Prinsip Akuntansi Yang Mengatur Bahwa Laporan Keuangan?

Prinsip Akuntansi Yang Mengatur Bahwa Laporan Keuangan
Prinsip objektif pada akuntansibermaksud untuk memastikan laporan keuangan yang dihasilkan harus berdasarkan pada data akuntansi yang didukung oleh bukti transaksi yang bersifat real/sah dan objektif yang dihasilkan melalui sistem pengendalian intern yang memadai.

Apa yang dimaksud dengan prinsip revenue recognition principle?

Lima Prinsip Dasar Akuntansi Prinsip dasar akuntansi mendasari akuntansi dan seluruh laporan keuangan. Prinsip akuntansi dijabarkan dari tujuan laporan keuangan, postutat akuntansi, dan konsep teoritis akuntansi, serta sebagai dasar pengembangan teknik atau prosedur akuntansi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan.

Prinsip Biaya Historis ( Historical Cost Principle )

GAAP mewajibkan sebagian besar aktiva dan kewajiban diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisi. Hal ini seringkali disebut prinsip biaya historis. Prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva. utang, modal, dan biaya.

Prinsip Pengakuan Pendapatan ( Revenue Recognition Principle )

Prinsip Pengakuan Pendapatan adalah aliran masuk harta-harta (aktiva) yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu. Dasar yang digunakan untuk mengukur besamya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.

Prinsip Mempertemukan ( Matching Principle )

Yang dimaksud prinsip mempertemukan biaya adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini berguna untuk menentukan besamya penghasilan bersih setiap periode. Karena biaya itu harus dipertemukan dengan pendapatannya, maka pembebanan biaya sangat tergantung pada saat pengakuan pendapatan.

Prinsip Konsistensi ( Consistency Principle )

Agar laporan keuangan dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, maka metode dan prosedur-prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun. Sehingga bila terdapat perbedaan antara suatu pos dalam dua periode, dapat segera diketahui bahwa perbedaan itu bukan selisih akibat penggunaan metode yang berbeda.

Prisip Pengungkapan Penuh ( Full Disclosure Principle )

Yang dimaksud dengan prinsip pengungkapan lengkap adalah menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan. Karena infomasi yang disajikan itu merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari rekening-rekening tertentu, tidaklah mungkin untuk memasukkan semua informasi-informasi yang ke dalam laporan keuangan. : Lima Prinsip Dasar Akuntansi

Apa yang dimaksud dengan prinsip konsistensi?

9. Prinsip Konsistensi ( Consistency Principle ) – Prinsip konsistensi diartikan sebagai prinsip akuntansi dasar yang digunakan dalam pelaporan keuangan tetap dan digunakan secara konsisten (tidak berubah-ubah metode dan prosedur). Tujuannya agar laporan keuangan yang dihasilkan dapat dibandingkan dengan laporan keuangan pada periode sebelumnya sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi penggunanya.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan prinsip materialitas?

Materialitas adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi menghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut.

Prinsip dasar akuntansi ada berapa?

10 Prinsip Dasar Akuntansi: – Prinsip dasar akuntansi yang dikenal juga dengan sebutan Prinsip Akuntansi yang Berterima Umum (PABU) adalah pedoman berupa tata cara dan dijadikan standar penyusunan informasi keuangan yang juga diatur oleh IAI. Berikut ini prinsip-prinsip dasar akuntansi yang perlu diketahui:

Jelaskan apa yang dimaksud dengan prinsip objektivitas?

Pengantar: Objektivitas dan Subjektivitas Kemudian, Kode Etik Profesi Akuntan Publik Seksi 120 memberikan pengertian mengenai objektivitas : Prinsip objektivitas menekankan bahwa praktisi tidak membiarkan subjektivitas, benturan kepentingan, dan pengaruh pihak lain memengaruhi pengambilan keputusan.

Apa keunggulan prinsip biaya historis?

