Lembaga Keuangan Yang Pertama Menggunakan Akuntansi Syariah Adalah?

Lembaga Keuangan Yang Pertama Menggunakan Akuntansi Syariah Adalah
Seiring dengan berkembangnya zaman manusia mulai mengalami kesulitan dalam menukarkan barang dengan barang lain disebabkan barang tersebut terkadang tidak sebanding dengan barang yang kita inginkan. Hal tersebut menyebabkan kurang efisiennya barter pada saat itu hingga pada saat manusia telah menemukan alat tukarnya yaitu uang, mulailah disana para pedagang melakukan pencatatan secara sederhana.

Setelah munculnya islam pada zaman Rasulullah dan terbentuknya Daulah Islamiah di Madinah yang kemudian di lanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin terdapat undang-undang akuntansi yang diterapkan untuk perorangan, perserikatan (syarikah) atau perusahaan, akuntansi wakaf, hak-hak pelarangan penggunaan harta (hijr), dan anggaran negara.

Didalam Al-Quran juga dijelaskan pada Qs Albaqarah ayat 282 yang artinya: “Hai, orang-orang yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.

Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya” Dalam surah tersebut jelas disebutkan bahwasanya apabila kita melakukan transaksi tidak secara tunai maka kita hendak menulis atau mencatatnya dengan benar, jujur tanpa melebih atau mengurangi jumlah transaksi, gunanya pencatat itu sendiri ialah menjaga apabila kelak terjadi selisih diantara penjual dan pembeli maka ada bukti yang sah yang bisa ditunjukkan.

Zaman Rasullullah diawali dengan berdirinya Baitul Maal yang mana pengelolaanya masih secara sederhana, hingga pada masa pemerintahan Abu Bakar, perubahan yang cukup signifikan terjadi pada masa khalifah Umar Bin Khattab dikenal dengan adanya Diwan ( Dawwana : penulisan).

Yang mana disana proses pekerjaan akuntansi sudah dicatat dan disimpan. Perkembangan baitul maal pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib sudah dikelola dengan baik sesuai dengan ajaran Rasulullah. Dari sejarah tersebut kita bisa lihat bahwasanya sistem pencatataan yang sekarang dikenal dengan kata akuntansi sudah ada tertulis di dalam Al-Quran yang mana diturunkan pada abad ke 610 M jauh sebelum luca pacioli menerbitkan bukunya pada tahun 1494.

Dan puncak dari pengembangan pengelolaan akuntansi mencapai tingkat tertinggi pada masa Daulah Abbasiyah. Karena pada masa ini akuntansi di klasifikasikan pada beberapa spesialisasi seperti akuntansi mata uang, dan pemerikasaan buku/auditing. Menurut khaddafi, muammar (2016) Secara sederhana pengertian akuntansi syariah dapat dijelaskan melalui akar kata yang dimilikinya yaitu akuntansi dan syariah.

Akuntansi adalah identifikasi transaksi yang kemudian diikuti dengan kegiatan pencatatan, penggolongan, serta pengikhtisaran transaksi tersebut sehingga menghasilkan laporan keuangan yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Sedangkan definisi dari syariah adalah aturan yang telah ditetapkan oleh Allah swt untuk dipatuhi oleh manusia dalam menjalani segala aktivitas hidupnya di dunia.

Bisa disimpulkan bahwa akuntansi syariah adalah proses pencatatan transaksi, penggolongan serta pengikhtisaran transaksi yang mana prosesnya tidak lepas dari ketentuan syariat yang telah ditetapkan oleh Allah SWT sehingga menjadi laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Perkembangan akuntansi di Indonesia salah satunya dipengaruhi oleh faktor ideologi dan ekonomi yang mana hal itu juga berpengaruh bagi akuntansi di Indonesia, faktor kuat yang mendorong munculnya Akuntansi syariah hingga berkembang pesat pada sekarang ini ialah dengan berkembangnya lembaga keuangan syariah, dan sistem perbankan syariah, sehingga membuat pola pikir akuntan untuk bersifat jujur, adil dan tidak melanggar ketentuan syariat.

Akuntansi pertama kali di kenal di Indonesia yaitu sekitar tahun 1960-an itupun masih bersifat konvensional yang merupakan adaptasi dari perkembangan akuntansi dari Negara italia. Akuntansi syariah mulai berkembang di Indonesia tidak lepas dari munculnya Bank Muamalat Indonesia yang merupakan bank syariah pertama di Indonesia pada tahun 1991 yang secara resmi beroperasi pada tahun 1992.

Setelah berdirinya bank muamalat pada saat itu beberapa Kendala masih dialami salah satunya yaitu keganjalan dalam pembuatan laporan keuangan karena pada saat itu belum adanya aturan mengacu pada standar syariah yang sesuai dengan syariat islam. Hingga akhirnya pada tahun 2002 barulah muncul sebuah ide dan pemikiran atas keberadaan akuntansi syariah, dan mulai diterapkan setelah adanya standar akuntansi perbankan syariah dan adanya lembaga akuntansi syariah.

Seiring dengan bertambahnya bank syariah di Indonesia pada tahun 2008 mulai lah bank konvensional juga membuat bank yang berbasis syariah seperti, BNI Syariah, BCA Syariah, BJB Syariah, Bank Victoria Syariah, dan Maybank Syariah dan lain sebagainya. Pada tahun 2008 perbankan syariah sudah memiliki undang-undangnya, yaitu undang-undang No 21 tahun 2008 tentang perbankan syariah.

