Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah?

Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah
Perbedaan Asesmen Nasional dengan Mode Daring dengan Moda Semi Daring – Ada beberapa perbedaan pelaksanaan asesmen nasional moda jaring dan moda semi daring. Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Perbedaan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Dalam hal sinkronisasi data, pada moda daring tidak perlu mengunduh soal sebelum asesmen berlangsung sementara pada moda semi daring harus mengunduh soal.
  2. Dalam hal kestabilan koneksi internet, pada moda daring kecepatan internet harus stabil sementara pada moda semi daring tidak. Pada moda semi daring internet hanya diperlukan ketika proktor hendak mengunggah hasil asesmen. Pada moda semi daring, komputer peserta asesmen terhubung ke komputer server dengan kabel LAN, bukan internet.
  3. Dalam hal pengunggahan hasil asesmen, pada moda daring proktor tidak perlu mengunggah hasil asesmen sementara pada moda semi daring proktor harus mengunggahnya. Pada moda daring jawaban peserta asesmen otomatis terunggah ke server pusat tanpa perlu campur tangan proktor. Aliran data hasil asesmen pada moda daring adalah data dari peserta asesmen – server pusat. Aliran data hasil asesmen pada moda semi daring adalah: data dari peserta asesmen – proktor – server pusat.

Yang harus diperhatikan pada semua moda adalah setiap satuan pendidikan telah memastikan hasil Asesmen Nasional dari semua sampel itu lengkap dan mengunggahnya ke server pusat. Demikianlah informasi mengenai moda pelaksanaan Asesmen Nasional ya sahabat pendidik.

Apa saja yang akan digunakan dalam asesmen nasional?

#SahabatSekolahDasar, ada yang masih penasaran Apa itu Asesmen Nasional? Asesmen Nasional adalah program evaluasi yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan.

  • Terdapat 3 instrumen yang digunakan dalam Asesmen Nasional, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.
  • Apakah Asesmen Nasional Menentukan Kelulusan Peserta Didik? dan siapa saja yang harus mengikuti Asesmen Nasional? #SahabatSekolahDasar dapat mengetahui jawabannya pada Frequently Asked Questions (FAQ) Asesmen Nasional berikut ini Mengapa perlu ada Asesmen Nasional? Asesmen nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid Instrumen apa saja yang akan digunakan dalam Asesmen Nasional? Asesmen Nasional terdiri dari (3) instrumen, yaitu :

Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) murid Survei karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan dan kebiasaan yang mencerminkan karakter murid; dan Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah

Kompetensi apa yang diukur pada AKM dalam AN? Kompetensi yang diukur pada AKM dalam AN adalah literasi dan numerasi. Keduanya dipilih karena merupakan kemampuan atau kompetensi yang mendasar dan diperlukan oleh semua murid, terlepas dari profesi dan cita-citanya di masa depan.

Literasi dan numerasi juga merupakan kompetensi yang perlu dikembangkan secara lintas mata pelajaran. Apakah Asesmen Nasional menentukan kelulusan peserta didik? Tidak, Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan. Asesmen Nasional diberikan kepada murid bukan di akhir jenjang satuan pendidikan. Apakah Asesmen Nasional menggantikan UN? Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual Siapa saja yang harus mengikuti Asesmen Nasional? Peserta Asesmen Nasional adalah seluruh satuan pendidikan terdiri atas : Kepala sekolah, seluruh guru, dan murid yang dipilih dengan stratifikasi sosial ekonomi oleh Kemdikbud.

Untuk jenjang SD/MI, siswa yang mengikuti AN adalah siswa kelas V (maksimal 30 murid) Bagaimana bentuk soal Asesmen Nasional? Bentuk soal Asesmen Nasional terdiri dari :

Pilihan ganda; Pilihan ganda kompleks; Menjodohkan; Isian Singkat; dan Uraian

Infografis tentang tanya jawab asesmen nasional di atas dapat dilihat di bawah ini Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah

Bagaimana pelaksanaan asesmen nasional?

#SahabatSekolahDasar, Asesmen Nasional merupakan program evaluasi yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan. Asesmen Nasional dilaksanakan dengan 3 (tiga) instrumen yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM Literasi, Numerasi), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar,

Asesmen nasional berbasis apa?

Sekolah Monday, 22 Aug 2022, 21:12 WIB Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) dilaksanakan akhir Agustus hingga November 2022. Ilustrasi. Foto : republika Kampus— Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) akan menggelar Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) pada akhir Agustus hingga November 2022.

ANBK adalah program untuk penilaian mutu sekolah, madrasah, dan program kesetaraan di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Peserta didik SD, SMP, sampai SMA kini tak lagi menjalani Ujian Nasional (UN). Sebagai gantinya Kemendikbudristek memberlakukan Asesmen Nasional (AN). Asesmen Nasional tidak hanya dirancang sebagai pengganti Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional, tetapi juga sebagai penanda perubahan paradigma tentang evaluasi pendidikan.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim beberapa waktu lalu mengatakan perubahan mendasar pada Asesmen Nasional adalah tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil.

Apa itu Asesmen nasional dalam pembelajaran?

Asesmen Nasional merupakan program evaluasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dalam meningkatkan mutu pendidikan yang mengacu pada input, proses dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan.

Apa itu pelaksanaan asesmen?

Pelaksanaan Asesmen Pembelajaran – Asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar, perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik.

Pelaksanaan an itu apa?

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan pelaksanaan Asesmen Nasional (AN) diundur dari jadwal semula pada Maret – April 2021 menjadi September – Oktober 2021. “Kemendikbud memutuskan menunda pelaksanaan AN dengan target jadwal September hingga Oktober 2021, mengingat pandemi Covid-19 yang masih berlangsung dan cenderung meningkat dan juga aspirasi masyarakat untuk belajar dari rumah,” ujar Nadiem dalam rapat kerja dengan Komisi X DPR, dikutip dari Antara, Rabu (20/1/2021).

  • Penundaan tersebut bertujuan agar persiapan pelaksanaan AN lebih optimal dan penerapan protokol kesehatan dilakukan secara ketat.
  • AN hanya diikuti sebagian atau sampel siswa yang dipilih secara acak dari kelas 5,8, dan 11 di setiap sekolah atau madrasah.
  • Dia mengatakan AN 2021digunakan sebagai baseline, tanpa konsekuensi pada guru, sekolah, dan pemerintah daerah.

Pelaksanaan AN dilakukan di semua sekolah dan evaluasi kinerja tidak hanya berdasarkan skor rerata tetapi juga perubahan skor atau tren dari satu tahun ke tahun berikutnya. AN diselenggarakan setiap tahun dan dilaporkan pada setiap sekolah/madrasah atau pemda.

  • Hasil UN tersebut, lanjut Nadiem, tidak menambah beban siswa kelas 6,9, dan 12 dan tidak dapat digunakan untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
  • Hasil AN dapat ditindaklanjuti oleh sekolah dan AN, tetapi bukan merupakan evaluasi individu siswa.
  • Pelaksanaan AN merupakan pemetaan dan potret kondisi pendidikan yang komprehensif ada saat ini.

Pelaksanaan AN terdiri dari asesmen kompetensi minimum, survei karakter, dan survei lingkungan belajar. Nadiem mengatakan survei karakter memang sulit diukur secara mendalam dalam asesmen berskala besar, tetapi survei karakter dapat memberi informasi tentang sikap, nilai dan kebiasaan yang mencerminkan profil Pancasila.

Berapa jenis asesmen?

JENIS, TEKNIK, DAN CONTOH INSTRUMEN ASESMEN PADA KURIKULUM MERDEKA Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Pada tulisan sebelumnya kita sudah membahas cara menyusun modul ajar pada kurikulum merdeka. Maka untuk tulisan ini, penulis membahas tentang asesmen pada kurikulum merdeka. Asesmen ini merupakan hal sangat penting karena kegiatan asesmen ini tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran.

  • Namun harus diingat oleh para guru bahwa melaksanakan asesmen bukanlah sekedar untuk mendapatkan skor ataupun nilai yang nanti digunakan dalam mengisi rapor.
  • Jadi jauh dari hal tersebut asesmen berfungsi untuk menjadi indikator dalam menentukan apakah suatu tujuan pembelajaran sudah tercapai atau belum.

Kalau sudah tindak lanjutnya apa dan kalau belum apa lagi yang harus dilakukan oleh siswa sampai mencapai tujuan pembelajaran tersebut.A. Pendahuluan Asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar, perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik.