Prinsip biaya historis / historical cost principle adalah salah satu prinsip akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan. Prinsip biaya historis menghendaki penggunaan harga perolehan dalam mencatat aset, hutang, modal, dan biaya. Pengertian dari harga perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang terlibat dalam suatu transaksi. Harga pertukaran ini dapat terjadi pada seluruh transaksi dengan pihak eksternal, baik yang menyangkut aset, hutang, modal atau transaksi lainnya. Setelah tanggal perolehan atau jual beli, kelanjutan penggunaan biaya historis, dikurangi dengan penyusutan, jika dapat diterapkan, selalu menghasilkan data harta dengan nilai masa lampau pada laporan. Nilai harta dapat berubah disebabkan faktor inflasi, perubahan permintaan dan penawaran, teknologi, dan faktor-faktor lainnya. Prinsip biaya historis masih tetap berlaku karena data biaya historis ini dianggap yang paling obyektif dan dapat diperiksa kebenarannya. Seringkali, catatan keuangan dapat melacak penyusutan atau peningkatan nilai aset yang diperoleh, namun biaya historis akan tetap sama. Selain itu, biaya historis juga disebut sebagai prinsip biaya historis, yang berarti bahwa terlepas dari apresiasi atau depresiasi suatu aset dari waktu ke waktu, biaya awal aset pada saat perolehan adalah nilai yang disimpan sebagai biaya historis. Kelebihan Prinsip Biaya Historis Sifat sederhana dari pencatatan biaya historis memiliki beberapa keuntungan utama yaitu untuk menyimpan catatan keuangan dari biaya awal aset. Selain itu penggunaan biaya historis memiliki keunggulan antara lain: 1. Kemudahan pencatatan keuangan, karena biaya historis hanyalah biaya awal suatu aset, akan lebih mudah untuk mencatat nilai awal ini. Ini karena prinsip biaya historis hanya memerlukan biaya awal suatu aset, dan bisnis mungkin tidak perlu terus memperbarui catatan keuangannya untuk menunjukkan nilai pasar saat ini.2. Objektivitas. Prinsip biaya historis mengacu pada nilai tercatat yang objektif dan dapat diverifikasi sebagai tanda terima penjualan, transaksi bank atau faktur, yang digunakan untuk dengan mudah mengkonfirmasi nilai asli suatu aset pada saat pembelian.3. Menghemat biaya jasa keuangan. Ketika sebuah bisnis mempekerjakan penasihat keuangan atau akuntan, mungkin akan ada biaya tambahan untuk layanan ini. Semakin lama seorang akuntan bekerja untuk memverifikasi dan menyelesaikan laporan keuangan perusahaan, semakin banyak biaya yang dapat dikeluarkan perusahaan. Saat melacak hanya biaya awal aset, akuntan mungkin hanya perlu memverifikasi nilai biaya awal aset perusahaan. Ini bisa lebih cepat dan jauh lebih sedikit membebani sumber daya daripada rendering penuh akun perusahaan, yang pada akhirnya menghemat biaya tambahan perusahaan saat mempekerjakan penasihat keuangan atau akuntan. Kekurangan Biaya Historis Biaya historis terkadang menghadirkan kelemahan-kelemahan, diantaranya: 1. Kurangnya akurasi. Biaya historis hanya dapat memperhitungkan nilai awal suatu aset pada saat perusahaan memperolehnya. Prinsip biaya mungkin tidak memperhitungkan peningkatan nilai pasar aset, juga tidak dapat melaporkan penyusutan aset dari waktu ke waktu. Akibatnya, bahkan jika suatu aset diperoleh dengan biaya awal 50.000.000, dan nilai pasar aset itu meningkat selama lima tahun menjadi 75.000.000, cost principle akan tetap dicatat pada nilai awal 50.000.000.2. Biaya historis tidak memperhitungkan depresiasi, yang berarti bahwa penurunan nilai pasar suatu aset (seperti mobil) mungkin tidak mempengaruhi biaya historis awal. Hal ini pada akhirnya dapat membahayakan bisnis, karena biaya historis mungkin tidak secara akurat mewakili kerugian pasar yang dialami bisnis.3. Aset tidak berwujud mungkin tidak diperhitungkan. Selain kurangnya akurasi dalam akuntansi, cost principle mungkin juga tidak memperhitungkan aset tidak berwujud dan berharga yang mungkin dimiliki perusahaan. Misalnya, sebuah perusahaan mungkin memiliki aset berharga seperti identitas merek, merek dagang, kekayaan intelektual, atau goodwill dari merger atau akuisisi. Karena aset ini dibangun dari waktu ke waktu, bisnis mungkin tidak dapat memasukkan nilainya dalam prinsip biaya historis awal.4. Pengecualian untuk prinsip biaya historis. Sementara sebagian besar aset berwujud dapat dipertimbangkan dalam akuntansi untuk biaya historis, ada beberapa contoh di mana jenis aset tertentu mungkin tidak dipertimbangkan saat mencatat prinsip biaya historis. Pengecualian ini mungkin termasuk:

