Teknologi Yang Digunakan Untuk Mencatat Transaksi Keuangan Dari Bitcoin Adalah?

Teknologi Yang Digunakan Untuk Mencatat Transaksi Keuangan Dari Bitcoin Adalah
Beda Blockchain dengan Bitcoin Bitcoin kembali ramai dibicarakan belakangan ini. Nilai satuannya sempat melesat hingga US $17.000 (Rp230,2 juta) pada Jumat (8/12/2017), walau kemudian turun lagi hingga sedikit di atas US $15.000. Padahal pada Januari 2017, nilai satu koinnya hanya sekitar US $800.

  • Kenaikan yang luar biasa itu membuat para pemiliknya kini telah menjadi jutawan, bahkan miliarder, baru.
  • Salah satu jenis cryptocurrency-mata uang digital yang menggunakan kriptografi untuk keamanan yang membuatnya tidak dapat dipalsukan-ini memiliki sifat yang sama layaknya valuta yakni memiliki nilai tukar dengan mata uang tertentu yang fluktuatif.
  • Mendengar Bitcoin maka terangkat juga nama Blockchain yang menyertainya.

Pada awalnya, seseorang atau sekelompok orang yang menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto, memperkenalkan Bitcoin pada 2008. Hingga saat ini ia/mereka belum diketahui identitas aslinya. Satoshi Nakamoto hanya bisa dihubungi melalui surel dan media sosial.

  1. Untuk menjalankan Bitcoin itu, Satoshi Nakamoto menciptakan sistem database yang kemudian disebut Blockchain.
  2. Secara sederhana Blockchain adalah “buku besar publik” (digital ledger) untuk memastikan bahwa setiap transaksi yang terjadi menggunakan Bitcoin yang valid dan pergerakan uang itu tercatat jelas.
  3. Pada perkembangannya, dituturkan Harvard Business Review, Blockchain diketahui bisa dipisahkan dari Bitcoin dan digunakan untuk hal lain terkait kerja sama antar-organisasi atau individu.
  4. Beberapa cryptocurrency lainnya-misal Ripple, Litecoin, Nubits, Paycoin, dan Dogecoin-juga memanfaatkan teknologi tersebut.
  5. Dengan teknologi sistem basis data ini, maka semua transaksi pengguna cryptocurrency dapat tercatat dalam blok-blok yang terlindungi dengan sandi-sandi rumit.

Cakupan besarnya, Blockchain akan dapat dilihat secara umum (open source) layaknya buku kas induk di bank yang mencatat semua transaksi nasabah. Karena bisa dilihat secara umum, kemungkinan terjadinya penipuan bisa diminimalkan. Teknologi tersebut juga dapat digunakan untuk perjanjian berbasis kontrak lainnya, dan bekerja sedemikian rupa sehingga tidak ada satu entitas pun yang mengatur transaksi-karena setiap orang mengatur setiap transaksi.

Untuk menjelaskan lebih lanjut, salah satu pendiri Block Tech, Steven Suhadi, menerangkan apa itu Blockchain kepada CNN Indonesia (6/12). Tak ubahnya seperti sistem Android di mana aplikasi berjalan dengan sistem tersebut, “Bitcoin adalah aplikasi di atas blockchain. Blockchain memiliki aplikasi yang jauh lebih baik dari sekedar bitcoin,” katanya.

Blockchain menggunakan system terdesentralisasi yang memungkinkan efisiensi. Ketika seseorang membeli koin Bitcoin, sistem komputer yang terhubung jaringan Blockchain akan mencatat dan memberikan validitas secara otomatis. Sehingga, minim kesalahan, cepat, lebih murah dan mudah.

  • Alau di Bitcoin, misalnya ada satu koin Bitcoin.
  • Saya akan memberikan satu Bitcoin ini pada orang A.
  • Omputer saya akan memberitahukan ke seluruh jaringan Bitcoin untuk mencatat bahwa koin itu sekarang milik A jadi ketika koin itu diklaim orang lain, maka akan ketahuan itu bohong.
  • Arena, pemiliknya adalah A,” jelas Steven.

Blockchain memanfaatkan konsensus, kondisi yang tercapai ketika semua peserta dalam jaringan menyetujui validitas sebuah transaksi dengan mencatat apa yang tercatat oleh komputer dalam data besar cocok satu sama lain. Bitcoin ditolak, Blockchain tidak Melalui Menteri Komunikasi dan Informatika, Indonesia sudah menyatakan menentang keberadan Bitcoin dan cryptocurrency lainnya.