  1. Jenis asesmen sesuai fungsinya mencakup: asesmen sebagai proses pembelajaran ( assessment as Learning ), asesmen untuk proses pembelajaran ( assessment for Learning ), dan asesmen pada akhir proses pembelajaran ( assessment of learning ).
  2. Selama ini pelaksanaan asesmen cenderung berfokus pada asesmen sumatif yang dijadikan acuan untuk mengisi laporan hasil belajar.

Hasil asesmen belum dimanfaatkan sebagai umpan balik untuk perbaikan pembelajaran. Pada pembelajaran paradigma baru, pendidik diharapkan lebih berfokus pada asesmen formatif dibandingkan sumatif dan menggunakan hasil asesmen formatif untuk perbaikan proses pembelajaran yangnberkelanjutan, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. Pada kurikulum ini guru diharapkan memberikan proporsi lebih banyak pada pelaksanaan asesmen formatif daripada menitikberatkan orientasi pada asesmen sumatif. Harapannya, ini akan mendukung proses penanaman kesadaran bahwa proses lebih penting daripada sebatas hasil akhir. Ada sejumlah perbedaan utama antara penilaian formatif dan penilaian sumatif. Tabel di bawah ini menyajikan beberapa perbedaan yang utama (Regier, 2012) B. Paradigma Asesmen Perencanaan dan pelaksanaan asesmen formatif dan sumatif memperhatikan beberapa hal termasuk salah satunya adalah p enerapan pola pikir bertumbuh ( Growth Mindset ). Penerapan pola pikir bertumbuh dalam asesmen diharapkan membangun kesadaran bahwa proses pencapaian tujuan pembelajaran, lebih penting daripada sebatas hasil akhir.

pendidik diharapkan mampu menerapkan ide penerapan pola piker bertumbuh, sebagaimana uraian di bawah ini: 1. Kesalahan dalam belajar itu wajar. Jika diterima, dikomunikasikan, dan dicarikan jalan keluar, maka kesalahan akan menstimulasi perkembangan otak peserta didik.2. Belajar bukan tentang kecepatan, tetapi tentang pemahaman, penalaran, penerapan, serta kemampuan menilai dan berkarya secara mendalam.3.

Ekspektasi pendidik yang positif tentang kemampuan peserta didik akan sangat mempengaruhi performa peserta didik.4. Setiap peserta didik unik, memiliki peta jalan belajar yang berbeda, dan tidak perlu dibandingkan dengan teman-temannya.5. Pengondisian lingkungan belajar (fisik dan psikis) di sekolah dan rumah akan mempengaruhi pencapaian hasil belajar.6.

Melatih dan membiasakan peserta didik untuk melakukan asesmen diri ( self assessment ), asesmen antarteman ( peer assessment ), refleksi diri, dan pemberian umpan balik antarteman ( peer feedback ).7. Apresiasi/pesan/umpan balik yang tepat berpengaruh pada motivasi belajar peserta didik. Pemberian umpan balik dilakukan dengan mendeskripsikan usaha terbaik untuk menstimulasi pola pikir bertumbuh, memotivasi peserta didik, dan membangun kesadaran pemangku kepentingan bahwa proses pencapaian tujuan pembelajaran lebih diutamakan dibandingkan dengan hasil akhir.C.

Jenis Asesmen Dalam merancang modul ajar rencana asesmen perlu disertakan dalam perencanaan pembelajaran. Dalam modul ajar, rencana asesmen ini dilengkapi dengan instrumen serta cara melakukan penilaiannya. Dalam dunia pedagogi dan asesmen, terdapat banyak teori dan pendekatan asesmen.

Bagian ini menjelaskan konsep asesmen yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka. Sebagaimana dinyatakan dalam Prinsip Pembelajaran dan Asesmen, asesmen adalah aktivitas yang menjadi kesatuan dalam proses pembelajaran. Asesmen dilakukan untuk mencari bukti ataupun dasar pertimbangan tentang ketercapaian tujuan pembelajaran.

Maka dari itu, pendidik dianjurkan untuk melakukan asesmen-asesmen berikut ini: 1. Asesmen formatif, yaitu asesmen yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi pendidik dan peserta didik untuk memperbaiki proses belajar.a. Asesmen di awal pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui kesiapan peserta didik untuk mempelajari materi ajar dan mencapai tujuan pembelajaran yang direncanakan.

Asesmen ini termasuk dalam kategori asesmen formatif karena ditujukan untuk kebutuhan guru dalam merancang pembelajaran, tidak untuk keperluan penilaian hasil belajar peserta didik yang dilaporkan dalam rapor.b. Asesmen di dalam proses pembelajaran yang dilakukan selama proses pembelajaran untuk mengetahui perkembangan peserta didik dan sekaligus pemberian umpan balik yang cepat.

Biasanya asesmen ini dilakukan sepanjang atau di tengah kegiatan/langkah pembelajaran, dan dapat juga dilakukan di akhir langkah pembelajaran. Asesmen ini juga termasuk dalam kategori asesmen formatif.2. Asesmen sumatif, yaitu asesmen yang dilakukan untuk memastikan ketercapaian keseluruhan tujuan pembelajaran.

  1. Asesmen ini dilakukan pada akhir proses pembelajaran atau dapat juga dilakukan sekaligus untuk dua atau lebih tujuan pembelajaran, sesuai dengan pertimbangan pendidik dan kebijakan satuan pendidikan.
  2. Berbeda dengan asesmen formatif, asesmen sumatif menjadi bagian dari perhitungan penilaian di akhir semester, akhir tahun ajaran, dan/atau akhir jenjang.

Kedua jenis asesmen ini tidak harus digunakan dalam suatu rencana pelaksanaan pembelajaran atau modul ajar, tergantung pada cakupan tujuan pembelajaran. Pendidik adalah sosok yang paling memahami kemajuan belajar peserta didik sehingga pendidik perlu memiliki kompetensi dan keleluasaan untuk melakukan asesmen agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik masingmasing. Pendidik perlu memahami prinsip-prinsip asesmen. Prinsip tersebut salah satu prinsipnya mendorong penggunaan berbagai bentuk asesmen, bukan hanya tes tertulis, agar pembelajaran bisa lebih terfokus pada kegiatan yang bermakna serta informasi atau umpan balik dari asesmen tentang kemampuan peserta didik juga menjadi lebih kaya dan bermanfaat dalam proses perancangan pembelajaran berikutnya.

Untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran dan asesmen sesuai arah kebijakan Kurikulum Merdeka, berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut tentang asesmen formatif dan asesmen sumatif sebagai acuan.D. Asesmen Formatif Penilaian atau asesmen formatif bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran.

Asesmen ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar peserta didik, hambatan atau kesulitan yang mereka hadapi, dan juga untuk mendapatkan informasi perkembangan peserta didik. Penilaian formatif dilaksanakan selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

  • Dalam satu kali tatap muka, penilaian formatif dapat dilakukan lebih dari satu kali.
  • Sebagai contoh, pada awal pembelajaran dengan menggunakan teknik respon bersama ( choral response) pendidik mengecek penguasaan peserta didik terhadap pengetahuan yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
  • Di tengah pelajaran pendidik mengecek pemahaman peserta didik terhadap apa yang sedang dipelajarinya hingga pertengahan jam pelajaran itu dengan teknik bertanya.

Selanjutnya, di akhir pelajaran pendidik menggunakan exit slips untuk mengecek penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang dipelajari hingga akhir pelajaran saat itu. Berdasarkan data dari hasil penilaian formatif pendidik dapat mengetahui bagian mana dari materi/kompetensi yang telah dikuasai dan apakah masih ada bagian yang belum dikuasai dengan baik.

Selanjutnya pendidik langsung memutuskan tindakan yang perlu dilakukan, misalnya mengulang pembelajaran pada bagian materi yang belum dikuasai peserta didik dengan baik, memperbaiki pembelajaran yang sedang berlangsung dan/atau merancang kegiatan pembelajaran berikutnya berdasarkan hasil penilaian formatif tersebut.

Dengan demikian penilaian formatif menjadikan pembelajaran lebih berkualitas dan lebih menjamin tercapainya tujuan pembelajaran bagi setiap peserta didik. Agar penilaian formatif dan pembelajaran menjadi suatu kesatuan, perencanaan penilaian formatif dibuat menyatu dengan perencanaan pembelajaran dalam modul ajar.

Informasi tersebut merupakan umpan balik bagi peserta didik dan juga pendidik. Bagi peserta didik, asesmen formatif berguna untuk berefleksi, dengan memonitor kemajuan belajarnya, tantangan yang dialaminya, serta langkahlangkah yang perlu ia lakukan untuk meningkatkan terus capaiannya. Hal ini merupakan proses belajar yang penting untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Bagi pendidik, asesmen formatif berguna untuk merefleksikan strategi pembelajaran yang digunakannya, serta untuk meningkatkan efektivitasnya dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran. Asesmen ini juga memberikan informasi tentang kebutuhan belajar individu peserta didik yang diajarnya.

