Jelaskan Pendekatan Yang Digunakan Dalam Pengembangan Akuntansi Keuangan Syariah?

Sejarah Perkembangan dan Pemikiran Akuntansi Syariah Untuk memahami tentang Akuntansi Syariah, maka perlu kita ketahui dahulu apa sebenarnya Akuntansi Syariah tersebut. Apakah ini konsep Akuntansi konvensiomal yang kemudian disyariahkan atau merupakan ilmu Syariah yang dihubungkan dengan Akuntansi.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat sejarah dari Akuntansi Syariah itu. Pengertian akuntans Syariah. Yang dimaksud dengan Akuntansi Syariah harus dilihat dari segi Bahasa atau etimologinya dahulu. Akuntansi berasal dari kata Bahasa Inggris yaitu accounting. Dalam tata Bahasa arab disebut dengan nama muhasabah.

Muhasabah berasal dari akar kata hasaba, atau hisbah yang memiliki arti menimbang atau memperhitungkan atau melakukan kalkulasi atau juga melakukan pendataan. Dari pengertian tersebut dapat kita lihat pengertian dari muhasabah adalah suatu aktifitas yang berkaitan dengan pencatatan transaksi yang dilakukan secara teratur dan juga keputusan-keputusan yang sesuai dengan syariat dan juga jumlahnya serta memiliki catatan yang bersifat representative serta berkaitan dengan pengukuran akan hasil keuangan untuk melakukan pengambilan keputusan secara tepat.

Arena itulah maka defines Akuntansi Syariah bisa kitya ambil. Menurut Prof Sofyan Harahap yang dmaksud dengan Akuntansi Syariah adalah bagaimana kita menjalankan Akuntansi agar sesuai dengan Syariah Islam. Pada dasarnya menurut beliau ada dua konsep dalam Akuntansi syariiah. Yang pertama ada;ah Akuntansi Syariah yang dijalankan pada masa kenabian Rasulullah Muhammad Shallahu Alaihi Wassalam serta juga para sahabat yang menjadi khalifah pengganti beliau, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khattab, Ustman Bin Affan dan Ali Bin Abi Thalib.

Serta juga dilanjutkan oleh pemerintahan Bani Ummayah dan Bani Abbasiyah. Selanjutnya adalah Akuntansi Syariah yang berkembang sekarang ini, yaitu di era dimana kegiatan ekonomi dan social banyak duwarnai oleh kegiatan ekonomi konvensional. Untuk memahami tentang Akuntansi Syariah tidak ada salahnya kita melihat dahulu konsep Akuntansi konvensional.

Akuntansi konvensional dikatakan ditelurkan oleh seorang pemikir dari Italia yang Bernama Luca Pacioli. Pria yang dijuluki sebagai bapak dari Akuntansi ini menerbitkan sebuah buku yang Bernama Summa De Arithmatica, Geomitria, proportioi et proportionalita, atau dengan arti Kumpulan Pengetahuan Aritmatika, Geometri, Proportioni dan Juga Proporsional.

Dalam buku ini ia menyatakan bahwa dalam praktik perdagangan terdapat yang Namanya konsep Double Entry System. Buku ini sendiri terbit di Venesia, Italia yang saat itu dikenal sebagai pusat perdagangan dunia. Perdagangan dunia saat itu banyak didominasi dengan perdagangan yang terjadi antara Eropa dan Timur Tengah.

Gambar: Peta perdagangan Eropa dan Timur Tengah abad ke 15 ( Sumber: Takidah dan Diolah Kembali ) dari buku yang diterbitkan oleh Luca Pacioli ternyata terdapat beberapa kemiripan antara konsep Akuntansi yang dilakukan di berbagai khalifah Islam dengan konsep pencatatan yang ada di dalam buku tersebut.

Berikut beberapa istilah yang ada dan hampir sama dari buku tersebut. Diantaranya adalah konsep double entry tersebut yang juga dipergunakan di dalam Akuntansi kekhalifahan Islam serta juga istilah zornal, atau biasa disebut dengan journal dalam konsep double entry yang disampaikan oleh Pacioli.Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya terdapat pengaruh dari Islam bagi perkembangan Akuntansi itu sendiri.

