kisah-anak-sholeh-uwais-al-qarni

Kisah Anak Sholeh “Uwais Al Qarni”

Kisah anak sholeh – seiring berjalannya waktu sampailah kita pada era zaman modern, yang dimana perkembangan teknologi semakin pesat. Tidak perlu heran, karena perkembangan zaman ini sudah menjadi bagian dari sunnatullah.

Karenannya, mari kita jalani hidup pada era modern ini dengan cerdas dan bijak. Karena sekarang, banyak sekali orang-orang yang berlomba untuk menjadi terkenal, terutama anak-anak milenial atau kidz zaman now.

Sehingga banyak cara yang ditempuh untuk bisa menjadi seorang selebgram, tiktokers, youtober,dlsb. Tidak peduli cara halal ataupun haram, karena mereka berpikir terkenal itu menguntungkan.

Ya, walaupun tidak ada salahnya menjadi terkenal, selama tujuan dan caranya benar. Berikut adalah kisah inspratif yang dapat kita ambi hikmahnya, seseorang yang tidak terkenal di bumi namun terkenal di langit. Ia adalah “Uwais Al Qarni”.

Kisah Anak Sholeh; Bakti Uwais Al Qarni kepada Ibunya

kisah-anak-sholeh-sholehah
pixabay

Pada zaman Nabi Muhammad SAW, hiduplah seorang pemuda yang namanya tidak terkenal di bumi namun terkenal di langit. Tidak banyak yang mengetahui kisahnya, namun ia memiliki kemuliaan yang teramat sangat tinggi.

Namanya Uwais Al Qarni.

Uwais Al Qarni tinggal di Yaman, dalam keadaan berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Meskipun cacat, ia merupakan pemuda yang sholeh dan sangat berbakti kepada ibunya.

Ia juga terkenal sebagai seseorang yang fakir, hidupnya sangat miskin. Ia merupakan seorang yatim, Bapaknya sudah meninggal dunia. Jadilah ia hidup hanya berdua bersama Ibunya yang sudah tua serta lumpuh. Bahkan, mata Ibunya telah buta.

Selain Ibunya, Uwais tidak lagi memiliki sanak famili sama sekali. Ibunya adalah seorang wanita yang sudah tua dan lumpuh, Uwais senantiasa merawat dan memenuhi setiap permintaan ibunya. Hanya satu permintaan saja yang masih sulit untuk ia penuhi.

Suatu ketika ibunya berkata: “Wahai anakku, mungkin Ibu tidak bisa lama lagi untuk bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji”.

Seketika Uwais termenung. Perjalanan menuju Makkah sangatlah jauh, melewati padang pasir yang panas nan tandus. Karena, biasanya orang-orang menuju kesana dengan menggunakan unta dan membawa perbekalan yang banyak. Namun, Uwais sangatlah miskin dan tidak memiliki kendaraan.

Seketika, saat Uwais berusaha mencari jalan keluar. Dibelilah olehnya seekor anak lembu, dan untuk apakah anak lembu yang dibeli oleh Uwais? Karena tidak mungkin jika pegi haji dengan menggunakan lembu.

Tanpa disangka, ternyata Uwais membuatkan kandang untuk anak lembu tersebut di puncak bukit. Setiap pagi Uwais menggendong anak lembu tersebut bolak-balik naik turun bukit.

Sehingga orang-orang pun mengolok-olok Uwais dengan perkataan “Uwais gilaa, Uwais gilaa…”

Ya, apa yang dikerjakan Uwais memang sangat aneh. Walaupun begitu, tidak ada hari yang terlewatkan bagi Uwais untuk menggendong anak lembu tersebut naik turun bukit.

Hari demi hari berlalu, dan anak lembu tersebut semakin besar. Sehingga semakin besar pula tenaga yang dibutuhkan oleh Uwais. Namun karena usaha dan latihan yang dilakukannya setiap hari, anak lembu yang semakin besar itu tidak terasa lagi.

8 bulan berlalu, dan sampailah pada masa musim haji. Lembu Uwais yang semakin besar, sebanding juga dengan ototnya yang turut membesar. Uwais menjadi lebih kuat untuk mengangkat barang.

Barulah orang-orang tahu apa maksud dari Uwais yang menggendong lembu setiap hari. Ternyata, ia berlatih agar kuat untuk menggendong Ibunya.

Dari Yaman hingga Makkah, Uwais menggendong Ibunya. Subhanallah, Betapa besar cinta seorang Uwais terhadap Ibunya. Demi memenuhi keinginan Ibunya, Uwais rela menempuh perjalanan jauh dan sulit.