Hal ini tentu mendorong perkembangan akuntansi syariah di Indonesia dan membuat masyarakat terkhususnya umat islam beralih menggunakan jasa perbankan Syariah. Bukan hanya dalam segi perbankan tetapi juga sudah adanya pengkreditan syariah Hal ini terus terjadi hingga di era modern sekarang ini, lembaga keuangan syariah dan perbankan syariah menunjukkan perkembangan yang pesat dalam perjalanan karirnya yang terus mengalami perubahan-perubahan yang cukup signifikan.

Terutama dalam perkembangan standar akuntasi syariah di Indonesia dan adanya Dewan syariah Nasional yang mengatur segala aktivitas yang sesuai dengan syariat islam. Di Indonesia sendiri, permasalahan standarisasi laporan keuangan syariah ditangani oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAK) yang berada di bawah naungan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

  • DSAK dibentuk di Jakarta pada kongres ke-8 IAI pada tahun 1998.
  • Saat ini, Standar Akuntansi Keuangan Syariah di Indonesia menggunakan PSAK 101 (2014).
  • SAK Syariah tersebut menggantikan SAK Syariah yang disahkan tahun 2002 dan menyempurnakan SAK tahun 2007 dan 2011.
  • Dasar pembuatan SAK Syariah ini bersumber pada Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 282-283.

Ayat tersebut menjabarkan prinsip pencatatan laporan keuangan yang menggunakan konsep kejujuran, keadilan dan kebenaran sesuai dengan prinsip akuntnasi syariah yaitu: 1. Pertanggungjawaban 2. Keadilan dan 3. Kebenaran Pembuatan SAK Syariah ini mengikuti perkembangan ekonomi islam di dunia.

  • Perkembangan tersebut menciptakan lingkungan ekonomi dan pasar baru yang berbasis syariah.
  • Bagaimana perkembangan akuntansi saat ini? Yang sama-sama kita ketahui bahwasanya saat ini Indonesia merupakaan salah satu Negara yang terkena virus covid-19.
  • Per tanggal 03 september 2020 jumlah kasus covid di Indonesia yakni mencapai 184.268 kasus.

Dan baru sekitar 1 bulan terakhir ini Indonesia masuk ketahap new normal. Dari banyaknya jumlah kasus yang terjadi hal ini tentu membuat kita semua harus tetap waspada dan terus berjaga jarak dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan kita dengan selalu rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan jangan tetap berada dirumah aja.

Bagaimana mana ekonomi di masa pandemi ini? Bagaimana perkembangan akuntansi pada saat ini? Apakah lembaga keuangan syariah dan lembaga syariah lainnya mampu bertahan dimasa sulit seperti sekarang ini? Badan pusat statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 mengalami kontraksi sebesar 5,32% yoy.

Hal ini terntu sangat berbeda jauh dari pada quartal I 2020 yang mencapai 2,97%. Hal ini tentu menjadi yang terendah semenjak tahun 1999, dimana saat itu ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 6,13%. Hal ini menjadi yang terburuk sejak krisis tahun 1998.

  • Sementara pada tahun 2008 saat terjadinya krisis finansial global Indonesia masih dapat tumbuh 2,4%.
  • Pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi ini di sebabkan dari berbagai komponen, seperti pengeluaran, ekspor dan impor, konsumsi pemerintah yang mengalami minus, hampir disemua sektor mengalami minus.

Tetapi masih ada beberapa sektor yang pertumbahnya positif salah satunya yaitu jasa keuangan. Pada saat terjadinya krisis tahun 1998 perbankan syariah merupakan salah satu perbankan yang dapat bertahan pada saat itu yakni Bank Muamalat ketika banyak bank konvensional yang mengalami krisis pada saat itu.

  • Dari kejadian tersebut justru membuat bank konvensional berlomba-lomba untuk membuat bank syariah.
  • Tapi bagaimana perkembangan saat ini? dimasa pandemi sekarang ini? Menurut otoritas jasa keuangan (ojk) pertumbuhan bank syariah pada masa pandemi ini cukup melambat dibandingakn dengan 2019 yang menembus angka 6%, tetapi pertumbuhan bank syariah masih lebih baik dibandingkan dengan bank konvensional, dibuktikan dengan pertumbuhan pinjaman yang diterima (PYD) di bank syariah per Mei 2020 sebesar 10,14% year to date (YTD), di sisi aset tumbuh 9,35% YTD, dan juga dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9,24% YTD.

Sementara di bank konvensional sampai Mei 2020, pertumbuhan kredit hanya mencapai 3,04%, dan dana pihak ketiga (DPK )8,87%. Saat ini posisi share aset syariah di bank syariah per Mei 2020 mencapai 6,05%. hal ini tentu merupakan angka yang tinggi di bandingkan dengan tahun sebelumnya.

  1. Dan tentu perkembangan yang cukup signifikan karena dimana tahun sebelumnya cukup sulit untuk mencapai 5%.
  2. Ondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat Indonesia pada perbankan syariah di tengah pandemi ini masih tinggi.
  3. Hal tersebut bukan berarti perbankan syariah merasa cukup, tetapi masih banyak tantangan kedepan yang masih harus di hadapi terutama kondisi pada saat sekarang ini, di mana pandemi covid-19 belum berakhir, di mana sektor jasa keuangan terkhusunya lembaga keuangan syariah bisa mampu membaca situasi dan kondisi saat ini agar tetap bisa berjalan dengan baik dan terus mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
You might be interested:  Apa Yang Menjadi Modal Utama Bangsa Indonesia Berjuang Melawan Penjajahan?