  1. Dalam sejarah dulu, dimana hanya terdapat dua bangsa besar, yaitu Romawi dan Persia Akuntansi telah banyak dipergunakan sebagai sarana untuk melakukan perhitungan perdagangan. Untuk mengetahui adanya keuntungan atau kerugian.
  2. Dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 282 terdapat perintah kewajiban untuk melakukan pencatatan atas transaks yang bersifat tidak tunai. Serta juga untuk melakukan pembayaran zakat. Adanya kewajiban untuk melakukan pencatatan atas transaks yang non tunai membuat umat Islam semakin peduli akan kegiatan pencatatan serta juga mendorong berkembangnya kemitraan di kalangan umat Islam.
  3. Selain itu juga adanya perintah untuk kewajiban membayar zakat yang memberikan kesadaran bagi pemerintahan kekhalifahan Islam untuk membuat laporan keuangan dari Baitul maal secara periodik

Sejarah Perkembangan Akuntansi Di Masa Pemerintahan Islam Diawali dengan diwajibkannya kegiatan pencatatan atas transaksi yang tidak tunai seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 282. Yang kemudian dikuti dengan perintah kewajiban pembayaran zakat, maka dimulai praktik Akuntansi di dalam pemerintahan Islam.

Dengan adanya kewajiban untuk melakukan pembayaran zakat maka para sahabat Nabi merekomendasikan adanya kegiatan pencatatan yang resmi untuk pertanggungjawaban dan juga peneriman dari uang negara. Pada masa Khalifah Umar Bin Khattab didirikan Lembaga yang Bernama Diwan untuk mencatat penerimaan negara.

Kemudian di masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz juga dikembangkan system laporan keuangan di pemerintahan dengan adanya kewajiban bagi Lembaga pemerntahan untuk mengeluarkan bukti pada saat mereka melakukan kebijakan pengeluaran uang. Sementara Khalifah Al Waleed Bin Abdul Malik telah menyampaikan catatan dan juga register yang sudah terjilid dan juga tidak dipisahkan dari transaksi sebelumnya.

Pada masa pemerintahan di bawah kekhalifahan Abbasiyah system Akuntansi di pemerintahan Islam saat itu mencapai titik yang tertinggi, dimana Akuntansi dibagi ke dalam beberapa jenis dan juga klasifikasi. Akuntansi dalam jaman ini diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis. Yaitu Akuntansi peternakan, Akuntansi pertanian, Akuntansi bendahara, Akuntansi konstruksi, Akuntansi mata uang dan juga pemeriksaan Akuntansi atau auditing.

You might be interested:  Laporan Keuangan Yang Disusun Atas Dasar Basis Akrual Menggunakan Konsep?

Dari sejarah berkembangnya Akuntansi dalam Islam maka dapat dilihat alasan mangapa Akuntansi berkembang dalam Islam semata-mata karena menjalankan perintah Allah SubhanahuwataAAla, adanya kewajiban menjalankan pembayaran zakat serta untuk kepentingan pertanggungjawaban.

Hal ini berbeda dengan pandangan Paccioli yang mengembannmgkan konsep double entry system semata-mata karena kepentingan bisnis. Pengembangan Konsep Akuntansi Syariah Pengembangan konsep Akuntansi Syariah di Indonesia dikembangkan berdasarkan atas 3 pendekatan. Yang pertama adalah pendekatan dengan basis Akuntansi yang sekarang ada dan berlaku.

Yang kedua adalah pengembangan berdasarkan basis dari ajaran Islam. Dan yang terakhir yang banyak dikenal dan dilakukan saat ini berdasarkan basis gabungan dari kedua pendekatan tersebut. Pendekatan pertama adalah pendekatan dengan mempergunakan jalur Akuntansi kontemporer modern sekarang ini.

  1. Pendekatan ini diambil oleh AAOIFI, suatu organisasi Akuntansi dan auditing internasional Islam yang bermarlas di Bahrain.
  2. Dari pendekatan ini diambil konsep Akuntansi konvensional modern, dmana konsep yang sesuai dengan Syariah Islam dan bisa diaplikasikan dalam organisasi bisnis Islam dipergunakan.

Sedang konsep yang tidak sesuai dengan Syariah Islam dikeluarkan dan tidak dipakai. Tujuan dari konsep Akuntansi Syariah berdasarkan basis Akuntansi modern ini adalah dalam rangka pengambilan keputusan dan kelangsungan Lembaga bisnis Islam. Sistem ini banyak dipergunakan oleh berbagai bank syariiah yang beroperasi di dunia internasional.