Agar asesmen memberikan manfaat tersebut kepada peserta didik dan pendidik, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan pendidik dalam merancang asesmen formatif, antara lain sebagai berikut: · Asesmen formatif tidak berisiko tinggi (high stake). Asesmen formatif dirancang untuk tujuan pembelajaran dan tidak seharusnya digunakan untuk menentukan nilai rapor, keputusan kenaikan kelas, kelulusan, atau keputusan-keputusan penting lainnya.

· Asesmen formatif dapat menggunakan berbagai teknik dan/atau instrumen. Suatu asesmen dikategorikan sebagai asesmen formatif apabila tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas proses belajar. · Asesmen formatif dilaksanakan bersamaan dengan proses pembelajaran yang sedang berlangsung sehingga asesmen formatif dan pembelajaran menjadi suatu kesatuan.

  • · Asesmen formatif dapat menggunakan metode yang sederhana, sehingga umpan balik hasil asesmen tersebut dapat diperoleh dengan cepat.
  • · Asesmen formatif yang dilakukan di awal pembelajaran akan memberikan informasi kepada pendidik tentang kesiapan belajar peserta didik.
  • Berdasarkan asesmen ini, pendidik perlu menyesuaikan/memodifikasi rencana pelaksanaan pembelajarannya dan/ atau membuat diferensiasi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
You might be interested:  Apa Yang Anda Ketahui Tentang Laporan Perubahan Modal?

· Instrumen asesmen yang digunakan dapat memberikan informasi tentang kekuatan, hal-hal yang masih perlu ditingkatkan oleh peserta didik dan mengungkapkan cara untuk meningkatkan kualitas tulisan, karya atau performa yang diberi umpan balik. Dengan demikian, hasil asesmen tidak sekadar sebuah angka Asesmen formatif dapat dilakukan di awal pembelajaran dan selama proses pembelajaran.

  • Maka untuk di awal pembelajaran maka dapat dilakukan melalui asesmen diagnostik baik kognitif maupun non kognitf.
  • Berikut penjelasan mengenai asesmen diagnostik ini.1.
  • Asesmen Diagnotik Asesmen diagnostik merupakan penilaian yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan peserta didik dalam menguasai materi atau kompetensi tertentu serta penyebabnya.

Hasil asesmen diagnostik dapat digunakan sebagai dasar untuk memberikan tindak lanjut berupa perlakuan (intervensi) yang tepat dan sesuai dengan kelemahan peserta didik.a. Tujuan Asesmen Diagnostik Secara umum, sesuai namanya asesmen diagnostik bertujuan untuk mendiagnosis kemampuan dasar siswa dan mengetahui kondisi awal siswa. b. Asesmen Diagnostik Non-Kognitif

  • Asesmen diagnostik non-kognitif di awal pembelajaran dilakukan untuk menggali hal-hal seperti berikut:
  • · Kesejahteraan psikologis dan sosial emosi sisiwa
  • · Aktivitas siswa selama belajar di rumah
  • · Kondisi keluarga dan pergaulan siswa
  • · Gaya belajar, karakter, serta minat siswa
  • Tahapan melaksanakan asesmen diagnostik non-kognitif adalah:
  • 1) Persiapan
  • Contoh kegiatan persiapan;
  • a) Siapkan alat bantu berupa gambar-gambar yang mewakili emosi
  • b) Buat daftar pertanyaan kunci mengenai aktivitas siswa
  • 2) Pelaksanaan
  • Contoh kegiatan pelaksanaan:
  • Meminta siswa mengekspresikan perasaannya selama belajar di rumah serta menjelaskan aktivitasnya melalui bercerita, menulis, atau menggambar.
  • Strategi pelaksanaannya dapat juga melalui tanya jawab dengan cara sebagai berikut:
  • a) Pastikan pertanyaan jelas dan mudah dipahami
  • b) Menyertakan acuan atau stimulus informasi yang dapat membantu siswa menemukan jawabannya
  • c) Memberikan waktu berpikir pada siswa sebelum menjawab pertanyaan
  1. 1) Tindak Lanjut
  2. a) Identifikasi siswa dengan ekspresi emosi negatif dan ajak berdiskusi empat mata
  3. b) Menentukan tindak lanjut dan mengomunikasikan dengan siswa serta orang tua bila diperlukan
  4. c) Ulangi pelaksanaan asesmen non-kognitif pada awal pembelajaran
  5. b. Asesmen Diagnostik Kognitif
  6. Asesmen Diagnosis Kognitif adalah asesmen diagnosis yang dapat dilaksanakan secara rutin, pada awal ketika guru akan memperkenalkan sebuah topik pembelajaran baru, pada akhir ketika guru sudah selesai menjelaskan dan membahas sebuah topik, dan waktu yang lain selama semester (setiap dua minggu/ bulan/ triwulan/ semester).

Asesmen diagnostik kognitif bertujuan mendiagnosis kemampuan dasar siswa dalam topik sebuah mata pelajaran. Guru melakukan asesmen diagnosis kognitif untuk menyesuaikan tingkat pembelajaran dengan kemampuan siswa, bukan untuk mengejar target kurikulum.

Seperti Bapak/ Ibu guru ketahui, kemampuan dan keterampilan siswa di dalam sebuah kelas berbeda-beda. Ada yang lebih cepat paham dalam topik tertentu, namun ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami topik tersebut. Seorang siswa yang cepat paham dalam satu topik, belum tentu cepat paham dalam topik lainnya.

Asesmen diagnostik memetakan kemampuan semua siswa di kelas secara cepat, untuk mengetahui siapa saja yang sudah paham, siapa saja yang agak paham, dan siapa saja yang belum paham. Dengan demikian Bapak/ Ibu guru dapat menyesuaikan materi pembelajaran dengan kemampuan siswa.

  • Asesmen diagnostik kognitif dapat dilaksanakan secara rutin yang disebut asesmen diagnostik kognitif berkala, pada awal pembelajaran, akhir setelah guru selesai menjelaskan dan membahas topik, dan waktu lain.
  • Asesmen Diagnostik bisa berupa Asesmen Formatif maupun Asesmen Sumatif.
  • Tahapan melaksanakan asesmen diagnostik kognitif adalah:
  • 1) Persiapan
  • Contoh kegiatan persiapan & pelaksanaan :
  • a) Buat jadwal pelaksanaan asesmen
  • b) Identifikasi materi asesmen berdasarkan penyederhanaan kompetensi dasar yang disediakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
  • c) Susun pertanyaan sederhana yang meliputi:
  • · 2 pertanyaan sesuai kelasnya, dengan topik capaian pembelajaran baru
  • · 6 pertanyaan dengan topik satu kelas di bawah
  • · 2 pertanyaan dengan topik dua kelas di bawah
  • (sesuaikan pertanyaan dengan topik yang menjadi prasyarat untuk bisa mengikuti pembelajaran di jenjang sekarang)
  • 2) Pelaksanaan
  • Berikan asesmen untuk semua siswa di kelas, baik yang belajar tatap muka di sekolah maupun yang belajar di rumah kalau masih ada.
  • 3) Diagnosis dan Tindak Lanjut
  • Contoh kegiatan tindak lanjut:
  • a) Lakukan pengolahan hasil asesmen
  • • Buat penilaian dengan kategori “Paham utuh”, “Paham sebagian”, dan “Tidak paham”
  • • Hitung rata-rata kelas
  • b) Bagi siswa menjadi tiga kelompok:
  • • Siswa dengan nilai rata-rata kelas akan mengikuti pembelajaran dengan ATP sesuai fasenya.
  • • Siswa dengan nilai di bawah rata-rata mengikuti pembelajaran dengan diberikan pendampingan pada kompetensi yang belum terpenuhi.
  • • Siswa dengan nilai di atas rata-rata mengikuti pembelajaran dengan pengayaan
  • c) Lakukan penilaian pembelajaran topik yang sudah diajarkan sebelum memulai topik pembelajaran baru, untuk menyesuaikan pembelajaran sesuai dengan rata-rata kemampuan siswa

d) Ulangi proses diagnosis ini dengan melakukan asesmen formatif (dengan bentuk dan strategi yang variatif), sampai siswa mencapai tingkat kompetensi yang diharapkan. Guru menyesuaikan aktivitas dan materi belajar di kelas dengan peningkatan rata-rata semua murid di kelas.

  1. 1. Teknik Asesmen Formatif
  2. Ada banyak teknik yang dapat digunakan untuk memperoleh (mengelisitasi) informasi/data mengenai kemajuan penguasaan kompetensi peserta didik yang dapat dipakai dalam asemen formatif. McCharty (2017) merekomendasikan siklus penilaian formatif sebagai berikut:
  3. a. Observasi (Pengamatan)

Saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, observasi dapat dilakukan oleh pendidik untuk mengetahui apa yang sudah dan belum dikuasai oleh peserta didik. Pendidik dapat mengetahui apa yang telah dan/atau belum dikuasai oleh peserta didik melalui apa yang dikatakan, dilakukan, dan dihasilkan oleh peserta didik.

  • Terdapat beberapa bentuk instrumen yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk mendapatkan data mengenai kemajuan peserta didik: (a) Catatan Anekdot, (b) Buku Catatan Anekdot, (c) Kartu Catatan Anekdot, dan (d) Label atau Catatan Tempel ( Sticky Notes ).
  • Bentuk instrument untuk teknik observasi dapat juga kita lakukan seperti selama ini pada kurikulum 2013 misalnya dengan menggunakan jurnal pembelajaran baik oleh guru ataupun walikelas/BK.

Selain itu dapat juga menggunakan catatan anekdot dari beberapa contoh bentuk instrument di atas. Catatan anekdot merupakan catatan singkat yang ditulis selama pelajaran di saat para peserta didik sedang bekerja dalam kelompok maupun secara individual, ataupun setelah pelajaran usai.

  • Catatan anekdot memiliki beberapa fitur:
  • 1) Menerangkan tanggal, tempat dan waktu berlangsungnya kejadian, dan siapa observernya.
  • 2) Melukiskan peristiwa yang faktual dan obyektif.
  • 3) Pencatatan dilakukan saat proses belajar mengajar berlangsung atau setelah selesai kegiatan belajar mengajar sebagai hasil refleksi pendidik.
  • 4) Bersifat selektif, dipilih peristiwa yang penuh arti dan ada hubungannya dengan target pembelajaran.
  • 5) Diberikan solusi, tindak lanjut, atau umpan balik dari kejadian yang terjadi pada peserta didik.
  • Contoh catatan anekdot:

a. Bertanya ( Questioning) Jawaban peserta didik terhadap pertanyaan pendidik dapat memberikan gambaran yang baik tentang kemajuan penguasaan kompetensi mereka. Pertanyaan harus dirumuskan dan disampaikan dengan baik oleh pendidik kepada peserta didik secara lisan.

Peserta didik diberi waktu yang cukup untuk berpikir, mengingat apa yang telah dipelajari. Pertanyaan pendidik tidak saja menjadikan pendidik mengetahui sampai di mana peserta didik telah menguasai kompetensi yang dituju, tetapi juga membantu peserta didik belajar. Pertanyaan biasanya disampaikan secara lisan pada awal, tengah, atau akhir pelajaran.

Tingkat kesulitan dan/atau jenis pertanyaan yang diberikan hendaknya bervariasi, dan menyertakan pertanyaan yang tidak sekedar menuntut ingatan akan sekumpulan fakta atau angka, tetapi pertanyaan yang mendorong pelibatan proses kognitif tingkat tinggi ( higher order thinking skills ).b.

Diskusi Diskusi di kelas bisa memberikan banyak informasi mengenai penguasaan peserta didik terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Diskusi membangun pengetahuan dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Diskusi memungkinkan peserta didik untuk meningkatkan wawasan dan kedalaman pemahaman mereka sekaligus meluruskan informasi yang salah.

Pendidik dapat memulai diskusi dengan memberikan pertanyaan terbuka untuk para peserta didik, kemudian menilai pemahaman peserta didik dengan mendengarkan jawaban mereka dan dengan membuat catatan anekdot.c. Admits/Exit Slips Admit Slips hampir sama dengan Exit Slips, perbedaannya Admit Slips dilakukan sebelum pembelajaran di kelas dimulai.

Peserta didik dapat diminta untuk menuliskan komentar pada sebuah kartu di awal pembelajaran. Kartu-kartu ini dikumpulkan sebagai syarat untuk masuk ke kelas dan biasanya tidak dinilai serta tidak diberi nama. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui tanggapan peserta didik tentang apa yang mereka pelajari atau yang akan ditemui di dalam kelas, serta mengaktifkan pengetahuan awal mereka atau menghubungkan apa yang telah mereka ketahui dan pelajari.

Exit Slips dan Admit Slips dapat digunakan pada semua mata pelajaran. Exit Slips adalah jawaban tertulis atas pertanyaan yang diberikan pendidik pada akhir pelajaran untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap konsep-konsep inti. Pertanyaan biasanya hanya membutuhkan maksimal 5 menit untuk diselesaikan dan dikumpulkan saat peserta didik meninggalkan ruangan.

Pendidik dapat dengan cepat mengetahui mana peserta didik yang sudah paham, yang membutuhkan sedikit bantuan, dan yang akan membutuhkan pembelajaran yang lebih banyak mengenai konsep tersebut.d. Lembar Refleksi Lembar refleksi digunakan oleh peserta didik untuk mencatat proses yang mereka lalui dalam mempelajari sesuatu dan apa yang mereka peroleh, sekaligus mencatat pertanyaan-pertanyaan yang perlu mereka temukan jawabannya.

Refleksi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membuat hubungan antara apa yang mereka sudah pelajari, menentukan tujuan, dan melakukan refleksi terhadap proses belajar mereka. Dengan membaca lembar refleksi peserta didik, pendidik memperoleh umpan balik terhadap keefektifan proses pembelajarannya, dan dapat menyampaikan umpan balik mengenai apa yang sudah dilakukan dengan baik oleh peserta didik serta saran untuk hal-hal yang perlu diperbaiki. f. Penilaian Diri dan Penilaian Antarteman ( Self- dan Peer-Assessment) Penilaian Diri dan Penilaian Antarteman menjadikan peserta didik mengevaluasi dirinya sendiri atau teman sekelasnya mengenai kemajuan belajarnya dan melakukan refleksi atas proses pembelajaran mereka. Seperti teknik-teknik penilaian formatif lainnya, penilaian diri dapat digunakan untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan penguasaan kompetensi tertentu. Pendidik memasukkan butir-butir pernyataan (indikator) yang hendak diketahui penguasaannya oleh peserta didik sesuai dengan kebutuhan.g.

Kuis Konstruktif Untuk menilai perkembangan peserta didik dalam penguasaan kompetensi, pendidik dapat memberikan kuis konstruktif. Kuis ini diberikan selama proses pembelajaran berlangsung. Kuis konstruktif tidak hanya memberikan umpan balik bagi pendidik, tapi juga bisa membantu peserta didik merefleksikan penguasaan mereka atas kompetensi yang dipelajari.

Setelah peserta didik selesai menuliskan jawaban mereka, pendidik meminta peserta didik menyerahkan lembar jawab bagian kiri, dan memegang lembar jawab bagian kanan. Selanjutnya pendidik mengajak peserta didik bersama-sama memeriksa jawaban. Berdasarkan jawaban peserta didik terhadap pertanyaan pada kuis, pendidik dapat menentukan status setiap peserta didik dalam kaitannya dengan target pembelajaran (penguasaan materi/kompetensi) dan langsung memberikan umpan baliknya.

Demikian juga dengan para peserta didik, dapat dengan cepat menilai perkembangan dirinya sendiri.h. Penugasan Asesmen formatif dapat dilakukan pendidik dengan cara memberi tugas yang dapat dikerjakan peserta didik sebagai pekerjaan rumah (PR). Tugas tersebut dapat dikerjakan secara individu atau kelompok.

Dari hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh peserta didik, pendidik dapat mengetahui perkembangan peserta didik dalam menguasai materi/kompetensi secara kelompok atau individu. Selanjutnya pendidik memberi umpan balik dan merancang pembelajaran yang tepat untuk memfasilitasi peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.

Namun ada yang perlu menjadi catatan bagi pendidik untuk memberikan penugasan, karena penugasan diberikan untuk memperkuat penguasaan suatu kompetensi oleh siswa. Jadi dalam suatu pembelajaran belum tentu ada penugasan ini kalau penguasaan kompetensi atau tujuan pembelajaran sudah terkuasai dengan baik oleh siswa.i.

Daftar Cek Daftar cek kelas merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai pemahaman peserta didik selama satu bab pembelajaran. Sebelum memulai satu bab baru, pendidik membuat daftar semua keterampilan yang perlu dikuasai oleh peserta didik.

  1. Berikut ini adalah contoh daftar cek untuk kelas berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia.
  2. a. Pertanyaan dengan Jawaban Terbuka

Pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban terbuka memungkinkan pendidik untuk menentukan perkembangan capaian belajar peserta didik. Pendidik memberi pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan ‘ya’ atau ‘tidak’ atau jawaban satu kata lainnya. Pertanyaan terbuka mengharuskan peserta didik berpikir tentang jawaban mereka dan menggunakan pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai sebuah topik dalam jawaban mereka.

Pertanyaan-pertanyaan dengan kata ‘mengapa, bagaimana,’ sering mendorong pemikiran yang lebih mendalam. Selain dari tujuh contoh teknik asesmen formatif di atas, guru juga dapat melakukan asesmen formatif melalui presentasi, membuat peta konsep, graphic organizer, penilaian kinestetik, papan bicara, jawaban bersama, contoh dan bukan contoh, tunjuk lima jari, menyebutkan hal-hal yang sudah dipelajari, uraian singkat, ringkasan singkat, memecahkan maslah, kartu jawaban, dan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat oleh peserta didik.1.

Contoh-Contoh Pelaksanaan Asesmen Formatif Asesmen formatif dapat dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan pembelajaran sampai dengan pelaksanaan pembelajaran. Di bawah ini ada beberapa contoh pelaksanaan asesmen formatif.a. Pendidik memulai kegiatan tatap muka dengan memberikan pertanyaan berkaitan dengan konsep atau topik yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.b.

Pendidik mengakhiri kegiatan pembelajaran di kelas dengan meminta peserta didik untuk menuliskan 3 hal tentang konsep yang baru mereka pelajari, 2 hal yang ingin mereka pelajari lebih mendalam, dan 1 hal yang mereka belum pahami.c. Kegiatan percobaan dilanjutkan dengan diskusi terkait proses dan hasil percobaan, kemudian pendidik memberikan umpan balik terhadap pemahaman peserta didik.d.

Pendidik memberikan pertanyaan tertulis, kemudian setelah selesai menjawab pertanyaan, peserta didik diberikan kunci jawabannya sebagai acuan melakukan penilaian diri.e. Penilaian diri, penilaian antarteman, pemberian umpan balik antar teman dan refleksi.

Sebagai contoh, peserta didik diminta untuk menjelaskan secara lisan atau tulisan (misalnya, menulis surat untuk teman) tentang konsep yang baru dipelajari.f. Pada PAUD, pelaksanaan asesmen formatif dapat dilakukan dengan melakukan observasi terhadap perkembangan anak saat melakukan kegiatan bermain-belajar.g.

Pada pendidikan khusus, pelaksanaan asesmen diagnostik dilakukan untuk menentukan fase pada peserta didik sehingga pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik, misalnya: salah satu peserta didik pada kelas X SMALB (Fase E) berdasarkan hasil asesmen diagnostik berada pada Fase C sehingga pembelajaran peserta didik tersebut tetap mengikuti hasil asesmen diagnostik yaitu Fase C.

  • 2. Umpan Balik
  • Mengapa umpan balik penting?
  • Umpan balik merupakan kumpulan informasi mengenai bagaimana seseorang melakukan suatu kegiatan. Umpan balik biasanya berisi hal baik yang sudah dilakukan, hal yang butuh perbaikan dan hal yang bisa dikembangkan untuk aktivitas selanjutnya
  • Bagi guru
  • • Memberi informasi perkembangan murid untuk memodifikasi pengajaran dan pembelajaran di masa depan.
  • Bagi Murid
  • • Membantu murid untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka sehingga murid dapat mengatur dan merasa berperan dalam proses pembelajaran mereka.
  • • Memberikan umpan balik kepada sesama teman juga memberikan kesempatan bagi murid untuk belajar dari satu sama lain.
  • 10 Prinsip Pemberian Umpan Balik yang Efektif
You might be interested:  Yang Dimaksud Dengan Nada Modal Adalah?

Prinsip ini diterjemahkan dan diadopsi dari Model Pemberian Umpan Balik yang dua arah ( dialogical ) dari Nicol, D. (2010) From monologue to dialogue: improving written feedback processes in mass higher education. Assessment & Evaluation in Higher Education, 35(5), 501-517

  1. Membuat umpan balik yang efektif
  2. • Harus terdiri dari
  3. ü feed up (mengklarifikasi tujuan dengan murid),
  4. ü feedback (tanggapan atas pekerjaan murid dan kemajuan mereka)
  5. ü feed forward (saran bagi murid untuk dipakai di masa depan menggunakan data dari feedback).
  6. • Membutuhkan tujuan dan sasaran yang jelas dan dapat dimengerti oleh murid dan guru.
  7. • Memungkinkan murid untuk mengidentifikasi:
  8. ü apa yang mereka ketahui,
  9. ü apa yang mereka pahami,
  10. ü di mana mereka membuat kesalahan,
  11. ü di mana mereka memiliki kesalahpahaman
  12. ü kapan mereka terlibat / tidak terlibat dalam pembelajaran.
  13. Umpan Balik Guru (Teacher Feedback)
  14. Pertanyaan panduan untuk guru:
  15. • Apa saja komponen penting yang perlu ada?
  16. • Dokumen apa yang bisa dipakai guru untuk menjadi acuan penulisan umpan balik yang efektif dan objektif?
  17. • Apakah ada format umpan balik yang sederhana dan mudah dipahami oleh murid?
  18. • Seberapa sering umpan balik harus diberikan?
  19. • Seberapa panjang dan detail penulisan umpan balik yang efektif (apabila diberikan tertulis)?
  20. • Bagaimana agar murid tertarik untuk membaca umpan balik dan mendapatkan manfaat yang maksimal?
  21. Umpan Balik Teman (Peer Feedback)
  22. Pertanyaan panduan untuk murid:
  23. • Apa saja komponen penting yang perlu ada?
  24. • Apa yang bisa kamu pakai untuk membantu kamu memberikan umpan balik yang efektif dan objektif bagi temanmu?
  25. • Apa hal baik yang sudah dilakukan oleh temanmu?
  26. • Apa hal yang bisa diperbaiki/ dikembangkan lagi oleh temanmu?
  27. • Apa yang bisa dilakukan oleh temanmu agar karyanya bisa lebih baik lagi di kemudian hari?
  28. • Informasi apa yang kamu rasa akan bermanfaat untuk membantu pengembangan diri temanmu?
  29. Ladder of Feedback
  30. Contoh praktik baik memberikan umpan balik secara berjenjang
  31. E. Asesmen Sumatif
  32. 1. Konsep Asesmen Sumatif
  33. Asesmen sumatif mempunyai beberapa konsep seperti pada uraian berikut:

a. Metode evaluasi yang dilakukan di akhir pembelajaran,b. Asesmen sumatif seringkali memiliki taruhan tinggi karena berpengaruh terhadap nilai akhir murid sehingga sering diprioritaskan murid daripada asesmen formatif.c. Umpan balik dari asesmen hasil akhir ini (sumatif) dapat digunakan untuk mengukur perkembangan murid untuk memandu guru dan sekolah merancang aktivitas mereka untuk projek berikutnya.2.

Tujuan dan Fungsi Asesmen Sumatif Penilaian atau asesmen sumatif pada jenjang pendidikan dasar dan menengah bertujuan untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran dan/atau CP peserta didik sebagai dasar penentuan kenaikan kelas dan/atau kelulusan dari satuan pendidikan. Penilaian pencapaian hasil belajar peserta didik dilakukan dengan membandingkan pencapaian hasil belajar peserta didik dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran.

Sementara itu, pada pendidikan anak usia dini, asesmen sumatif digunakan untuk mengetahui capaian perkembangan peserta didik dan bukan sebagai hasil evaluasi untuk penentuan kenaikan kelas atau kelulusan. Asesmen sumatif berbentuk laporan hasil belajar yang berisikan laporan pencapaian pembelajaran dan dapat ditambahkan dengan informasi pertumbuhan dan perkembangan anak.

  • Adapun asesmen sumatif dapat berfungsi untuk:
  • a. alat ukur untuk mengetahui pencapaian hasil belajar peserta didik dalam satu atau lebih tujuan pembelajaran di periode tertentu;
  • b. mendapatkan nilai capaian hasil belajar untuk dibandingkan dengan kriteria capaian yang telah ditetapkan; dan

c. menentukan kelanjutan proses belajar siswa di kelas atau jenjang berikutnya. Asesmen sumatif dapat dilakukan setelah pembelajaran berakhir, misalnya pada akhir satu lingkup materi (dapat terdiri atas satu atau lebih tujuan pembelajaran), pada akhir semester dan pada akhir fase; khusus asesmen pada akhir semester, asesmen ini bersifat pilihan,

Jika pendidik merasa masih memerlukan konfirmasi atau informasi tambahan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik, maka dapat melakukan asesmen pada akhir semester. Sebaliknya, jika pendidik merasa bahwa data hasil asesmen yang diperoleh selama 1 semester telah mencukupi, maka tidak perlu melakukan asesmen pada akhir semester,

Hal yang perlu ditekankan, untuk asesmen sumatif, pendidik dapat menggunakan teknik dan instrumen yang beragam, tidak hanya berupa tes, namun dapat menggunakan observasi dan performa (praktik, menghasilkan produk, melakukan projek, dan membuat portofolio).F.

Contoh Bentuk Asesmen Formatif dan Sumatif Asesmen dapat dilakukan secara berbeda di jenjang tertentu, sesuai dengan karakteristiknya. Untuk jenjang PAUD, teknik penilaian tidak menggunakan tes tertulis, melainkan dengan berbagai cara yang disesuaikan dengan kondisi satuan PAUD, dengan menekankan pengamatan pada anak secara autentik sesuai preferensi satuan pendidikan.

Ragam bentuk asesmen yang dapat dilakukan, antara lain: catatan anekdot, ceklis, hasil karya, portofolio, dokumentasi, dll. Untuk pendidikan khusus, asesmen cenderung lebih beragam karena perlu pendekatan individual, Pada Pendidikan Kesetaraan, asesmen mata pelajaran keterampilan dapat berbentuk observasi, demonstrasi, tes lisan, tes tulis, portofolio, dan/atau uji kompetensi pada Lembaga sertifikasi dan kompetensi.

  1. Sementara itu pada SMK, terdapat bentuk penilaian atau asesmen khas yang membedakan dengan jenjang yang lain, yaitu: Asesmen Praktik Kerja Lapangan (PKL), Uji Kompetensi Kejuruan, Ujian Unit Kompetensi,
  2. 1. Contoh bentuk asesmen tidak tertulis
  3. a. Diskusi kelas
  4. · Mengembangkan kemampuan berkomunikasi murid di depan publik dan mengemukakan pendapat.
  5. · Melatih murid untuk belajar berdemokrasi, mendengarkan dan menerima pendapat orang lain yang mungkin berbeda dengannya, juga merespons pendapat tersebut dengan cara yang sopan dan simpatis.
  6. b. Produk
  7. · Membuat model miniatur 3 dimensi (diorama), produk digital, produk seni, dll.
  8. · Mengembangkan kreativitas.
  9. · Menanamkan pengertian mengenai sebuah peristiwa
  10. c. Drama
  11. · Mengembangkan kemampuan seni peran dan berkomunikasi murid.
  12. · Mendorong murid untuk melihat sebuah masalah dari perspektif yang berbeda sehingga dapat menumbuhkan jiwa empati dan berpikiran kritis murid.
  13. d. Presentasi
  14. · Mengembangkan kemampuan berkomunikasi
  15. · Mendorong murid untuk memahami topik presentasi dengan mendalam
  16. e. Tes Lisan
  17. · Kuis tanya jawab secara lisan
  18. · Mengonfirmasi pemahaman murid
  19. · Menerapkan umpan balik
  20. 2. Contoh bentuk asesmen tertulis
  21. a. Refleksi
  22. · Melatih murid untuk berperan aktif dalam mengevaluasi pembelajaran mereka sendiri dan memikirkan bagaimana cara mereka dapat memperbaiki diri.
  23. · Hasil refleksi ini dapat digunakan guru untuk melihat sisi lain proses pembelajaran murid
  24. b. Esai
  25. · Mengasah keterampilan menulis akademis murid, seperti mengembangkan argumen, menyajikan bukti, mencari sumber terpercaya untuk mendukung argumen, dan menggunakan referensi dengan tepat.
  26. · Mengembangkan cara berpikir kritis dan daya analisis murid.
  27. c. Jurnal
  28. · Melatih kemampuan murid untuk mengorganisasi dan mengekspresikan ide/pemikiran mereka dalam bentuk tulisan.
  29. · Biasanya ditulis dengan bahasa yang kurang formal sehingga memberikan murid kebebasan berpikir kreatif.
  30. · Menjadi alat untuk murid merefleksikan perkembangan mereka secara berkesinambungan.
  31. d. Poster
  32. · Mendorong kemampuan murid untuk mengeksplorasi topik dan mengkomunikasikan pemahaman mereka dengan cara semenarik mungkin
  33. e. Tes Tertulis
  34. · Kuis pilihan ganda
  35. · Kuis pertanyaan
  36. · Menerapkan umpan balik
  37. G. Menentukan Ketercapaian Tujuan Pembelajaran

Untuk mengetahui apakah peserta didik telah berhasil mencapai tujuan pembelajaran, pendidik perlu menetapkan kriteria atau indikator ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini dikembangkan saat pendidik merencanakan asesmen, yang dilakukan saat pendidik menyusun perencanaan pembelajaran, baik dalam bentuk rencana pelaksanaan pembelajaran ataupun modul ajar.

Kriteria ketercapaian ini juga menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih/membuat instrumen asesmen, karena belum tentu suatu asesmen sesuai dengan tujuan dan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran. Kriteria ini merupakan penjelasan (deskripsi) tentang kemampuan apa yang perlu ditunjukkan/didemonstrasikan peserta didik sebagai bukti bahwa ia telah mencapai tujuan pembelajaran.

Dengan demikian, pendidik tidak disarankan untuk menggunakan angka mutlak (misalnya, 75, 80, dan sebagainya) sebagai kriteria. Yang paling disarankan adalah menggunakan deskripsi, namun jika dibutuhkan, maka pendidik diperkenankan untuk menggunakan interval nilai (misalnya 70 – 85, 85 – 100, dan sebagainya).

Dengan demikian, kriteria yang digunakan untuk menentukan apakah peserta didik telah mencapai tujuan pembelajaran dapat dikembangkan pendidik dengan menggunakan beberapa pendekatan, di antaranya: 1. menggunakan deskripsi sehingga apabila peserta didik tidak mencapai kriteria tersebut maka dianggap belum mencapai tujuan pembelajaran.

Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria ketuntasan: Laporan peserta didik menunjukkan kemampuannya menulis teks eksplanasi, hasil pengamatan, dan pengalaman secara jelas. Laporan menjelaskan hubungan kausalitas yang logis disertai dengan argumen yang logis sehingga dapat meyakinkan pembaca,2.

menggunakan rubrik yang dapat mengidentifikasi sejauh mana peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Contohnya, dalam tugas menulis laporan, pendidik menetapkan kriteria ketuntasan yang terdiri atas dua bagian: Isi laporan dan penulisan. Dalam rubrik terdapat empat tahap pencapaian, dari baru berkembang, layak, cakap hingga mahir.

Dalam setiap tahapan ada deskripsi yang menjelaskan performa peserta didik. Pendidik menggunakan rubrik ini untuk mengevaluasi laporan yang dihasilkan oleh peserta didik.3. menggunakan skala atau interval nilai, atau pendekatan lainnya sesuai dengan kebutuhan dan kesiapan pendidik dalam mengembangkannya.

  • Contoh: Pendidik membandingkan hasil tulisan peserta didik dengan rubrik untuk menentukan ketercapaian peserta didik. Untuk setiap kriteria terdapat 4 (empat) skala pencapaian (1-4)
  • Keterangan:
  • 0 – 40% = belum mencapai, remedial di seluruh bagian
  • 41 – 60% = belum mencapai ketuntasan, remedial di bagian yang diperlukan
  • 61 – 80% = sudah mencapai ketuntasan, tidak perlu remedial
  • 81 – 100% = sudah mencapai ketuntasan, perlu pengayaan/tantangan lebih
  • H. Menentukan Kriteria Kenaikan Kelas

Satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menentukan kebijakan kenaikan kelas. Pendidik diharapkan mampu menjalankan fungsi asesmen secara optimal sehingga mampu mendiagnostik perkembangan peserta didik. Hasil diagnostik digunakan sebagai rujukan untuk melakukan tindak lanjut pembelajaran.

  1. Pendidik dan satuan pendidikan diberikan keleluasaan untuk menentukan kriteria kenaikan kelas, dengan mempertimbangkan:
  2. 1. Laporan Kemajuan Belajar
  3. 2. Laporan Pencapaian Projek Profil Pelajar Pancasila
  4. 3. Portofolio peserta didik
  5. 4. Ekstrakurikuler/prestasi/penghargaan peserta didik
  6. 5. Tingkat kehadiran
  7. Sumber:

2022. Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah, Jakarta. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kemdikburistek.2021.

Panduan Pembelajaran dan Asesmen. Jakarta. Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kemdikbud.2020. Buku Saku Asesmen Diagnosis Kognitif, Jakarta. Pusat Asesmen dan Pembelajaran Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kemdikbud.2019. Model Penilaian Formatif pada Pembelajaran Abad ke-21 untuk Sekolah Dasar. Jakarta. Pusat Penilaian Pendidikan. : JENIS, TEKNIK, DAN CONTOH INSTRUMEN ASESMEN PADA KURIKULUM MERDEKA

Asesmen nasional bertujuan untuk apa?

KOMPAS.com – Sejumlah sekolah di sebagian wilayah Indonesia sudah memulai Asesmen Nasional atau AN 2021. Namun, masih banyak orangtua, murid, yang kebingungan akan AN. Misalnya, tujuan Asesmen Nasional digelar, lalu tesnya seperti apa, untuk apa hasilnya, hingga bedanya dengan ujian nasional.

  • Melalui laman Direktorat Jenderal Sekolah Dasar Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek), ada sejumlah tanya jawab akan asesmen nasional yang bisa menjelaskan mengenai apa itu Asesmen Nasional.
  • Baca juga: Mendikbud Nadiem soal Pengganti UN 2021: Tidak Perlu Bimbel Khusus 1.

Apa itu Asesmen Nasional? Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.2. Mengapa perlu ada Asesmen Nasional? Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.

Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau:

Perkembangan mutu dari waktu ke waktu, Kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu).

Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut.

  • Hal ini diharapkan dapat mendorong sekolah dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran.
  • Baca juga: Beda dengan UN, Hasil Asesmen Nasional Digunakan untuk Dua Hal Ini 3.
  • Apakah Asesmen Nasional menentukan kelulusan peserta didik? Tidak, Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan.

Asesmen Nasional diberikan kepada murid bukan di akhir jenjang satuan pendidikan. Asesmen Nasional juga tidak digunakan untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen. Hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual.

Seperti dijelaskan sebelumnya, hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Dengan demikian, Asesmen Nasional tidak terkait dengan kelulusan peserta didik. Penilaian untuk kelulusan peserta didik merupakan kewenangan pendidik dan satuan pendidikan.4. Siapa yang menjadi peserta Asesmen Nasional? Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM.

Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir program belajarnya.

Selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan. Baca juga: Sekolah Pelita Harapan Buka Beasiswa bagi Siswa Se-Indonesia, Senilai Rp 33 Miliar 5.

Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian murid? Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi murid sebagai seorang individu. Evaluasi hasil belajar setiap individu murid menjadi kewenangan pendidik.

  • Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem.
  • Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan.
  • Arena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional dan yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili populasi murid di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional.6.

Mengapa yang menjadi sampel adalah murid kelas V, VIII dan XI? Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut.

You might be interested:  Berikut Yang Menjadi Isntrumen Pasar Modal Adalah?

Selain itu, Asesmen Nasional juga digunakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional.

Baca juga: Wings Group Buka 12 Lowongan Kerja untuk Lulusan D3-S1 7. Apakah Asesmen Nasional menggantikan UN? Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual. Namun Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan.

Sebagai alat untuk mengevaluasi mutu sistem, Asesmen Nasional akan menghasilkan potret yang lebih utuh tentang kualitas hasil belajar serta proses pembelajaran di sekolah. Laporan hasil Asesmen Nasional akan dirancang untuk menjadi “cermin” atau umpan balik yang berguna bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam proses evaluasi diri dan perencanaan program.8.

Mengapa yang diukur adalah literasi dan numerasi? Asesmen Nasional mengukur dua macam literasi, yaitu Literasi Membaca dan Literasi Matematika (atau Numerasi). Keduanya dipilih karena merupakan kemampuan atau kompetensi yang mendasar dan diperlukan oleh semua murid, terlepas dari profesi dan cita-citanya di masa depan.

  • Literasi dan numerasi juga merupakan kompetensi yang perlu dikembangkan secara lintas mata pelajaran.
  • Emampuan membaca yang diukur melalui AKM Literasi sebaiknya dikembangkan tidak hanya melalui pelajaran Bahasa Indonesia, tapi juga pelajaran agama, IPA, IPS, dan pelajaran lainnya.
  • Emampuan berpikir logis-sistematis yang diukur melalui AKM Numerasi juga sebaiknya dikembangkan melalui berbagai pelajaran.

Dengan mengukur literasi dan numerasi, Asesmen Nasional mendorong guru semua mata pela?jaran untuk berfokus pada pengembangan kompetensi membaca dan berpikir logis-sistematis.9. Mengapa Asesmen Nasional juga mengukur karakter murid? Asesmen Nasional bertujuan tidak hanya memotret hasil belajar kognitif murid namun juga memotret hasil belajar sosial emosional.

Asesmen nasional diharapkan dapat memotret sikap, nilai, keyakinan, serta perilaku yang dapat memprediksi tindakan dan kinerja murid di berbagai konteks yang relevan. Hal ini penting untuk menyampaikan pesan bahwa proses belajar-mengajar harus mengembangkan potensi murid secara utuh baik kognitif maupun non kognitif.

Baca juga: Indofood Buka Lowongan Kerja 2021 untuk Lulusan SMA/SMK-S1 10. Bagaimana kaitan antara Asesmen Nasional dengan kurikulum? Asesmen Nasional mengukur kompetensi mendasar (general capabilities) yang dapat diterapkan secara luas dalam segala situasi.

  • Ompetensi mendasar ini perlu dipelajari oleh semua murid dan sekolah, sehingga dibangun melalui pembelajaran beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran.
  • Target asesmen yang sekedar mengukur penguasaan murid akan konten atau materi kurikulum menjadi tidak relevan karena di era informasi saat ini, pengetahuan faktual semakin mudah diperoleh dan diakses oleh hampir setiap orang.

Sekedar mengetahui menjadi tidak cukup dan kurang relevan. Asesmen Nasional berfokus mengukur pada kemampuan murid untuk menggunakan dan mengevaluasi pengetahuan yang diperoleh dari beragam materi kurikulum untuk merumuskan serta menyelesaikan masalah.

Asesmen Nasional menggeser fokus dari keluasan pengetahuan menuju kedalaman kompetensi dari kurikulum.11. Apa peran Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal? Warga belajar diwajibkan menempuh ujian kesetaraan untuk dinyatakan lulus pendidikan non-formal. Asesmen Nasional merupakan ujian kesetaraan yang menjadi salah satu syarat kelulusan.

Oleh karena itu, peserta Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal tidak dipilih secara acak oleh Kemdikbud. Peserta Asesmen Nasional pendidikan jalur non formal adalah warga belajar yang mendaftarkan diri untuk ujian kesetaraan. Hasil ujian kesetaraan tersebut sekaligus digunakan sebagai Rapor PKBM.

Apa tujuan dari asesmen?

Jika selama ini asesmen masih dipahami sebagai proses menilai atau bahkan sebagai ajang penghakiman terhadap tingkat keberhasilan peserta didik setelah mempelajari suatu materi, maka pandangan tersebut harus mulai diubah. Dalam paradigma baru, asesmen ditempatkan sebagai bukti pembelajaran,

Ia berfungsi sebagai informasi tentang proses pembelajaran dan perkembangan peserta didik. Dalam platform merdeka mengajar seri pelatihan mandiri yang dikeluarkan oleh Kemendikbudristek (2021) dijelaskan bahwa asesmen harus berpihak pada peserta didik. Membantu peserta didik mendapatkan pembelajaran yang bermakna.

Bukan sekedar sebagai laporan yang berisi angka dan hasil belajar peserta didik semata. Bukan pula digunakan untuk mencari peserta didik yang menduduki rangking tertentu. Asesmen harus diposisikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengetahui kebutuhan belajar, perkembangan dan pencapaian hasil belajar peserta didik.

Jika asesmen dilakukan hanya sebagai alat untuk meghasilkan nilai, maka kecenderungannya adalah hanya menghasilkan informasi yang sangat terbatas. Karena nilai yang dihasilkan biasanya hanya sebatas mengukur level pengetahuan semata. Asesmen yang dilakukan tidak boleh kontraproduktif dengan semangat pembelajaran.

Asesmen yang dilakukan harus memberi peluang bagi peserta didik untuk meningkatkan pencapaian belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Dengan demikian, tujuan utama dari asesmen adalah untuk memantau dan memonitor kualitas pembelajaran sekaligus sebagai umpan balik perbaikan pembelajaran bagi guru.