Bisa kita simpulkan bahwasanya perkembangan akuntansi di Indonesia berkembang sesuai dengan perkembangan ideologi manusia dan diikuti oleh perkembangan zaman serta teknologi di era sekarang. Jadi, tidak heran lagi jika di Indonesia akuntansi syariah terus berkembang mengikuti perkembangan ekonomi syariah dan global.

Siapa yang pertama kali membentuk lembaga keuangan syariah?

Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah

  • Senin, 18 September 2017 ~ Oleh admin ~ Dilihat 5694 Kali
  • Dalam operasional lembaga keuangan terdapat dua jenis, yaitu lembaga keuangan konvensional dan lembaga keuangan syariah.
  • Dalam beberapa dekade ini perkembangan Lembaga keuangan syariah berkembang sangat pesat, beberapa bank konvensional di Indonesiapun beramai ramai membentuk anak perusahaan dengan konsep lembaga keuangan syariah.

Secara Internasional, perkembangan lembaga keuangan Islam pertama diprakasai oleh Mesir, Pada saat Organisasi KOnferensi Islam (OKI) tahun 1970. Mesir mengajukan proposal berupa studi tentang pendirian Bank Islam Internasional untuk perdagangan dan Pembangunan, inti dari proposal tersebut adalah sistem keuangan berdasarkan bunga harus diganti dengan suatu sistem kerjasama dengan skema bagi hasil keuntungan maupun kerugian.

Akhirnya pada bulan Oktober 1975 terbentuklah IDB (Islamic Development Bank) yang berangotakan 22 negara Islam, hingga saat ini bank yang berpusat di Jeddah-Arab ini sudah memiliki 56 Negara Anggota. Sedangan perkembangan Lembaga Keuangan syariah di Indonesia sendiri dimulai sejak tahun 90-an dan semakin berkembang pada tahun 2000-an, dengan ditandainya semakin bermunculan bank syariah yang didirikan oleh perbankan konvensional.

Maraknya perkembangan Lembaga Keuangan Syariah ini tidak lepas dari Fatwa MUI yang menyatakan bahwa bunga Bank (riba) adalah haram. Beberapa perbedaan antara konsep syariah dan konsep konvensional selain dalam penyebutan bunga, diantaranya adalah:

  1. Prinsip Dasar, Sistem konvensional menganggap bahwa ketika pertumbuhan ekonomi berjalan baik maka semua orang akan mencapai kepuasan individu, sedangkan dalam syariah berprinsip bahwa ekonomi dan agama memiliki kaitan yang sangat erat dimana kegiatan ekonomi dilakukan sebagai ibadah
  2. Perjanjian kredit, dalan sistem konvensional perjanjian kredit dikenal dengan adanya perjanjian baku, perjanjian ini telah dibuat oleh pihak terterntu sebelum pihak yang lain datang. Dalam sistem syariah disebut mudhorobah dimana perjanjian dibuat oleh kedua belah pihak.
  3. Hak milik, dalam sistem konvensional setiap individu tanpa terkecuali dapat memperolah barang atau aset yang dikehendaki individu asalkan individu tersebut memiliki sumber daya untuk mendapatkannya tanpa menyebutkan batasan dari kepemilikan. Dalam sistem syariah setiap individu dapat memperoleh barang atau aset yang diinginkan asalkan tidak meninmbulkan zaliman dan harus diperoleh dengan cara yang halal sesuai peraturan agama.
  4. Dasar Hukum, sudah terilhat jelas perbedaan dalam dasar hukum ini.
  5. Pembagian keuntungan

: Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah

Bagaimana awal munculnya akuntansi syariah?

Sejarah lahirnya ilmu akuntansi syariah tidak lepas dari perkembangan islam, kewajiban mencatat transaksi non tunai sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Baqarah: 282 mendorong umat islam untuk peduli terhadap pencatatan dan menimbulkan tradisi pencatatan dikalangan umat, dan hal tersebut merupakan salah satu faktor yang

Lembaga keuangan apa saja yang murni lembaga keuangan syariah?

Konsep dan Mekanisme Lembaga Keuangan Syariah Lembaga keuangan yang berhubungan dengan penyimpanan atau tabungan adalah salah satunya bank Syariah. Lembaga keuangan merupakan unit badan usaha yang kekayaan utamanya dalam bentuk aset uang atau tagihan dibandingkan dengan aset non-finansial.

Lembaga keuangan berkaitan dengan sistem simpan pinjam (kredit) yang melayani masyarakat dalam kegiatan ekonomi modern. Peran lembaga keuangan (bank) saat ini semakin lama semakin dibutuhkan dan juga mengalami perkembangan misalnya sebagai mediasi antara pihak yang memiliki dana dengan yang memerlukan dana.

Sekarang apa bedanya antara lembaga keuangan dengan bank Syariah? Lembaga keuangan salah satunya adalah bank. Bank Syariah menjadi sebuah lembaga keuangan intermediasi keuangan antara unit defisit dengan unit surplus atau menawarkan jasa simpan pinjam, asuransi, dan penyediaan mekanisme pembayaran dengan berlandaskan pada prinsip Syariah Islam.