Uwais berjalan dengan tegap saat menggendong Ibunya untuk tawaf di Ka’bah.  Ibu Uwais sangat terharu dan bercucuran air mata saat bisa berada di Baitullah. Di depan Ka’bah Uwais dan Ibunya berdo’a. “Ya Allah yaa tuhanku, ampunilah dosa-dosa ibuku” ucap Uwais.

Seketika Ibunya bertanya, “Bagaimana dengan dosamu?”. “Dengan diampuninya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk ke dalam Surga. Sehingga cukuplah dengan ridho Ibu  yang akan membawaku untuk masuk ke dalam Surga,” jawab Uwais. Subhanallah, betapa keinginan yang tulus dan penuh cinta dari seorang Uwais.

Kemudian Allah SWT pun memberikan karunianya kepada Uwais, seketika itu pula Uwais disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya saja Uwais memohon agar Allah SWT menyisakan bulatan kecil, agar ia dapat bersyukur tatkala melihat sisa penyakit itu.

Selain itu, ternyata ada hikmah tersendiri dengan tersisanya bulatan kecil pada telapak tangan Uwais. Ya, itulah tanda untuk sahabat Umar bin Khattab RA dan Ali bin Abi Thalib RA. Dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali seorang Uwais.

Kisah Anak Sholeh; Kehidupan Uwais Al Qarni

kisah-anak-sholeh-sholehah
pixabay

Keseharian dalam hidupnya, Uwais mencari nafkah dengan cara menggembalakan domba-domba atau unta milik orang lain disaat siang hari. Upah atau bayaran yang didapatnya, hanya cukup untuk menafkahi dirinya dan Ibunya.

Namun bila ada kelebihan, Uwais pun tidak segan-segan menggunakannya untuk membantu tetangganya yang juga hidup miskin dan serba kekurangan sebagaimana ia dan Ibunya.

Uwais Al Qarni, juga terkenal sebagai seorang anak yang sangat taat kepada Ibunya dan taat pula dalam beribadah. Ia seringkali melaksanakan puasa sunnah, dan bila malam tiba ia selalu berdo’a memohon petunjuk kepada Allah SWT.

Ada persaan sedih di dalam hati Uwais, setiap kali melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Karena mereka sudah berjumpa dengna Nabi Muhammad SAW, sedangkan ia sendiri belum pernah berjuma dengan beliau.

Berita tentang Perang Uhud, yang dimana Nabi Muhammad SAW mendapatkan cedera dan giginya patah karena terkena lemparan batu dari pasukan musuh juga sudah didengar olehnya. Kemudian Uwais pun juga mengetok giginya dengan batu hingga patah.

Hal itu dilakukan Uwais sebagai ungkapan rasa cintanya yang sangat dalam kepada Nabi Muhammad SAW, sekalipun ia belum pernah berjumpa dengan beliau.

Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu. Kerinduan Uwais untuk berjumpa dengan Nabi Muhammad SAW semakin dalam. Di dalam hati ia selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat berjumpa dengan beliau dan memandang wajah beliau dengan jarak dekat? Ia rindu karena keimanan.

Namun, bukankah Uwais mempunyai seorang Ibu yang sudah tua renta, buta, dan lumpuh? Tegakah Uwais untuk meninggalkan ibunya dalam keadaan demikian? Hati Uwais gelisah, sedangkan setiap siang dan malam pikirannya selalu diliputi perasaan rindu untuk berjumpa dna memandang wajah Nabi Muhammad SAW.

Hingga akhirnya, kerinduan Uwais kepada Nabi Muhammad SAW yang sudah ia pendam sekian lama tidak dapat ditahannya lagi.

Suatu hari, Uwais mendekati ibunya. Kemudian menyampaikan isi hatinya, dan memohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan untuk pergi berjumpa dengan Rasulullah SAW di Madinah.

Walaupun telah udzur, ibu Uwais merasa terharu tatkala mendengar permohonan Uwais. Ibunya memaklumi perasaan anaknya seraya berkata, “Wahai anakku Uwais, pergilah! Temuilah Nabi di rumahnya. Bila engkau sudah berjumpa dengan Nabi, segeralah untuk kembali pulang.

Seketika, betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni  yang mendengar ucapan ibunya saat itu. Kemudian, segeralah ia berkemas menyiapkan bakal dan berangkat.

Sebelum berangkat, ia tidak lupa menyiapkan keperluan untuk ibunya terlebih dahulu yang akan ia tinggalkan. Serta meminta tolong dan berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi ke Madinah.

Seusai berpamitan serta mencium ibunya, berangkatlah Uwais menuju Madinah.

Perjalanan Uwais Al Qarni menuju Madinah

kisah-anak-sholeh-sholehah
pixabay

Kisah anak sholeh – Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, akhirnya Uwais sampai di kota Madinah. Kemudian, segeralah ia mencari rumah Nabi Muhammad SAW.