Meski demikian, Rudiantara mengatakan bahwa pihaknya tidak menolak kehadiran Blockchain. “Blockchain itu sesuatu yang tidak bisa dihindari sehingga saya mendukung karena apa? Karena teknologi ini bisa memberikan transparansi. Itu nanti akan memudahkan KPK nantinya,” ujarnya dikutip dari CNN Indonesia (6/12).

Lebih lanjut Rudi menjelaskan bahwa Blockchain bisa diterapkan di perbankan. Sebab, teknologi ini memudahkan bank untuk bisa melacak kapan, ke mana, dari mana, dan berapa, uang yang berpindah dari satu bank ke bank lain. “Blockchain itu sesuatu yang tidak bisa dihindari sehingga saya mendukung.

  • Arena apa? Karena teknologi ini bisa memberikan transparansi.
  • Itu nanti akan memudahkan KPK nantinya,” ujarnya.
  • Sementara Bitcoin menurutnya seperti komoditas.
  • Tidak seperti Blockchain yang digunakan perbankan, mata uang kripto ini tidak jelas asal usulnya.
  • Itu yang dijual kan komoditas.
  • Saya hari ini beli 10 juta, besok saya beli 11 juta.

Itu siapa pemiliknya, gimana asal usulnya? Kan nggak ada,” papar Rudi. Sebelumnya, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Eni Panggabean mengatakan, penggunaan Bitcoin menyalahi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2017. Dalam undang-undang itu disebutkan bahwa Rupiah adalah mata uang yang sah di dalam negeri.

Lima bank besar asal Indonesia juga terlihat sedang bersiap menerapkan teknologi Blockchain. Mereka bekerjasama dengan perusahaan teknologi raksasa Amerika Serikat, IBM. Kelima bank tersebut adalah Bank Mandiri, BNI, BRI, Bank Danamon dan Bank Permata seperti dilansir dari Viva.co.id (8/12). Direktur Utama IBM Indonesia, Gunawan Susanto, menjelaskan bahwa manfaat teknologi Blockchain untuk industri perbankan adalah mempercepat transaksi pengiriman uang dari satu negara ke negara lain.

Selama ini, untuk transaksi pengiriman uang harus melalui negara yang bersangkutan dahulu baru masuk ke bank di negara tersebut. Gunawan menjelaskan, dengan teknologi Blockchain, transaksi sampai uang diterima dari pengirim ke penerima dapat dilakukan hanya dalam waktu 15 detik.

  • Secara resmi, kata dia, teknologi Blockchain dipakai untuk transaksi pengiriman antar negara go live pada kuartal I 2018.
  • IBM juga tidak berjalan secara independen, melainkan akan terus melaporkan perkembangan Blockchain kepada Otoritas Jasa Keuangan agar teknologi ini tetap pada jalur resminya, sesuai dengan aturan dari pemerintah Indonesia.
  • Sumber: https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/beda-blockchain-dengan-bitcoin

: Beda Blockchain dengan Bitcoin

Apa itu Bitcoin?

Bitcoin, Teknologi Blockchain dan Internet Of Things (IoT) Banyak kasus bisnis dipecahkan dengan menggunakan distributed ledger technology. Hal ini dapat digunakan dalam banyak kasus dimana layanan kepercayaan dibutuhkan oleh aplikasi bisnis, yakni dengan memanfaatkan teknologi blockchain sebagai platform aplikasi untuk membangun infrastruktur kepercayaan yang mendasari sistem.

  • Bitcoin merupakan salah satu implementasi nyata pertama dari blockchain.
  • Blockchain dapat memproses transaksi lebih efisien karena tidak menggunakan infrastruktur terpusat.
  • Selain itu, dengan sifat terdistribusi dan adanya protocol consensus, transaksi antara dua pihak dapat diselesaikan tanpa pihak ketiga karena adanya aspek trustless, yakni pihak-pihak yang tidak saling percaya sebelumnya dapat saling bertransaksi tanpa pihak ketiga yang dipercaya ( trusted third party).

Bitcoin dan blockchain memecahkan masalah mata uang digital yang sangat tua yang banyak dicoba dilakukan oleh mata uang digital lainnya di masa lalu, yang dikenal dengan pengeluaran ganda ( double spending problem). Pengeluaran ganda ini berarti membelanjakan mata uang digital yang sama dua kali dan bitcoin memecahkan masalah ini dengan memastikan konsensus terdistribusi.