You might be interested:  Jelaskan Yang Dimaksud Dasar Pengenaan Pajak?

Piutang bisnis, karena mungkin dicatat sebagai nilai realisasi, yang berarti aset ini mungkin belum dibayar penuh oleh pelanggan atau klien. Aset bisnis yang sangat likuid diharapkan dapat dikonversi menjadi uang tunai dalam waktu singkat, karena ini biasanya dicatat pada nilai pasarnya. Setiap aset yang memiliki nilai pasar, karena aset ini mungkin dalam proses konversi tunai dan harus dicatat pada nilai pasar. Setiap investasi keuangan dapat dicatat pada nilai wajar sepanjang setiap periode akuntansi.

Demikian pembahasan mengenai prinsip biaya historis dan hubungannya dalam pencatatan pembukuan. Biaya historis memang memiliki kelebihan dan kekurangan jika digunakan dalam proses pencatatan. Jika ingin mengadaptasikan hal ini didalam sebuah bisnis, terapkanlah perhitungan pada aset yang memiliki nilai tetap dalam jangka waktu yang sangat lama.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan prinsip pervasif?

Prinsip pervasif merupakan suatu prinsip yang mewajibkan perusahaan mempraktikkan pertimbangan akuntansi yang menciptakan laporan keuangan yang andal serta relevan.

Apa yang dimaksud dengan prinsip disclosure?

Prinsip dasar akuntansi mendasari akuntansi dan seluruh laporan keuangan. Prinsip akuntansi dijabarkan dari tujuan laporan keuangan, postutat akuntansi, dan konsep teoritis akuntansi, serta sebagai dasar pengembangan teknik atau prosedur akuntansi yang dipakai dalam menyusun laporan keuangan. Salah satu prinsip akuntansi adalah prinsip pengungkapan penuh ( full disclosure principle ) Prinsip pengungkapan penuh ( full disclosure principle ) adalah menyajikan semua informasi dalam laporan keuangan yang dapat memengaruhi pemahaman pembaca. Penafsiran atas prinsip ini sangat subyektif dan berpotensi menyebabkan terlalu banyak informasi yang disajikan. Oleh karena itu, prinsip materialitas digunakan agar hanya mengungkapkan informasi tentang peristiwa yang mungkin berdampak material terhadap posisi atau hasil keuangan entitas. Pengungkapan dapat mencakup hal-hal yang belum dapat dihitung secara tepat, seperti sengketa pajak dengan Pemerintah atau litigasi dengan pihak lain. Prinsip pengungkapan penuh mengharuskan entitas selalu melaporkan kebijakan akuntansi yang ada, serta perubahan atas kebijakan tersebut seperti perubahan metode penilaian aset atau metode depresiasi, transaksi non-moneter yang terjadi, hubungan dengan pihak afiliasi bisnis yang memiliki volume transaksi signifikan, jumlah aset diagunkan, jumlah kerugian material yang disebabkan oleh biaya yang lebih rendah dari nilai pasar, uraian tentang kewajiban penghentian pengoperasian aset, fakta dan keadaan yang menyebabkan penurunan goodwill, Informasi ini didalam laporan keuangan biasanya masuk pada catatan atas laporan keuangan atau laporan pengungkapan terpisah yang menyertainya. Dalam penyajian laporan keuangan, prinsip disclosure sangat dibutuhkan, salah satunya pada pasar modal. Di pasar modal terdapat berbagai macam informasi, seperti laporan keuangan, kebijakan manajemen, rumor di pasar modal, prospektus, saran dari broker, dan informasi lainnya. Semua informasi ini harus disampaikan secara terbuka kepada para investor. Tanpa keterbukaan informasi, kepercayaan para investor terhadap pasar bisa hilang.
You might be interested:  Modal Usaha Yang Utama Tergantung Pada?