Prinsip keadilan yaitu berbagi untung atas dasar penjualan riil yang disesuaikan dengan kontribusi dan risiko masing-masing pihak. Prinsip kemitraan yaitu posisi nasabah penyimpan dana, pengguna dana, dan lembaga keuangan sejajar dengan mitra usaha yang saling sinergi dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan. Prinsip transparansi yaitu prinsip yang menekankan bahwa lembaga keuangan Syariah selalu memberikan pelaporan keuangan secara terbuka dan secara berkesinambungan agar nasabah penyimpan dana (investor) dapat memantau dan mengetahui kondisi perihal dananya. Prinsip universal yaitu prinsip yang tidak membeda-bedakan agama, ras, suku dan golongan dalam masyarakat. Hal ini disesuaikan dengan prinsip dalam agama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Untuk membedakan antara Lembaga Syariah dan Non-Syariah dapat dilihat dari ciri-ciri khusus lembaga Syariah. Lembaga keuangan Syariah memiliki ciri-ciri yaitu Lembaga keuangan Syariah diharuskan sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah saat menerima titipan dan investasi.

Hubungan antara pengguna dana, penyimpan dana (investor), dan lembaga keuangan Syariah sebagai intermediary institution, Hal ini didasarkan pada kemitraan bukan hubungan antara kreditur dan debitur. Bisnis dalam lembaga ini tidak hanya dikhususkan atau berpusat pada profit (keuntungan) tetapi juga menguatamakan falah oriented,

Yang dimaksud falah oriented yaitu kemakmuran di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Konsep yang dijalankan dalam transaksi Lembaga keuangan Syariah didasarkan kepada prinsip kemitraan sistem bagi hasil dan jual beli. Atau sewa menyewa untuk transaksi komersial dan pinjam meminjam (qardh/ kredit) bertujuan untuk merugikan transaksi sosial.

  • Mekanisme Lembaga Keuangan Syariah Pada dasarnya setiap lembaga keuangan memiliki sistem dan mekanisme khusus yang dapat membedakan satu dengan yang lainnya.
  • Di lembaga Syariah ini tidak dikenal istilah “bunga” baik saat menghimpun dana (pemasukan) dari masyarakat maupun dalam pembiayaan/ dana untuk usaha yang membutuhkan.

Sistem bunga dapat merugikan penghimpunan modal baik itu dalam bentuk suku bunga tinggi maupun rendah. Suku bunga tinggi dapat menghambat suatu perusahaan dalam investasi maupun formasi modal. Hal ini pada akhirnya akan menimbulkan penurunan produktivitas dan laju pertumbuhan yang rendah.

Kapan pertama kali akuntansi Islam ada?

Sejarah Perkembangan dan Pemikiran Akuntansi Syariah Untuk memahami tentang Akuntansi Syariah, maka perlu kita ketahui dahulu apa sebenarnya Akuntansi Syariah tersebut. Apakah ini konsep Akuntansi konvensiomal yang kemudian disyariahkan atau merupakan ilmu Syariah yang dihubungkan dengan Akuntansi.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat sejarah dari Akuntansi Syariah itu. Pengertian akuntans Syariah. Yang dimaksud dengan Akuntansi Syariah harus dilihat dari segi Bahasa atau etimologinya dahulu. Akuntansi berasal dari kata Bahasa Inggris yaitu accounting. Dalam tata Bahasa arab disebut dengan nama muhasabah.

Muhasabah berasal dari akar kata hasaba, atau hisbah yang memiliki arti menimbang atau memperhitungkan atau melakukan kalkulasi atau juga melakukan pendataan. Dari pengertian tersebut dapat kita lihat pengertian dari muhasabah adalah suatu aktifitas yang berkaitan dengan pencatatan transaksi yang dilakukan secara teratur dan juga keputusan-keputusan yang sesuai dengan syariat dan juga jumlahnya serta memiliki catatan yang bersifat representative serta berkaitan dengan pengukuran akan hasil keuangan untuk melakukan pengambilan keputusan secara tepat.

Arena itulah maka defines Akuntansi Syariah bisa kitya ambil. Menurut Prof Sofyan Harahap yang dmaksud dengan Akuntansi Syariah adalah bagaimana kita menjalankan Akuntansi agar sesuai dengan Syariah Islam. Pada dasarnya menurut beliau ada dua konsep dalam Akuntansi syariiah. Yang pertama ada;ah Akuntansi Syariah yang dijalankan pada masa kenabian Rasulullah Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam serta juga para sahabat yang menjadi khalifah pengganti beliau, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.

Serta juga dilanjutkan oleh pemerintahan Bani Ummayah dan Bani Abbasiyah. Selanjutnya adalah Akuntansi Syariah yang berkembang sekarang ini, yaitu di era dimana kegiatan ekonomi dan social banyak duwarnai oleh kegiatan ekonomi konvensional. Untuk memahami tentang Akuntansi Syariah tidak ada salahnya kita melihat dahulu konsep Akuntansi konvensional.

  1. Akuntansi konvensional dikatakan ditelurkan oleh seorang pemikir dari Italia yang Bernama Luca Pacioli.
  2. Pria yang dijuluki sebagai bapak dari Akuntansi ini menerbitkan sebuah buku yang Bernama Summa De Arithmatica, Geomitria, proportioi et proportionalita, atau dengan arti Kumpulan Pengetahuan Aritmatika, Geometri, Proportioni dan Juga Proporsional.

Dalam buku ini ia menyatakan bahwa dalam praktik perdagangan terdapat yang Namanya konsep Double Entry System. Buku ini sendiri terbit di Venesia, Italia yang saat itu dikenal sebagai pusat perdagangan dunia. Perdagangan dunia saat itu banyak didominasi dengan perdagangan yang terjadi antara Eropa dan Timur Tengah.