Hal ini dianggap lebih mudah karena Akuntansi syariah bisa langsung diimplementasikan di dalam berbagai Lembaga bisnis syariah. Meskipun begitu pandangan ini tidak disetujui oleh Sebagian kalangan yang berpandangan bahwa Akuntansi syariah harus disesuaikan dengan prinsip Islam sesuai dengan wahyu yang ada dalam Al Qur’an.

Pandangan akan hal ini Ini disampaikan oleh T Gambling dan RAA Karim dalam buku mereka accounting and ethics in Islam yang diterbitkan oleh Mansel Publishing Limited London di tahun 1991. Konsep ini dianggap tidak sesuai dengan syariat Islam. Selain pendekatan ini, juga muncul pendekatan lain yang berbeda dengan pendekatan induktif.

Pendekatan ini dinamakan dengan pendekatan deduktif. Pendekatan ini menekankan pada tujuan dari Akuntansi agar dilaksanakan sesuai dengan syariah Islam. Pelopor dari pendekatan ini di Indonesia adalah Prof Iwan Triyuwono dari Universitas Brawijaya Malang serta Prof Ahyar Adnan dari UII Jogja. Mereka yang berplir bahwa Akuntansi syariah bisa berkembang dari pemikiran ini menyatakan bahwa konsep ini merupakan konsep yang paling baik dalam rangka pengembangan Akuntansi syariah, karena bisa mengurangi adanya pemikiran sekuler di dalam Akuntansi yang memurut mereka banyak ada di dalam Akuntansi konvensional.

Salah satu yang mendukung konsep ini juga salah satunya adalah Dr Ari Kamayanti dari Universitas Brawijaya Malang. Meskipun itu juga terdapar pandangan lain yang tidak setuju dengan pendekatan ini, karena dianggap tidak praktis. Selain kedua pendekatan ini juga terdapar pendekatan lain, yaitu yang dinamakan dengan pendekatan hybrid, atau gabungan.

  • Pendekatan hybrid ini banyak diterapkan di dalam perbankan konvensional dan juga perusahaan konvensional.
  • Pendekatan konvensional ini salah satunya dilakukan oleh Lembaga GRI dan juga ACCA dalam dunia Akuntansi konvensional.
  • Sebagai contoh yang dlalkukan oleh GRI adalah melakukan pembuatan standar laporan perusahaan dengan mengedepankan konsep 3 dasar yang utama, yaitu konsep ekonomi, konsep social dan juga konsep lingkungan.

Dari konsep tersebut kemudian Akuntansi syariah juga berkembang, dimana caranya adalah dengan melakukan apresiasi atas apa yang telah dibuat di barat ( baca: Akuntansi konvensional ) dan kemudian konsep itu dilakukan untuk dipergunakan di dalam akuntansi syariah.2 akademisi Akuntansi yang mendukung konsep ini adalah Rizal Yaya dari UII Indonesia dan Prof Shahuul Hameed dari Malaysia, dalam Penelitian mereka yang berjudul ” “Socio-Regius Setting and Its Impact on Accounting Academicians”

  • Gambar: Prof Shahuul Hameed, Pendukung konsep hybrid di Akuntansi syariah
  • Referensi:
  • AAOIFI, 2003, ” Accounting and Auditing and Governance Standards For Islamic Fimancial Institutions”, Manama, AAOIFI
  • Yaya, Rizal, et al ( 2014),” Akuntansi Perbankan Syariah, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta

Image Sources: Google Images : Sejarah Perkembangan dan Pemikiran Akuntansi Syariah

Apa saja pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan Akuntansi Syariah?

6.3 jenis pendekatan yang digunakan dalam mengembangkan akuntansi syariah adalah: a. Pendekatan Induktif Berbasis Akuntansi Kontemporer Pendekatan ini biasa disingkat dengan pendekatan induktif, yang dipelopori oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution).

Apa perbedaan antara akuntansi syariah dan Akuntansi konvensional?

Perbedaan yang mendasar antara akuntansi syariah dan akuntansi konvensional adalah pada akuntansi syariah memakai sistem cash basis dan pada akuntansi konvensional memakai prinsip acrual basis. Secara struktur, aktiva pada akuntansi syariah berbeda dengan akuntansi konvensional.

You might be interested:  Pihak Yang Bertanggung Jawab Untuk Melakukan Penyusunan Laporan Keuangan Adalah?

Apa itu Pendekatan akuntansi keuangan Barat?

PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN AKUNTANSI SYARIAH PENDEKATAN DALAM MENGEMBANGKAN AKUNTANSI SYARIAH Pendekatan Induktif Berbasis Akuntansi Kontemporer Pendekatan ini biasa disingkat dengan pendekatan induktif, yang dipelopori oleh AAOIFI (Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution).