Ketika ia sudah menemukan rumah Nabi Muhammad SAW, diketuknya pintu rumah beliau seraya mengucap salam. Ketika seseorang datang dan menjawab salamnya, dengan segera Uwais menyampaikan maksud kedatangannya dan menanyakan perihal Nabi Muhammad SAW yang ingin dijumpainya.

Ada sedikit perasaan kecewa di hati Uwais, ketika mendengar jawaban bahwa Rasulullah SAW sedang tidak berada di rumah. Karena Beliau sedang berada di medan peperangan, jadilah ia hanya bertemu dengan istri Nabi yaitu Siti Aisyah ra.

Sedangkan saat itu, hati Uwais bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Namun, kapankah Nabi pulang? Sementara pesan dari ibunya yang sudah tua dan lumpuh, agar Uwais cepat pulang ke Yaman masih terngiang-ngiang di dalam telinganya.

Karena ketaatan Uwais yang begitu luar biasa kepada ibunya, sehingga mengalahkan segala isi hati dan keinginannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Rasulullah SAW. Akhirnya, Uwais pun pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera kembali ke Yaman.

Uwais hanya menitipkan salam kepada Siti Aisyah ra, untuk Nabi Muhammad SAW. Kemudian, ia segera berangkat dan melangkahkan kaki menuju Yaman dalam perasaan haru.

Tatkala peperangan telah usai, Nabi Muhammad SAW kembali ke Madinah. Sampainya di rumah, beliau menanyakan perihal seseorang yang mecarinya kepada Siti Aisyah ra. Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan, bahwa Uwais Al Qarni adalah adalah anak yang sangat berbakti kepada ibunya, ia adalah penghuni langit.

Mendengar penyampaian Rasulullah SAW, Siti Aisyah ra dan para sahabat pun tertegun.

Kemudian, Siti Aisyah ra menyampaikan keterangan. Bahwa memang benar ada seseorang yang mencari Rasulullah SAW, namun ia segera kembali ke Yaman karena ada seorang yang ia tinggalkan dalam keadaan sudah tua dan sakit-sakitan. Sehingga, ia tidak dapat meninggalkan ibunya dalam waktu lama.

Rasulullah SAW kembali menyampaikan perihal  Uwais Al Qarni penghuni langit tersebut, kepada sahabat-sahabatnya. “Jika kalian ingin menjumpai Uwais Al Qarni, perhatikanlah bahwa ia memiliki tanda putih di telapak tangannya”.

Kemudian Rasullah SAW memandang kepada sahabat Umar ra dan sahabat Ali ra seraya berkata, “suatu saat apabila kalian menjumpai Uwais Al Qarni, memintalah do’a dan istighfarnya. Karena ia adalah penghuni langit, bukan penduduk bumi”.

“Namanya terkenal di Langit, Namun tidak terkenal di Bumi”

Uwais Al Qarni dan Rombongan Kafilah Dagang

kafilah-dagang-dari-yaman-menuju-syam
pixabay

Hingga akhirnya waktu berganti, dan Nabi Muhammad SAW wafat. Sementara kekhalifan Abu Bakar Ash Shidiq telah usai dan digantikan oleh kekhalifan Umar Bin Khattab ra.

Seketika, khalifah Umar ra teringat akan pesan Nabi SAW tentang Uwais Al Qarni sang penghuni langit. Kemudian beliau segera kembali mengingatkan perihal tersebut kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra.

Mulai saat itu setiap kali ada kafiah dagang dari Yaman, khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan perihal Uwais Al Qarni. Rombongan kafilah dagang dari Yaman menuju Syam datang silih berganti, dan suatu ketika Uwais turut serta bersama dengan mereka.

Rombongan kafilah tersebut tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah dagang dari Yaman, khalifah Umar ra dan Ali ra pun mendatangi mereka dan bertanya, “Apakah ada seseorang bernama Uwais Al Qarni yang turut serta bersama mereka?”.

Kemudian salah seorang dari rombongan kafilah tersebut mengatakan, “dia sedang menjaga unta-unta kami di perbatasan kota Madinah”.

Mendengar jawaban tersebut, khalifah Umar ra dan Ali ra segera menuju ke tempat Uwais berada. Namun ternyata Uwais sedang melaksanakan sholat. Seusai Uwais melaksanakan sholat, khalifah Umar ra mengucapkan salam kepada Uwais.

Kemudian Uwais menjawab salam tersebut, seraya mendekati kedua sahabat Nabi SAW dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Sewaktu bersalaman, khalifah Umar ra membalikkan tangan Uwais untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangannya sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Rasululllah SAW.  Tatkala dilihatnya, tampaklah tanda putih pada telapak tangan Uwais ini.