You might be interested:  Faktor Produksi Yang Penting Selain Tanah Modal Dan Keterampilan Adalah?

Gambar: Peta perdagangan Eropa dan Timur Tengah abad ke 15 ( Sumber: Takidah dan Diolah Kembali ) dari buku yang diterbitkan oleh Luca Pacioli ternyata terdapat beberapa kemiripan antara konsep Akuntansi yang dilakukan di berbagai khalifah Islam dengan konsep pencatatan yang ada di dalam buku tersebut.

Berikut beberapa istilah yang ada dan hampir sama dari buku tersebut. Diantaranya adalah konsep double entry tersebut yang juga dipergunakan di dalam Akuntansi kekhalifahan Islam serta juga istilah zornal, atau biasa disebut dengan journal dalam konsep double entry yang disampaikan oleh Pacioli.Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya terdapat pengaruh dari Islam bagi perkembangan Akuntansi itu sendiri.

  1. Dalam sejarah dulu, dimana hanya terdapat dua bangsa besar, yaitu Romawi dan Persia Akuntansi telah banyak dipergunakan sebagai sarana untuk melakukan perhitungan perdagangan. Untuk mengetahui adanya keuntungan atau kerugian.
  2. Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 282 terdapat perintah kewajiban untuk melakukan pencatatan atas transaks yang bersifat tidak tunai. Serta juga untuk melakukan pembayaran zakat. Adanya kewajiban untuk melakukan pencatatan atas transaks yang non tunai membuat umat Islam semakin peduli akan kegiatan pencatatan serta juga mendorong berkembangnya kemitraan di kalangan umat Islam.
  3. Selain itu juga adanya perintah untuk kewajiban membayar zakat yang memberikan kesadaran bagi pemerintahan kekhalifahan Islam untuk membuat laporan keuangan dari Baitul maal secara periodik

Sejarah Perkembangan Akuntansi Di Masa Pemerintahan Islam Diawali dengan diwajibkannya kegiatan pencatatan atas transaksi yang tidak tunai seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 282. Yang kemudian dikuti dengan perintah kewajiban pembayaran zakat, maka dimulai praktik Akuntansi di dalam pemerintahan Islam.

  • Dengan adanya kewajiban untuk melakukan pembayaran zakat maka para sahabat Nabi merekomendasikan adanya kegiatan pencatatan yang resmi untuk pertanggungjawaban dan juga peneriman dari uang negara.
  • Pada masa Khalifah Umar Bin Khattab didirikan Lembaga yang Bernama Diwan untuk mencatat penerimaan negara.

Kemudian di masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz juga dikembangkan system laporan keuangan di pemerintahan dengan adanya kewajiban bagi Lembaga pemerntahan untuk mengeluarkan bukti pada saat mereka melakukan kebijakan pengeluaran uang. Sementara Khalifah Al Waleed Bin Abdul Malik telah menyampaikan catatan dan juga register yang sudah terjilid dan juga tidak dipisahkan dari transaksi sebelumnya.

Pada masa pemerintahan di bawah kekhalifahan Abbasiyah system Akuntansi di pemerintahan Islam saat itu mencapai titik yang tertinggi, dimana Akuntansi dibagi ke dalam beberapa jenis dan juga klasifikasi. Akuntansi dalam jaman ini diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis. Yaitu Akuntansi peternakan, Akuntansi pertanian, Akuntansi bendahara, Akuntansi konstruksi, Akuntansi mata uang dan juga pemeriksaan Akuntansi atau auditing.

Dari sejarah berkembangnya Akuntansi dalam Islam maka dapat dilihat alasan mangapa Akuntansi berkembang dalam Islam semata-mata karena menjalankan perintah Allah SubhanahuwataAAla, adanya kewajiban menjalankan pembayaran zakat serta untuk kepentingan pertanggungjawaban.

  1. Hal ini berbeda dengan pandangan Paccioli yang mengembannmgkan konsep double entry system semata-mata karena kepentingan bisnis.
  2. Pengembangan Konsep Akuntansi Syariah Pengembangan konsep Akuntansi Syariah di Indonesia dikembangkan berdasarkan atas 3 pendekatan.
  3. Yang pertama adalah pendekatan dengan basis Akuntansi yang sekarang ada dan berlaku.

Yang kedua adalah pengembangan berdasarkan basis dari ajaran Islam. Dan yang terakhir yang banyak dikenal dan dilakukan saat ini berdasarkan basis gabungan dari kedua pendekatan tersebut. Pendekatan pertama adalah pendekatan dengan mempergunakan jalur Akuntansi kontemporer modern sekarang ini.

Pendekatan ini diambil oleh AAOIFI, suatu organisasi Akuntansi dan auditing internasional Islam yang bermarlas di Bahrain. Dari pendekatan ini diambil konsep Akuntansi konvensional modern, dmana konsep yang sesuai dengan Syariah Islam dan bisa diaplikasikan dalam organisasi bisnis Islam dipergunakan.

Sedang konsep yang tidak sesuai dengan Syariah Islam dikeluarkan dan tidak dipakai. Tujuan dari konsep Akuntansi Syariah berdasarkan basis Akuntansi modern ini adalah dalam rangka pengambilan keputusan dan kelangsungan Lembaga bisnis Islam. Sistem ini banyak dipergunakan oleh berbagai bank syariiah yang beroperasi di dunia internasional.