  1. Pendekatan ini menggunakan tujuan akuntansi keuangan Barat yang sesuai dengan organisasi bisnis Islam dan mengeluarkan bagian yang bertentangan dengan ketentuan syariah.
  2. Argumen yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa pendekatan ini dapat diterapkan dan relevan dengan intitusi yang memerlukannya.

Selain itu, pendekatan ini sesuai dengan prinsip ibaha (boleh) yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terkait dalam bidang muamalah boleh dilakukan sepanjang tidak ada larangan yang menyatakannya. Adapun argumen yang menentang pendekatan ini menyatakan bahwa ini tidak bisa diterapkan pada masyarakat yang kehidupannya wajib berlandaskan pada wahyu dan dipandang merusak karena mengandung asumsi yang tidak Islami.

Pendekatan Deduktif dari Sumber Ajaran Islam Pendekatan deduktif ini dipelopori oleh beberapa pemikir akuntansi syariah, antara lain Iwan Triyuwono, Akhyar Adnan, Gaffikin dan beberapa pemikit lainnya. Mereka berpandangan bahwa tujuan akuntansi syariah adalah pemenuhan kewajiban zakat. Pendekatan ini diawali denngan menentukan tujuan berdasarkan prinsip ajaran Islam yang terdapat dalam Al-Qur‗an dan Sunnah.

Kemudian tujuan tersebut dignakan untuk mengembangkan akuntansi kontemporer. Argumen yang mendukung pendekatan ini menyatakan bahwa pendekatan ini akan memminimalisasi pengaruh pemikiran sekuler terhadap tujuan dan akuntansi yang dikembangkan. Adapun argumen yang menentang menyatakan bahwa pendekatan ini sulit dikembangkan dalam bentuk praktisnya.

  1. Pendekatan ini didasarkan pada prinsip syariah yang sesuai dengan ajaran Islam dan persoalan masyarakat yang akuntansi syariah mungkin dapat bantu menyelesaikan.
  2. Pendekatan ini dipelopori oleh pemikir akuntansi syariah Shahul Hameed.
  3. Pendekatan Hibrid secara parsial telah diterapkan di lingkungan beberapa perusahaan konvensional.

Pendekatan ini mengapresiasi perkembangan akuntansi sosial dan lingkungan di Eropa dalam tiga dekade terakhir, dan menganggap itu perlu diaplikasikan dalam akuntansi syariah. Dan selanjutnya yang perlu dilakukan oleh pemikir akuntansi Islam adalah mengembangkan triple bottom line menjadi fourt bottom line (ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesesuaian syariah).

Apakah teori akuntansi dengan teknik akuntansi yang dihasilkan harus didasarkan pada kegunaan akhir laporan keuangan?

Pendekatan yang ada dalam akuntansi syari’ah ini ditinjau dari pendekatan tradisional yang telah dapat diterima lebih tinggi disbanding pendekatan baru. Beberapa pendekatan tradisional adalah : 1. Pendekatan Nonteoritis,praktis, atau pragmatis 2. Pendekatan teoritis 3.

Deduktif 4. Induktif 5. Etis 6. Sosiologis 7. Ekonomis Pendekatan Nonteoritis, praktis, atau pragmatis Pendekatan nonteoritis adalah suatu pendekatan pragmatis (atau praktis) dan suatu pendekatan otoriter. Pendekatan pragmatis adalah pembentukan suatu teori yang berciri khas sesuai dengan praktik senyatanya, dan pembentukan teori tersebut mempunyai kegunaan ditinjau dari segi cara penyelesaian yang pragtis sebagaimana yang diusulkan.

Menurut pendekatan ini, teknik dan prinsip akuntansi harus dipilih karena kegunaannya bagi pemakai informasi akuntansi dan relevansinya tergadap proses pengambilan keputusan. Kegunaan atau faedah mengandung arti bahwa” sesuatu sifat yang menjadi sesuatu bermanfaat untuk membantu atau mempermudah mencapai tujuan yang dimagsudkannya.

  1. Pendekatan otoriter adalah adalah perumusan suatu teori akuntansi, yang umumnya digunakan oleh organisasi professional, dengan menerbitkan pernyataan sebagai peraturan praktik akuntansi.
  2. Oleh karena pendekatan otoriter juga berusaha memberikan cara penyelesaian yang praktis.
  3. Edua pendekatan ini beranggapan bahwa teori akuntansi dengan teknik akuntansi yang dihasilkan harus didasarkan pada kegunaan akhir laporan keuangan jika akuntansi menghendaki mempunyai satu fungsi yang bermanfaat.

Dengan kata lain suatu teori yang tanpa konsekwensi praktis merupakan teori yang buruk. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif adalah pendekatan yang digunakan dalam membentuk teori yang dimulai dari dalil-dalil dasar tindakan-tindakan dasar untuk mendapatkan kesimpulamn logis tentang pokok yang sedang dipertimbangkan.

Jika diterapkan dalan akuntansi, maka pendekatan deduktif dimulai dengan dalil dasar akuntansi atau alaan dasar akuntansi dan tindakan dasar akuntansi untuk mendapatkan prinsip akuntansi dengan cara yang logis yang bertindak sebagai penentun dan dasar pengembangan teknik akuntansi. Pendekatan ini berjalan dari umum (dalil dasar tentang lingkungan akuntansi) ke khusus (pertama ke prinsip akuntansi, dan kedua pada teknik akuntansi).

Apabila pada saat ini kita beranggapan, bahwa dalil dasar tentang lingkungan akuntansi terdiri dari tujuan dan pernyataan, maka langkah yang digunakan bagi pendekatan deduktif akan meliputi sebagai berikut: 1. Menetapkan “tujuan” laporan keuangan 2. Memilih “aksioma” akuntansi 3.

Memperoleh “prinsip” akuntansi 4. Mengembangkan “teknik” akuntansi. Oleh karena itu, menurut teori akuntansi yang diperoleh secara deduktif, teknik ini berkaitan dengan prinsip dan aksioma serta menurut suatu cara yang sedemikian rupa sehingga apabila prinsip dan oksioma serta tujuan benar, maka teknik pun harus menjadi benar.

Struktur teoritis akuntansi ditetapkan menurut rangkaian tujuan, aksioma, prinsip, teknik yang bertumpu pada suatu perumusan tujuan akuntansi yang tepat. Dalam hal ini diperlukan juga suatu perumusan tujuan akuntansi yang tepat. Dalam hal ini diperlukan juga suatu pengujian yang tepat terhadap suatu teori yang dihasilkan.1.

  • Pendekatan Induktif Pendekatan induktif terhadap pembentukan suatu teori dimulai dari pengamatan dan pengukuran serta menuju kea rah kesimpulan yang digeneralisasi.
  • Apabila diterapkan pada akuntansi, maka pendekatan induktif dimulai dari pengamatan informasi keuangan perusahaan, dan hasilnya untuk disimpulkan, atas dasar hubungan kejadian, kesimpulan dan prinsip akuntansi.
You might be interested:  Ada Beberapa Faktor Yang Perlu Diperhatikan Saat Melakukan Pemungutan Pajak?

Penjelasan-penjelasan deduktif dikatakan berjalan dari khusus menuju kea rah umum. Pendekatan induktif pada suatu teori melibatkan empat tahap: a. Pengamatan dan pencatatan seluruh pengamatan; b. Analisis dan pengklasifikasian pengamatan tersebut untuk mencari hubungan yang berulang kali yaknihubungan yang sama dan serupa; c.

  • Pengambilan generalisasi dan prinsip akuntansi induktif dari pengamatan tersebut yang menggambarkan hubungan yang berulang terjadi; d.
  • Pengujian generalisasi Tidaklah seperti halnya dengan masalah pengambilan keputusan secara deduksi, kebenaran atau kepalsuan dalil tidak tergantung pada dalil lain tetapi harus dibuktikan secara empiris.sedangkan dalam hal induksi, kebenaran dalil tergantung pada pengamatan kejadian yang cukup memadai dari hubungan yang berulang kali terjadi.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau beberapa penulis induktif terkadang mengemukakan pemikiran deduktif, dan penulis deduktif terkadang mengemukakan pemikiran induktif. Juga menarik perhatian untuk diperhatikan bahwa ketika Littleton, seorang teoritis induktif, dan Paton seorang teoritikus deduktif bekerja sama, hasilnya bersifat campuran, yang membuktikan suatu perpaduan antara dua pendekatan.2.

  1. Pendekatan Etis Inti dasar pendekatan etis adalah terdiri atas konsep-konsep keadilan, kejujuran, kebenaran, serta kewajaran.
  2. Onsep tersebut digunakan oleh D.
  3. R Scott sebagai criteria utama untuk perumusan suatu teori akuntansi.
  4. Ia menyatakan perlakuan yang “justice” dengan perlakuan yang setara atau sama (equitable), terhadap seluruh pihak yang berkepentingan, menyamakan laporan akuntansi yang “truth” dengan laporan akuntansi yang true dan accurate tanpa kesalahan penyajian; dan menyamakan “fairness” dengan penyajian yang fair, unbiased, dan impartical.

Spacek satu langkah lebih maju dalam rangka menegaskan keunggulan konsep kewajaran: Suatu pembahasan tentang aktiva kewajiban, penghasilan, dan biaya belumlah saatnya dan tidak ada gunanya sebelum menentukan prinsip dasar yang akan menghasilkan suatu penyajian data yang wajar dalam bentuk akuntansi keuangan dan laporan keuangan.

Kewajaran akuntansi dan laporan ini harus ada dan untuk masyarakat tersebut mewakili berbagai golongan masyarakat kita Kewajaran merupakan suatu tujuan yang diperlukan sekali dalam pembentukan suatu teori akuntansi apabila apapun yang dipaksakan pada dasarnya dapat dibuktikan secara logis atau secara empiris dan apabila dioperasikan melaliu suatu definisi yang memadai dan melalui pengenalan sifat-sifatnya.3.

Pendekatan Sosiologis Pendekatan sosiologis perumusan suatu teori akuntansi menekankan pengaruh social terhadap teknik akuntansi. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan etis yang memusatkan pada suatu konsep kewajaran yang lebih luas, yakni kesejahteraan social.

Menurut pendekatan sosiologis, suatu prinsip atau teknik akuntansi akan bermanfaat bagi pertimbangan kesejahteraan social. Untuk mencapai tujuan tersebut, pendekatan sosiologis menganggap eksistensi “nilai-nilai social yang terbentuk” yang dapat dipergunakan sebagai criteria penentuan teori akuntansi.

Pendekatan sosiologis dalam perumusan teori akuntansi telah membantu evolusi suatu cabang ilmu akuntansi baru, yang disebut Akuntansi Sosio-ekonomi. Tujuan utama sosio-ekonomi adalah mendorong badan usaha berfungsi dalam suatu system pasar bebas untuk mempertanggungjawabkan aktivitas produksi sendiri terhadap lingkungan social melaliu pengukuran, internalisasi, dan pengungkapan dalam laporan keuangan.

Bertahun-tahun perhatian terhadap cabang ilmu tersebut semakin meningkat akibat meningkatnya dukungan terhadap tanggung jawab social, yang menitikberatkan pada “ukuran social” tergantung pada “nilai-nilai social,” dan memenuhi suatu criteria kesejahteraan social, kemungkinan akan memainkan suatu peran penting dalam perumusan suatu teori akuntansi di masa yang akan datang.4.

Pendekatan Ekonomis Pendekatan ekonomi terhadap suatu perumusan suatu teori akuntansi menitikberatkan pengendalian perilaku indicator makroekonomi yang diakibatkan oleh pemakaian berbagai teknik akuntansi. Sementara pendekatan etis memfokuskan pada konsep “kesejahteraan social,” pendekatan ekonomi memfokuskan pada konsep “kesejahteraan ekonomi umum”.

Menurut pendekatan ini, pemilihan teknik akuntansi yang berbeda tergantung pada pengaruhnya terhadap kebaikan perekonomian nasional. Swedia merupakan contoh yang lazim sebagai Negara yang menyesuaikan kebijakan akuntansinya dengan kebijakan makroekonomi laainnya. Lebih tegasnya, pemilihan teknik akuntansi akan tergantung kepada situasi ekonomi tertentu.

Missal metode masuk terakhir keluar pertama (last In First Out-LIFO) akan menjadi teknik akuntansi yang lebih menarik dalam suatu periode inflasi yang terus berlangsung. Selama periode inflasi, metode MTKP atau LIFO dianggap menciptakan pendapatan bersih tahunan yang lebih rendah karena menanggung lebih tinggi biaya yang semakin membumbung bagi barang-barang yang terjual disbanding menurut metode masuk pertama keluar pertama (First In First Out-FIFO) ataupun metode rata-rata biaya (average cost) Oleh karena itu, dalam rangka penentuan norma akuntansi, petimbangan-pertimbangan yang dinyatakan oleh pendekatan ekonomi lebih bersifat ekonomis daripada operasional.