Apa yang dimaksud dengan prinsip lengkap?

5. Prinsip Pengungkapan Penuh (Full Disclosure Principle) – prinsip pengungkapan penuh (lengkap) yang dimaksud adalah menyajikan semua informasi yang lengkap dan kompleks dalam laporan keuangan. Karena infomasi yang diberikan tersebut, merupakan ringkasan dari semua transaksi-transaksi yang terjadi dalam satu periode.

Juga semua saldo-saldo dari rekening-rekening tertentu, tidaklah mungkin untuk memasukkan semua informasi-informasi yang ke dalam laporan keuangan. Baca juga: Peran dan Manfaat Akuntansi dalam Perusahaan Demikianlah kelima prinsip dasar akuntansi yang berlaku untuk umum yang merupakan dasar akuntansi dan seluruh laporan keuangan.

Simak juga ulasan lainnya yang membahas tentang siklus akuntansi yang sudah di jelaskan sebelumnya disini. Semoga informasi tentang prinsip dasar akuntansi ini dapat menambah wawasan Anda yang ingin mempelajari lebih dalam tentang prinsip akuntansi.

Apa yang dimaksud dengan konservatisme dalam akuntansi?

Konservatisme dalam akuntansi merupakan perbedaan persyaratan verifikasi pada proses pengakuan laba akuntansi ter- hadap kerugian atau merupakan kebijakan akuntansi yang mengurangi laba ketika mendapatkan bad news, akan tetapi tidak menambah laba ketika mendapatkan good news (Basu, 1997).

Apa beda materialitas dan risiko?

Materialitas dan Risiko Audit Hardiwinoto.com- Materialitas dan risiko audit merupakan hal yang penting dalam perencanaan audit. Bab ini akan menunjukkan bagaimana kedua konsep ini mempengaruhi tahap perencanaan audit.

  • Materialitas
  • Yaitu suatu nilai informasi akuntansi yang dihilangkan atau salah saji dalam lingkungan yang berlaku, mungkin akan mengubah pertimbangan seseorang yang bersandar pada informasi tersebut karena hilangnya atau salah saji informasi tersebut.
  • FASB mendefinisikan:
  • Yaitu besarnya kealpaan dan salah saji informasi akuntansi, yang dalam lingkungan tersebut membuat kepercayaan seseorang berubah atau terpengaruh oleh adanya kealpaan dan salah saji tersebut.
  • Tanggungjawab auditor adalah menentukan apakah laporan keuangan mengandung kesalahan yang material.

Adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, yang dilihat dari keadaan yang melingkupinya. Dapat mengakibatkan perubahan atau pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan terhadap informasi tersebut. Definisi tersebut mengharuskan auditor untuk:

  1. Keadaan yang berkaitan dengan entitas, dan
  2. Kebutuhan informasi pihak yang akan meletakkan kepercayaan atas laporan keuangan auditan.

Langkah-langkah dalam menerapkan materialitas:

  1. Menetapkan pertimbangan awal materialitas.
  2. Mengalokasikan pertimbangan awal materialitas kepada segmen audit.
  3. Mengestimasi keseluruhan dalam segmen.
  4. Mengestimasi keseluruhan kesalahan.
  5. Membandingkan keseluruhan estimasi dengan pertimbangan awal materialitas yang telah direvisi.

Pertimbangan Pendahuluan tentang Materialitas Karena sifatnya yang relatif maka tingkat materialitas dapat berubah. Selama pelaksanaan audit tingkat materialitas bisa berubah-ubah karena;

  1. Kondisi sekeliling yang mempengaruhi perusahaan berubah.
  2. Tambahan informasi tentang klien mungkin diperoleh selama pelaksanaan audit.