Hal ini dianggap lebih mudah karena Akuntansi syariah bisa langsung diimplementasikan di dalam berbagai Lembaga bisnis syariah. Meskipun begitu pandangan ini tidak disetujui oleh Sebagian kalangan yang berpandangan bahwa Akuntansi syariah harus disesuaikan dengan prinsip Islam sesuai dengan wahyu yang ada dalam Al Qur’an.

Pandangan akan hal ini Ini disampaikan oleh T Gambling dan RAA Karim dalam buku mereka accounting and ethics in Islam yang diterbitkan oleh Mansel Publishing Limited London di tahun 1991. Konsep ini dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam. Selain pendekatan ini, juga muncul pendekatan lain yang berbeda dengan pendekatan induktif.

  1. Pendekatan ini dinamakan dengan pendekatan deduktif.
  2. Pendekatan ini menekankan pada tujuan dari Akuntansi agar dilaksanakan sesuai dengan syariah Islam.
  3. Pelopor dari pendekatan ini di Indonesia adalah Prof Iwan Triyuwono dari Universitas Brawijaya Malang serta Prof Ahyar Adnan dari UII Jogja.
  4. Mereka yang berplir bahwa Akuntansi syariah bisa berkembang dari pemikiran ini menyatakan bahwa konsep ini merupakan konsep yang paling baik dalam rangka pengembangan Akuntansi syariah, karena bisa mengurangi adanya pemikiran sekuler di dalam Akuntansi yang memurut mereka banyak ada di dalam Akuntansi konvensional.

Salah satu yang mendukung konsep ini juga salah satunya adalah Dr Ari Kamayanti dari Universitas Brawijaya Malang. Meskipun itu juga terdapar pandangan lain yang tidak setuju dengan pendekatan ini, karena dianggap tidak praktis. Selain kedua pendekatan ini juga terdapar pendekatan lain, yaitu yang dinamakan dengan pendekatan hybrid, atau gabungan.

  1. Pendekatan hybrid ini banyak diterapkan di dalam perbankan konvensional dan juga perusahaan konvensional.
  2. Pendekatan konvensional ini salah satunya dilakukan oleh Lembaga GRI dan juga ACCA dalam dunia Akuntansi konvensional.
  3. Sebagai contoh yang dlalkukan oleh GRI adalah melakukan pembuatan standar laporan perusahaan dengan mengedepankan konsep 3 dasar yang utama, yaitu konsep ekonomi, konsep social dan juga konsep lingkungan.

Dari konsep tersebut kemudian Akuntansi syariah juga berkembang, dimana caranya adalah dengan melakukan apresiasi atas apa yang telah dibuat di barat ( baca: Akuntansi konvensional ) dan kemudian konsep itu dilakukan untuk dipergunakan di dalam akuntansi syariah.2 akademisi Akuntansi yang mendukung konsep ini adalah Rizal Yaya dari UII Indonesia dan Prof Shahuul Hameed dari Malaysia, dalam Penelitian mereka yang berjudul ” “Socio-Regius Setting and Its Impact on Accounting Academicians”

  • Gambar: Prof Shahuul Hameed, Pendukung konsep hybrid di Akuntansi syariah
  • Referensi:
  • AAOIFI, 2003, ” Accounting and Auditing and Governance Standards For Islamic Fimancial Institutions”, Manama, AAOIFI
  • Yaya, Rizal, et al ( 2014),” Akuntansi Perbankan Syariah, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta

Image Sources: Google Images : Sejarah Perkembangan dan Pemikiran Akuntansi Syariah

Apa nama bank syariah pertama di Indonesia?

Bank Muamalat Indonesia sebagai bank syariah pertama dan menjadi pioneer bagi bank syariah lainnya, dan telah lebih dahulu menerapkan sistem ini di tengah menjamurnya bank – bank konvensional.

Bagaimana sejarah lembaga keuangan syariah?

PERKEMBANGAN LEMBAGA PERBANKAN DAN KEUANGAN SYARIAH DI INDONESIA Oleh ABDUL RASYID (Juli 2018) Lmbaga perbankan dan keuangan syariah saat ini juga berkembang dengan pesat. Perkembangan lembaga perbankan dan keuangan di Indonesia diawali dengan berdirinya Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 1991 dan beroperasi secara efektif pada tahun 1992.

Indonesia terbilang terlambat dalam mengembangkan lembaga keuangan syariah dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang telah mendirikan Bank Islam semenjak tahun 1983. Namun, hal ini bukan tanpa ada sebab. Keinginan untuk mendirikan lembaga perbankan dan keuangan syariah di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lama, terutama pada pada tahun 1970-an, ketika didirikannya Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975 oleh negara-negara Organisasi Konferensi Islam, termasuk Indonesia di dalamnya.

Berdirinya IDB ini, telah memotivasi banyak negara Islam untuk mendirikan lembaga keuangan syariah. Sejak itu, bank-bank syariah bermunculan di Mesir, Sudan, negara-negara teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Bangladesh dan Turki (Antionio, 2001) Pada saat itu, bank syariah belum bisa didirikan di Indonesia, karena kondisi politik yang tidak kondusif.

Pendirian bank syariah diidentikan dengan masalah ideologi dan dikaitkan dengan konsep negara Islam sehingga dianggap dapat mengganggu stabilitas keamanan negara. Di samping itu, bank syariah berdasarkan prinsip bagi hasil, juga belum diatur dalam Undang Undang Pokok Perbankan No.14 Tahun 1967 (Yustiady, 2003).