Sementara wajah Uwais nampak bercahaya, benarlah sesuai apa yang disabdakan Rasulullah SAW bahwa ia adalah penghuni langit.

Khalifah Umar ra dan Ali ra kemudian menanyakan perihal namanya, dan Uwais menjawab “Abdullah”. Mendengar jawaban tersebut, khalifah Umar ra dan Ali ra pun tertawa dan mengatakan, “kami juga Abdullah (Hamba Allah)”. Namun, siapakah namamu yang sebenarnya? Uwais pun menjawab, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Setelah berbincang-bincang, baru diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Oleh sebab itulah Uwais baru dapat turut bersama kafilah dagang dari Yaman.

Kemudia khalifah Umar ra dan Ali ra meminta kepada Uwais Al Qarni agar berkenan memohonkan ampun dan do’a kepada Allah SWT untuk mereka berdua.

Uwais pun enggan dan berkata, “seharusnya, saya lah yang meminta do’a kepada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais tersebut, khalifah Umar ra kembali berkata, “kami datang kesini untuk memohon istighfar serta do’a dari anda”. Sebagaiman yang disampaikan Rasulullah SAW sebelum beliau wafat.

Dikarenakan desakan dari kedua sahabat Nabi ini, akhirnya Uwais Al Qarni mengangkat tangannya seraya berdo’a dan membacakan istighfar untuk kedua sahabat tersebut.

Kemudian khalifah Umar ra berjanji agar menyumbangkan uang dari Baitul Mal untuk diberikan kepada Uwais Al Qarni sebagai jaminan hidupnya. Namun dengan segera Uwais menampik dan berkata, “saya memohon agar cukup hari ini saja saya diketehui oleh orang, untuk hari-hari yang akan datang biarlah saya yang fakir ini tidak dikenal orang kembali.

Kisah Anak Sholeh; Wafatnya Uwais Al Qarni

wafatnya-uwais-al-qarni
pixabay

Kisah anak sholeh – Beberapa tahun kemudian, tersiar kabar bahwa Uwais Al Qarni  telah pulang ke rahmatullah. Namun ada kejadian aneh tatkala jasadnya akan dimandikan. Tiba-tiba sudah banyak sekali orang yang berebutan untuk memandikannya.

Tatkala dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, ternyata disana sudah ada banyak orang yang menunggu untuk mengkafani. Demikian pula tatkala orang-orang pergi hendak menggali kuburnya, ternyata disana sudah ada banyak orang yang menggalikan kuburnya hingga selesai. Hingga saat usungan akan dibawa menuju kepemakaman,  sungguh luar biasa betapa banyak orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Wafatnya Uwais Al Qarni, telah menggemparkan penduduk kota Yaman, banyak sekali kejadian-kejadian yang mengherankan. Karena, banyaknya orang yang tidak dikenal berdatangan untuk mengurusi jenazah dan pemakamannya. Sedangkan Uwais Al Qarni hanyalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang-orang.

Mulai jenazahnya dimandikan hingga akan dimasukkan ke dalam kubur, selalu ada orang-orang yang sudah siap untuk melaksanakan. Subhanallah.

Penduduk Yaman dibuat tercengang, antara satu dengan yang lainnya saling bertanya, “siapakah engkau sebenarnya wahai Uwais? Padahal Uwais Al Qarni yang kami kenal hanyalah seorang yang fakir, yang tidak memiliki apa-apa dan kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta”.

Namun tatkala engkau wafat, penduduk Yaman engkau buat gempar dengan hadirnya orang-orang asing yang tidak pernah kami jumpai dan kenal. Mereka berdatangan dalam jumlah yang sangat banyak.

Mungkinkah mereka adalah malaikat-malaikat yang diutus turun ke bumi hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu?.

Berita wafatnya seorang Uwais Al Qarni serta kejadian-kejadian anehnya telah tersebar luas kemana-mana. Sejak saat itulah penduduk Yaman baru mengetahui,  siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Karena selama ini, tidak ada orang yang mengenalnya sebab permintaannya kepada khalifah Umar ra dan Ali ra agar merahasiakannya.

Barulah tatkala Uwais wafat, banyak orang mendengar apa yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW. Bahwa Uwais bukanlah penduduk bumi, melainkan ia adalah seorang penduduk langit.

Sekian

Itulah sedikit kisah anak sholeh tentang Uwais Al Qarni, semoga ada hikmah yang dapat diambil dari kisah tersebut. Jangan lupa untuk membaca jenis-jenis cerpen dan contohnya pada artikel yang lain.

Terimakasih dan semoga bermangfangat 🙂

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.