Tingkat materialitas awal yang direncanakan ( planning materiality) suatu perusahaan dapat berubah karena kedua hal tersebut. Sebagai contoh, tingkat materialitas yang direncanakan bagi perusahaan yang terancam bangkrut adalah 0,5 % dari modal sendiri.

Materialitas pada tingkat laporan keuangan.

Salah saji dapat disebabkan:

  1. Salah penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
  2. Penyimpangan dari kenyataan sesungguhnya.
  3. Penyembunyian informasi yang mestinya perlu diungkapkan.

Materialitas pada tingkat saldo akun.

Pengalokasian materialitas dapat dilakkukan dengan tiga cara yaitu:

  1. Besar relative akun.
  2. Besar variable akun.
  3. Pertimbangan profesional.
  1. Materialitas, Risiko Audit, dan Strategi Audit Awal
  2. Auditor tidak dapat memberikan jaminan bagi klien atau pemakai laporan keuangan yang lain karena ia tidak memeriksa setiap transaksi yang terjadi dalam tahun yang di audit dan tidak dapat menentukan apakah semua transaksi yang terjadi telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi secara semestinya ke dalam laporan keuangan.
  3. Oleh karena itu, dalam audit atas laporan keuangan auditor memberikan keyakinan berikut ini:
  1. Auditor dapat memberi keyakinan bahwa jumlah–jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan beserta pengungkapannya telah dicatat, diringkas, digolongkan, dan dikompilasi.
  2. Auditor dapat memberikan keyakinan bahwa ia telah mengumpulkan bukti audit kompeten yang cukup sebagai dasar memadai untuk memberikan pendapat atas laporan keuangan auditan.
  3. Auditor dapat memberikan keyakinan, dalam bentuk pendapat, bahwa laporan keuangan sebagai keseluruhan disajikan secara wajar dan tidak terdapat salah saji material karena kekeliruan dan kecurangan.
You might be interested:  Yang Termasuk Pajak Pemerintah Pusat Adalah?

Dua konsep yang melandasi keyakinan yang diberikan auditor:

  • Konsep materialitas menunjukkan seberapa besar salah saji yang dapat diterima oleh auditor agar pemakai laporan keuangan tidak terpengaruh oleh salah saji tersebut.
  • Konsep risiko audit menunjukkan tingkat risiko kegagalan auditor untuk mengubah pendapatnya atas laporan keuangan yang berisi salah saji material.

Auditor melakukan pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan auditnya. Pertimbangan materialitas mencakup pertimbangan kuantitatif dan kualitatif. Berikut ini contoh pertimbangan kuantitatif dan kualitatif:

Hubungan salah saji dengan jumlah kunci tertentu dalam laporan seperti:

  1. Laba bersih sebelum pajak dalam laporan keuangan.
  2. Total aktiva dalam neraca.
  3. Total aktiva lancar dalam neraca.
  4. Total ekuitas pemegang saham dalam neraca.

Faktor kualitatif, seperti:

  1. Kemungkinan terjadinya pembayaran yang melanggar hukum.
  2. Kemungkinan terjadinya kecurangan.
  3. Syarat yang tercantum dalam perjanjian penarikan kredit bank yang mengharuskan klien untuk mempertahankan rasio keuangan pada tingkat minimum tertentu.
  4. Adanya gangguan dalam trend
  5. Sikap manajemen terhadap integritas laporan keuangan.

Auditor menggunakan dua cara dalam menerapkan materialitas. Pertama, auditor menggunakan materialitas dalam perencanaan audit. Kedua, pada saat mengevaluasi bukti audit dalam pelaksanaan audit. Oleh karena itu, auditor harus mempertimbangkan dengan baik penaksiran materialitas pada tahap perencanaan audit.

Dalam perencanaan audit, auditor harus menyadari bahwa terdapat lebih dari satu tingkat materialitas yang berkaitan dengan laporan keuangan. Hubungan Materialitas dengan Bukti Audit Materialitas merupakan satu di antara berbagai faktor yang mempengaruhi pertimbangan auditor tentang kecukupan bukti audit.