Dengan menempatkan asesmen sebagai fungsi ini maka kedudukan asesmen dalam pembelajaran adalah sebagai instrumen untuk memahami perkembangan belajar peserta didik dalam rentang waktu tertentu dalam mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian, perkembangan belajar peserta didik dapat teramati dari waktu ke waktu.

Artinya, yang menjadi perhatian adalah bukan perihal peserta didik mendapatkan nilai dalam bentuk angka. Tetapi apakah kemampuan mereka berkembang dibanding dengan kemampuan awalnya. Informasi ini membantu guru, peserta didik, orangtua dan satuan pendidikan untuk melakukan evaluasi serta perbaikan pembelajaran selanjutnya.

Guru bisa mengetahui apa saja yang sudah dipahami oleh peserta didik dan bagian mana yang belum dipahami.Guru juga bisa mengetahui apa yang harus dilakukan dalam pembelajaran sesuai dengan kemampuan awal peserta didik pada materi yang akan disampaikan.apa yang harus dilakukan guru ketika peserta didik salah dalam memahami materi?kapan dan bagaimana guru bisa mulai menyampaikan materi baru?dukungan apa yang diperlukan peserta didik di kemudian hari agar pembelajaran lebih optimal?

Dengan demikian, terlihatlah bahwa prinsip-prinsip asesmen adalah sebagai berikut: Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah Lihat Pendidikan Selengkapnya Beri Komentar Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Kapan asesmen nasional dilaksanakan 2022?

KOMPAS.com – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) telah mengganti Ujian Nasional ( UN ) menjadi Asesmen Nasional ( AN ) sejak 2021. Bagi siswa apakah sudah pernah ikut Asesmen Nasional (AN)? Apakah sudah paham seperti apa AN itu? Untuk 2022 ini, Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) 2022 bakal dimulai pada September sampai dengan November 2022.

Baca juga: Seperti Ini Tugas Proktor dalam Pelaksanaan ANBK Melansir laman Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikbud Ristek, ANBK 2022 adalah program evaluasi yang diselenggarakan oleh Kemendikbud untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan memotret input, proses dan output pembelajaran di seluruh satuan pendidikan.

Adapun ANBK 2022 diadakan dengan tiga instrumen, yakni: 1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM Literasi, Numerasi) 2. Survey Karakter 3. Survey Lingkungan Belajar Sedangkan untuk peserta ANBK 2022 ialah siswa yang sedang duduk di pertengahan jenjang sekolah, seperti kelas 4 untuk SD, kelas 8 untuk SMP, dan kelas 11 untuk SMA yang dipilih secara acak oleh Kemendikbud Ristek.

Siapa yang menentukan peserta ANBK?

Apakah ANBK menentukan kelulusan siswa ? – Meski dirancang sebagai pengganti Ujian Nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional ternyata ANBK tidak menentukan kelulusan siswa. Pasalnya, ANBK diberikan kepada murid bukan di akhir jenjang satuan pendidikan, melainkan murid kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh pemerintah.

Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir program belajarnya. Baca juga: Pendaftaran KJP Plus Tahap II 2022 Dibuka, Siswa SD-SMA Segera Daftar Selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan.

Asesmen Nasional juga tidak digunakan untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen karena hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual. Seperti dijelaskan sebelumnya, hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran.

Mengapa Asesmen nasional hanya diikuti oleh sebagian siswa?

Tanya Jawab tentang Asesmen Nasional Apa itu Asesmen Nasional? Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Modal Yang Digunakan Dalam Pelaksanaan Asesmen Nasional Adalah AN penilaian paradigma baru Mengapa perlu ada Asesmen Nasional? Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Asesmen ini dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar murid.

Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu).

Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seha rusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompe tensi dan karakter murid. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut.

Hal ini diharapkan dapat mendorong sekolah dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran. Apakah Asesmen Nasional menentukan kelulusan peserta didik? Tidak, Asesmen Nasional tidak menentukan kelulusan. Asesmen Nasional diberikan kepada murid bukan di akhir jenjang satuan pendidikan.

Asesmen Nasional juga tidak digunakan untuk menilai peserta didik yang menjadi peserta asesmen. Hasil Asesmen Nasional tidak akan memuat skor atau nilai peserta didik secara individual. Seperti dijelaskan sebelumnya, hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran.

Dengan demikian, Asesmen Nasional tidak terkait dengan kelulusan peserta didik. Penilaian untuk kelulusan peserta didik merupakan kewenangan pendidik dan satuan Pendidikan. Siapa yang menjadi peserta Asesmen Nasional? Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM.

Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir program belajarnya.

  1. Selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan.
  2. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan.
  3. Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian murid? Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional.

Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi murid sebagai seorang individu. Evaluasi hasil belajar setiap individu murid menjadi kewenangan pendidik. Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem. Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan.

Karena itu, tidak semua murid perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili popu lasi murid di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional. Mengapa yang menjadi sampel adalah murid kelas V, VIII dan XI ? Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran.

Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar murid yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut. Selain itu, Asesmen Nasional juga digu nakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan.

Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional. Apakah Asesmen Nasional menggantikan UN? Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengeva luasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual.

Namun Asesmen Nasional menggantikan peran UN sebagai sumber infor masi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan. Sebagai alat untuk mengevaluasi mutu sistem, Asesmen Nasional akan menghasilkan potret yang lebih utuh tentang kualitas hasil belajar serta proses pembelajaran di sekolah.

Laporan hasil Asesmen Nasional akan dirancang untuk menjadi “cermin” atau umpan balik yang berguna bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam proses evaluasi diri dan perencanaan program. Bagaimana kaitan antara Asesmen Nasional dengan kurikulum? Asesmen Nasional mengukur kompetensi mendasar (general capa bilities) yang dapat diterapkan secara luas dalam segala situasi.

Kompetensi mendasar ini perlu dipelajari oleh semua murid dan sekolah, sehingga dibangun melalui pembelajaran beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran. Target asesmen yang sekedar mengukur penguasaan murid akan konten atau materi kurikulum menjadi tidak relevan karena di era informasi saat ini, pengetahuan faktual semakin mudah diperoleh dan diakses oleh hampir setiap orang.

Sekedar mengetahui menjadi tidak cukup dan kurang relevan. Asesmen Nasional berfokus mengukur pada kemampuan murid untuk menggunakan dan mengevaluasi pengetahuan yang diperoleh dari beragam materi kurikulum untuk merumuskan serta menyelesaikan masalah. Asesmen Nasional menggeser fokus dari keluasan pe ngetahuan menuju kedalaman kompetensi dari kurikulum.

Apa peran Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal? Warga belajar diwajibkan menempuh ujian kesetaraan untuk dinyatakan lulus pendidikan non-formal. Asesmen Nasional meru pakan ujian kesetaraan yang menjadi salah satu syarat kelulusan. Oleh karena itu, peserta Asesmen Nasional dalam pendidikan jalur non-formal tidak dipilih secara acak oleh Kemdikbud.

  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) murid
  2. Survei karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan dan kebiasaan yang mencerminkan karakter murid; dan
  3. Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah

Apakah Asesmen Nasional menggantikan UN? Asesmen Nasional tidak menggantikan peran UN dalam mengevaluasi prestasi atau hasil belajar murid secara individual Bagaimana bentuk soal Asesmen Nasional? Bentuk soal Asesmen Nasional terdiri dari :

  • Pilihan ganda;
  • Pilihan ganda kompleks;
  • Menjodohkan;
  • Isian Singkat; dan
  • Uraian

Moda Pelaksanaan Asesmen Nasional

  1. Berbasis Komputer, daring atau semi daring
  2. Berbagi sarana prasarana/ dalam pelaksanaan AN resource sharing Mandiri menumpang

Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan pelaksanaan Asesmen Nasional dilakukan oleh Panitia tingkat Pusat, Provinsi, LPMP, Kabupaten/Kota, Satuan Pendidikan serta Panitia di Luar Negeri sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Sumber: : Tanya Jawab tentang Asesmen Nasional

Asesmen nasional ada berapa?

Asesmen Nasional terdiri dari tiga instrumen, yaitu: Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi) murid. Survei Karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter murid.

Bagaimana bentuk soal asesmen nasional *?

1. Bentuk secara umum soal asesmen nasional – secara umum bentuk dari soal asesmen nasional terdiri dari:

Soal Objektif seperti Pilihan Ganda, Pilihan Ganda Kompleks, Menjodohkan, dan Isian SingkatSoal Non Objektif seperti Uraian