Berhubung adanya perubahan kondisi sosial, ekonomi dan politik, ide pendirian bank Islam dimunculkan kembali pada awal tahun 1990, yang diinisiasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ide ini didukung oleh Ikatan Cendikiawan Ulama Indonesia (ICMI), sekolompok pengusaha Muslim dan Pemerintah.

Presiden Soeharto memberikan dukungan secara politik dan dana bagi pendirian bank syariah tersebut. Respon positif Soeharto terhadap pendirian bank Islam di Indonesia berkaitan dengan politik akomodasi yang dijalankan oleh pemerintah orde baru terhadap umat Islam dan juga ketertarikannya terhapat sistem bagi hasil yang akan diterapkan dalam bank Islam (Muslim Kara, 2005).

Berdasarkan dukungan tersebut akhirnya Bank Muamalat Indonesia (BMI), bank syariah pertama di Indonesia, pada tahun 1991 didirikan. Kelahiran lembaga keuangan syariah di Indonesia ditandai secara resmi dengan pendirian Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada tahun 1991.

Berdirinya BMI, dan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat atas pelayanan keuangan berbasiskan syariah, memotivasi lahirnya lembaga keuangan syariah lainnya. Sebagai contoh, pada awal tahun 1994, berdiri perusahaan asuransi syariah yang dinamakan dengan Syarikat Takaful Indonesia. Perusahaan ini didirikan oleh ICMI, Abdi bangsa Foundation, Bank Muamalat Indonesia, Asuransi Jiwa Tugu Mandiro dan beberapa pengusaha Muslim serta Pemerintah melalui Kementerian Keuangan.

Pada 1997, PT Danareksa Investment (DIM) meluncurkan reksa dana syariah yang merupakan produk pasar modal syariah pertama di Indonesia. Pada tahun 1998, dual system bank diberlakukan dengan diamandemennya UU Perbankan No.7 Tahun 1992 dengan UU No.10 Tahun 1998.

  • Sistem perbankan ini membolehkan bank-bank konvensional beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan membuka Unit Usaha Syariah (UUS) sehingga mempercepat pertumbuhan perbankan syariah (Masterpaln Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia, 2015).
  • Di samping itu, pada tahun 2000, Bursa Efek Jakarta, bersama dengan PT.
You might be interested:  Wajib Pajak Yang Menggunakan Pencatatan Akan Menghasilkan Laporan Berupa?

Danareksa Investment Management (DIM), meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) yang terdiri atas saham-saham blue chip yang memiliki kepatuhan syariah. Penerbitan Sukuk Korporasi adalah sebuah prestasi besar lainnya dalam industri keuangan syariah di Indonesia.

  • Hal ini terjadi ketika Indosat (perusahaan telekomunikasi) menerbitkan Sukuk pertama (berdasarkan Mudharabah ) pada tahun 2002.
  • Langkah ini diikuti oleh korporasi lainnya, yaitu Matahari Putra Prima, yang menerbitkan Sukuk Ijarah pada tahun 2004.
  • Ontribusi penting pemerintah terwujud pada tahun 2008 ketika Dewan Perwakilan Rakyat menerbitkan Undang-Undang Sukuk Negara No.19 Tahun 2008 dan Undang-Undang Perbankan Syariah No.21 Tahun 2008.

Sukuk Negara pertama diterbitkan pada tahun 2008 yang diikuti oleh Sukuk Ritel pertama di dunia pada tahun 2009 (Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia, 2015) Menurut data statistik Perbankan Syariah yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa keuangan (OJK) pada April 2018, terdapat 13 Bank Umum Syariah (BUS), 21 Unit Usaha Syariah (UUS) dan 168 BPRS dengan total aset BUS dan UUS sebesar Rp.423.944 Miliar.

  1. Sedangkan jumlah perusahaan asuransi syariah sebanyak 13, perusahaan asuransi UUS sebanyak 50, lembaga pembiayaan syariah sebanyak 7 dan UUS sebanyak 40, Dana Pensiun Syariah sebanyak 1, Lembaga Keuangan Khusus Syariah sebanyak 4, dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah sebanyak 42.
  2. Detail statistik di atas digambarkan dalam tabel di bawah ini.

Statistik Perbankan Syariah OJK, April 2018

BUS/UUS/BPRS Jumlah Bank Jumlah Kantor Total Aset (Miliar Rupiah)
BUS 13 1.822 292.289
UUS 21 348 131.655
BPRS 168 458
Total 202 2628 423.944

Statistik Institusi Keuangan Non-Bank Syariah (IKNB Syariah) OJK, Mei 2018

Keterangan Jumlah Industri Syariah ) Jumlah Perusahaan Unit Usaha Syariah Aset (Miliar Rp) Assets (Billion Rp)
1. Asuransi Syariah 13 50 42,067
a. Asuransi Jiwa Syariah 7 23 34,624
b. Asuransi Umum Syariah 5 25 5,634
c. Reasuransi Syariah 1 2 1,808
2. Lembaga Pembiayaan Syariah 7 40 30,856
a. Perusahaan Pembiayaan Syariah 3 36 28,406
b. Perusahaan Modal Ventura Syariah 4 3 1,340
c. Perusahaan Pembiayaan Infrastruktur Syariah 1 1,111
3, Dana Pensiun 1 1,344
a. DPPK-PPMP
b. DPPK-PPIP
c. DPLK 1 1,344
4. Lembaga Jasa Keuangan Khusus Syariah 4 6 23,804
5. Lembaga Keuangan Mikro Syariah 42 116
JUMLAH 67 96 98,186

Ke depan lembaga perbankan dan keuangan syariah di Indonesia diprediksi akan terus meningkat. Dukungan Pemerintah, dalam hal ini Otoritas Jasa keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) masih terus diharapkan agar perjalanan lembaga keuangan syariah ini ke depan semakin lancar.

Siapa pengguna akuntansi syariah?

Pengguna dan Kebutuhan Informasi Laporan Keuangan Syariah Stakeholder entitas syariah lebih beragam dan lebih banyak dari entitas pada umumnya. Dalam KDPPLKS disebutkan beberapa pihak yang berkepentingan (stakeholder) terhadap laporan keuangan syariah : (09).

Pengguna laporan keuangan meliputi investor sekarang dan investor potensial; pemilik dana qardh; pemilik dana investasi syirkah temporer; pemilik dana titipan; pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah dan wakaf; pengawas syariah; karyawan; pemasok dan mitra usaha lainnya; pelanggan; pemerintah serta lembaga-lembaganya; dan masyarakat.

Mereka menggunakan laporan keuangan untuk memenuhi beberapa kebutuhan informasi yang berbeda. Beberapa kebutuhan ini meliputi: (a) Investor, Investor dan penasehat berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan.

Mereka membutuhkan informasi untuk membenatu menentukan apakah harus membeli, menahan atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan entitas syariah untuk membayar deviden. (b) Pemberi dana qardh, Pemberi dana qardh tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah dana qardh dapat dibayar pada saat jatuh tempo.

(c) P emilik dana syirkah temporer, Pemilik dana syirkah temporer yang berkepentingan akan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan investasi dengan tingkat keuntungan yang bersaing dan aman. (d) Pemilik dana titipan, Pemilik dana titipan tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah dana titipan dapat diambil setiap saat.

  1. E) Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah dan wakaf.
  2. Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah dan wakaf, serta mereka yang berkepentingan akan informasi mengenai sumber dan penyaluran dana tersebut.
  3. F) Pengawas syariah,
  4. Pengawas syariah berkepentingan dengan informasi tentang kepatuhan pengelola entitas syariah akan prinsip syariah.

(g) Karyawan, Karyawan dan kelompok-kelompok yang mewakili mereka tertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas entitas syariah. Mereka juga tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan entitas syariah dalam memberikan balas jasa, manfaat pensiun dan kesempatan kerja.

H) Pemasok dan mitra usaha lainnya, Pemasok dan mitra usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang terutang akan dibayar pada saat jatuh tempo. Mitra usaha berkepentingan pada entitas syariah dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pinjaman qardh kecuali kalau sebagai pelanggan utama mereka bergantung pada kelangsungan hidup entitas syariah.

(i) Pelanggan. Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup entitas syariah, terutama kalu mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau bergantung pada, entitas syariah. (j) Pemerintah, Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada di bawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumber daya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas-aktivitas entitas syariah.

Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas entitas syariah, menetapkan kebijakan pajak dan sebagai dasar untuk menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya. (k) Masyarakat, Entitas syariah mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara.Misalnya, entitas syariah dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang diperkerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik.

Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran entitas syariah serta rangkaian aktivitasnya. : Pengguna dan Kebutuhan Informasi Laporan Keuangan Syariah

Siapa yang pertama kali menemukan akuntansi?

SEJARAH AKUNTANSI SEJARAH AKUNTANSI Sejarah ilmu akuntansi tidak secara spesifik didokumentasikan dalam buku-buku akuntansi, termasuk buku pengantar akuntansi (lihat misalnya Suwardjono, 2014; Weygandt, Kimmel dan Kieso, 2016). Namun demikian, dalam Sodikin dan Riyono (2016) dibahas secara singkat mengenai asal mula sistem pencatatan akuntansi ( bookkeeping ) dan prinsip debit kredit yang diperkenalkan oleh Luca Pacioli.

Pacioli, yang lahir pada tahun 1445 di Tuscany, Italia seringkali disebut sebagai Bapak Akuntansi. Ia sesungguhnya adalah seorang ahli matematika, yang selain ilmu matematika juga menguasai bidang ilmu lainnya seperti kedokteran, hukum, agama, bisnis, bahasa dan seni. Pacioli disebut sebagai Bapak Akuntansi karena jasanya memperkenalkan konsep awal akuntansi, yaitu bookkeeping pada tahun 1494 pada saat bukunya yang berjudul “Review of Arithmetic, Geometry, Ratio and Proportion” pertama kali terbit.

Di dalam bukunya, Pacioli mengajarkan tentang cikal bakal dari sistem pencatatan berpasangan atau double-entry system yang sampai saat ini masih dipelajari dalam ilmu akuntansi, yaitu bookkeeping. Selain itu Pacioli juga mengajarkan tentang sistem debit dan kredit, dimana jumlah/nominal debit yang dicatat di sebelah kiri harus sama jumlah/nominalnya dengan yang dicatat di sebelah kredit/kanan (Alexander, 2002).

Alexander, J.R.2002. History of Accounting. New York: Association of Chartered Accountants in the United States. Suwardjono.2014. Akuntansi Pengantar Bagian 1: Proses Penciptaan Data dan Pendekatan Sistem, edisi ketiga. Yogyakarta: BPFE. Weygandt, JJ., Kimmel, P.D., dan Kieso, D.E.2016. Accounting Principle, 12 th Ed, New Jersey: John Willey & Sons Inc.

: SEJARAH AKUNTANSI