Dalam membuat generalisasi hubungan antara materialitas dan bukti audit, perbedaan istilah materialitas dan saldo akun material harus tetap diperhatikan. Semakin rendah tingkat materialitas, semakin besar jumlah bukti yang harus dibuktikan (hubungan terbalik).

  • Risiko Audit
  • Adalah risiko yang terjadi dalam hal auditor, tanpa disadari tidak memodifikasi pendapatnya sebagaimana semestinya, atas suatu laporan keuangan yang mengandung salah saji material. Auditor tidak cukup hanya menentukan materialitas dengan pertanyaan berikut ini:
  • Kami akan menerima bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dan tidak berisi salah saji material jika:
  1. Total aktiva tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.40.000.000
  2. Aktiva lancar tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.20.000.000

Auditor harus membuat pernyataan lebih lanjut berikut ini: Kami akan menerima, pada tingkat risiko tertentu, bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar dan tidak berisi salah saji material jika:

  1. Total aktiva tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.40.000.000
  2. Aktiva lancar tidak mengandung salah saji lebih dari Rp.20.000.000

Risiko audit, dibagi menjadi dua:

  1. Risiko audit keseluruhan yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai keseluruhan.
  2. Risiko audit individual yang berkaitan dengan setiap saldo akun individual yang dicantumkan dalam laporan keuangan.

Terdapat tiga unsure risiko audit:

  • Risiko bawaan adalah kerentanan suatu saldo akun atau golongan transaksi terhadap suatu salah saji material, dengan asumsi bahwa tidak terdapat kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang terkait. Risiko salah saji demikian adalah lebih besar pada saldo akun atau golongan transaksi tertentu dibandingkan dengan yang lain.
  • Risiko pengendalian adalah risiko terjadinya salah saji material dalam suatu asersi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh pengendalian intern entitas.
  • Risiko deteksi adalah risiko sebagai akibat auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang terdapat dalam suatu asersi. Risiko deteksi ditentukan oleh efektivitas prosedur audit dan penerapannya oleh auditor.

Auditor menentukan risiko deteksi dari formula risisko audit berikut ini :

Risiko audit individual = risiko bawaan x risiko pengendalian x risiko deteksi

Strategi Audit Awal Tujuan akhir auditor dalam perencanaan dan pelaksanaan proses audit adalah mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah untuk mendukung pendapatnya. Dalam mengembangkan strategi audit awal, auditor menetapkan empat unsur berikut ini:

  • Tingkat risiko pengendalian taksiran yang direncanakan.
  • Luasnya pemahaman atas pengendalian intern yang harus diperoleh.
  • Pengujian pengendalian yang harus dilaksanakan untuk menaksir risiko pengendalian.
  • Tingkat pengujian substantive yang direncanakan untuk mengurangi risiko audit ke tingkat yang cukup rendah.

: Materialitas dan Risiko Audit

Apa saja karakteristik kualitatif laporan keuangan?

Agar laporan keuangan berkualitas serta bermanfaat bagi para pemakainya, maka laporan keuangan harus memenuhi karakteristik kualitatif laporan keuangan yang terdiri dari: dapat dipahami, relevansi, keandalan, dapat diperbandingkan (Standar Akuntansi Keuangan, 1999 ; 9).

Jelaskan apa yang dimaksud dengan prinsip?

Prinsip – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Lihat pula: Prinsip adalah suatu pernyataan fundamental atau umum maupun individual yang dijadikan oleh seseorang/ kelompok sebagai sebuah untuk berpikir atau bertindak. Sebuah prinsip merupakan roh dari sebuah perkembangan ataupun perubahan, dan merupakan akumulasi dari pengalaman ataupun pemaknaan oleh sebuah objek atau subjek tertentu.

Artikel bertopik psikologi ini adalah sebuah, Anda dapat membantu Wikipedia dengan,

ul>

Diperoleh dari “” : Prinsip – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas