal adalah informasi akuntansi yang dibuat untuk kepentingan perpajakan, penyajiannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku beserta aturan pelaksanaannya. Laporan keuangan fiskal mencakup: a. Neraca fiskal b. Perhitungan laba rugi dan perubahan laba ditahan c. Penjelasan laporan keuangan fiskal d. Rekonsiliasi laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal e. Ikhtisar kewajiban pajak Berikut ini adalah perbedaan laporan keuangan fiskal dan komersial berdasarkan beberapa hal: a. Pendapatan atau Penghasilan Konsep penghasilan menurut akuntansi dan perpajakan berbeda.Pada akuntansi atau komersial, pendapatan (revenue) dan penghasilan (income) adalah hal yang berbeda, tetapi keduanya masuk dalam laporan keuangan, sedangkan di dalam akuntansi pajak atau fiskal pendapatan adalah penghasilan. Definisi pendapatan menurut IFRS dalam IAS 18, Pendapatan atau revenue adalah arus masuk bruto atas manfaat ekonomi selama periode tertentu yang timbul dari aktivitas biasa dari suatu entitas di mana arus kas masuk tersebut menghasilkan peningkatan ekuitas, selain dari peningkatan yang terkait kontribusi dari para pemilik modal. Sedangkan, menurut UU No.36 Tahun 2008 Pasal 4 Tentang Pajak Penghasilan, ” penghasilan adalah setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak, baik berasal dari Indonesia atau luar Indonesia yang dapat dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak dengan nama serta dalam bentuk apapun.” Selanjutnya pajak merinci penghasilan kedalam tiga kategori, yaitu; penghasilan yang merupakan objek pajak, penghasilan yang dikenakan pajak final dan penghasilan yang bukan merupakan objek pajak penghasilan. Atas perbedaan tersebut, maka terjadilah perbedaan laba dalam akuntansi komersial dan akuntansi fiskal di mana pada akuntansi fiskal terdapat penghasilan yang bukan merupakan objek pajak yang artinya penghasilan tersebut tidak menyebabkan kenaikan laba fiskal.b. Beban atau Biaya Beban pada akuntansi komersial didefinisikan sebagai penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam modal (IAI, 2007:13). Beban pada akuntansi komersial berbeda dengan biaya, Perbedaanya terletak pada adanya man faat ekonomi di masa mendatang untuk biaya. Pada akuntansi pajak beban didefinisikan sebagai biaya untuk menagih, memperoleh, dan memelihara penghasilan atau biaya yang berhubungan langsung dengan perolehan penghasilan. Akan tetapi, tidak semua biaya dapat diakui sebagai pengurang pada laporan keuangan fiskal, meskipun biaya tersebut digunakan untuk operasional perusahaan. Hal ini dikarenakan pada akuntansi fiskal biaya dikelompokan menjadi dua, yaitu biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto (deductible expense) dan biaya yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto (non deductible expense). Adapun rincian biaya-biaya yang termasuk dalam kelompok deductible dan non deductible diatur oleh peraturan yang dibuat oleh pemerintah, perusahaan tidak dapat mengklasifikasikannya sendiri. Perbedaan inilah yang membuat laba pada laporan keuangan fiskal dan laporan keuangan komersial berbeda.c. Metode Perhitungan Persediaan Metode perhitungan persediaan menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK) ada tiga, yaitu rumus biaya masuk pertama-keluar pertama ( First In First Out ), rata-rata tertimbang ( Weigth Average Cost Method ) dan masuk terakhir keluar pertama ( Last In First Out-LIFO ) (SAK 14, 2017). Namun, undang-undang pajak penghasilan Indonesia, perhitungan metode persediaan hanya dibolehkan menggunakan dua metode, yaitu metode rata-rata atau dengan metode FIFO. Metode LIFO tidak diperbolehkan pada akuntansi fiskal hal ini dikarenakan perhitungan dengan metode LIFO membuat nilai pajak terutang menjadi lebih kecil.d. Metode Penyusutan Akuntansi menentukan umur aktiva berdasarkan umur sebenarnya walaupun penentuan umur tersebut tidak terlepas dari tafsiran judgement. Akuntansi komersial memiliki beberapa metode penyusutan yaitu: · Metode garis lurus atau straight line method yang menghasilkan pembebanan yang tetap selama umur manfaat aset jika dinilai residunya tidak berubah. · Metode Saldo Menurun atau diminishing balance method yang menghasilkan pembebanan menurun selama umur manfaat aset. · Metode Jumlah Unit atau sum of the unit method yang menghasilkan pembebanan yang menurun selama umur manfaat aset (IAI,2007). Sedangkan pada akuntansi fiskal dengan merujuk ketentuan perpajakan hanya menetapkan dua metode penyusutan yang harus dilaksanakan wajib pajak berdasarkan pasal UU No.36 tahun 2008 pasal 11 tentang Pajak Penghasilan yaitu berdasarkan metode garis lurus dan metode saldo menurun yang dilaksanakan secara konsisten, kemudian aktiva (harta berwujud) dikelompokkan berdasarkan jenis harta dan masa manfaat. Adapun rinciannya tertuang pada peraturan menteri keuangan No.96/PMK.03/2009.
You might be interested:  Bidang Akuntansi Yang Tujuannya Mengolah Data Keuangan Menjadi Laporan Keuangan?

Mengapa laporan keuangan harus disusun secara beriringan dengan laporan keuangan komersial?

Pembahasan – Laporan keuangan fiskal adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk menghitung pajak. Sedangkan laporan keuangan komersial adalah laporan yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Laporan keuangan fiskal beriringan dengan laporan keuangan komersial karena ketentuan perpajakan sangat dominan dalam proses penyusunan laporan keuangan.

  • Jika terjadi perbedaan penghitungan (khususnya laba) maka perlu dilakukan rekonsiliasi fiscal.
  • Pendekatan dalam penyusunan laporan keuangan fiskal, yaitu : 1.
  • Laporan keuangan fiskal ekstrakomtabel dengan laporan keuangan bisnis.
  • Artinya bahwa laporan keuangan fiskal merupakan produk tambahan, diluar laporan keuangan bisnis.2.

Laporan keuangan fiskal disusun secara beriringan dengan laporan keuangan komersial. Artinya ketentuan pajak sangat dominan dalam proses penyusunan laporan keuangan, walaupun laporan keuangan komersial disusun berdasarkan prinsip akuntansi bisnis.3. Laporan keuangan fiskal disusun dengan memasukkan ketentuan pajak dalam laporan keuangan bisnis.

Untuk apakah laporan keuangan komersial dan laporan keuangan fiskal?

Dalam melaporkan SPT Tahunan Badan diperlukan laporan keuangan sebagai dasar perhitungannya. Secara strukturnya laporan keuangan dalam segi perpajakan yang berlaku di Indonesia berbeda dengan laporan keuangan yang disusun dengan prinsip akuntansi. Laporan keuangan untuk perpajakan biasanya disebut laporan keuangan fiskal sedangkan laporan keuangan untuk investor/ stakeholder disebut laporan keuangan komersial.

Laporan keuangan fiskal disusun berdasarkan standar akuntansi dan perpajakan, sedangkan laporan keuangan komersial berstandar dasar-dasar akuntansi yang bersifat netral. Laporan keuangan komersial diperlukan rekonsiliasi fiskal atau koreksi fiskal agar dapat digunakan untuk dasar penyusunan SPT Tahunan Badan.

Informasi ini merujuk pada undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 yang merupakan perubahan keempat atas undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang pajak penghasilan. Baca Juga: Contoh Laporan HRD dan Cara Membuatnya