Bayu Anggorojati, Ph.D, salah satu dosen Fakultas Ilmu Komputer UI, mengembangkan penelitian pada minat utamanya di bidang access control, identity management, cryptography, IoT, cloud system dan blockchain. Salah satu dari penelitian yang pernah dilakukan Bayu bersama Abidzar Gifari, S.Kom dan Setiadi Yazid, Ph.D adalah mengenai transaksi bitcoin di Indonesia dalam jurnal ” On Preventing Bitcoin Transaction from Money Laundering in Indonesia: Analysis and Recommendation on Regulations”.

Bayu membagikan pandangannya tentang potensi bitcoin, teknologi blockchain, yang diawali dengan pemaparan dari potensi IoT. Internet of Things (IoT) dan Potensi Pertumbuhannya Internet of Things (IoT) sudah menjadi topik pembicaraan yang semakin berkembang beberapa waktu terakhir ini.

  • IoT merupakan konsep yang tidak hanya berpotensi untuk memengaruhi cara kita hidup tetapi juga cara kita bekerja.
  • Broadband internet telah banyak tersedia, banyak perangkat dibuat dengan kemampuan Wi-Fi dan sensor yang dibangun di dalamnya, biaya teknologi menurun, dan penetrasi ponsel cerdas juga meroket.
You might be interested:  Mengapa Sda Bisa Menjadi Modal Utama Pembangunan?

Semua hal ini menciptakan “pintu” bagi IoT. Sederhananya, IoT dapat kita pahami sebagai konsep yang menghubungkan perangkat apapun dengan tombol on & off ke internet. Hampir semua objek fisik dapat diubah menjadi perangkat IoT jika dapat terhubung ke internet dan dikendalikan dengan internet.

Smartwatch atau fitness band merupakan contoh perangkat IoT. Ini juga berlaku untuk komponen mesin seperti misalnya mesin jet pesawat terbang dll. Jika memiliki tombol aktif dan non aktif maka kemungkinan itu bisa menjadi bagian dari IoT. Pada skala yang lebih luas, IoT dapat diterapkan pada hal-hal seperti jaringan transportasi: “smart cities” yang dapat membantu meningkatkan efisiensi seperti penggunaan energi.

Realitanya adalah IoT memungkinkan adanya peluang dan koneksi yang bahkan tidak dapat kita pikirkan sepenuhnya hari ini namun mungkin terjadi di masa depan. IoT membuka pintu untuk banyak peluang tetapi juga banyak tantangan. Security (keamanan) adalah masalah besar yang seringkali muncul.

  • Dengan miliaran perangkat yang disambungkan bersama, apa yang dapat dilakukan orang untuk memastikan bahwa informasinya tetap aman? Masalah yang akan dihadapi banyak perusahaan secara khusus adalah tentang sejumlah besar data yang akan diproduksi oleh berbagai perangkat.
  • Perusahaan perlu mencari cara untuk menyimpan, melacak, menganalisis dan memahami sejumlah besar data yang akan dihasilkan.

Pertumbuhan IoT berpotensi signifikan dan cepat dalam waktu dekat. Mengacu pada data McKinsey (2013), pertumbuhan yang cukup potensial dan memiliki dampak di market adalah aplikasi perawatan kesehatan dan manufaktur. Aplikasi layanan kesehatan dan layanan berbasis IoT seperti m-Health dan Telecare yang memungkinkan layanan kesehatan, pencegahan, diagnosis, perawatan dan pemantauan melalui media elektronik diproyeksikan akan bertumbuh pesat pada tahun 2025.

  1. Solusi IoT diharapkan dapat mengatasi masalah keamanan dan privasi pada perangkat dan data yang dikumpulkan, dihasilkan dan diproses.
  2. Baru-baru ini, teknlogi blockchain telah mendapatkan banyak perhatian dalam solusi IoT.
  3. Walaupun teknologi blockchain lebih terkenal di bidang keuangan, yang dikenal dengan cryptocurrency (dimana bitcoin merupakan implementasi blockchain pertama), teknologi blockchain juga dapat dimanfaatkan sebagai solusi bagi keamanan dan prvasi khususnya dalam akses kontrol.

Kita dapat melihat bahwa IoT dan blockchain, pada saat yang sama, menciptakan kemungkinan baru. IoT yang memiliki sifat terdistribusi dapat memperoleh manfaat dari sifat terdesentralisasi yang dimiliki blockchain. Bitcoin dan Teknologi Blockchain Sektor yang paling terkena dampak dari pengembangan IT adalah ekonomi, sehingga istilah ekonomi digital semakin akrab.

Orang-orang saat ini lebih memilih untuk melakukan transaksi online daripada konvensional karena kepraktisan dan kenyamanannya. Misalnya membeli dan menjual produk atau layanan melalui platform online seperti Bukalapak, Traveloka, atau Gojek. Ini juga mengarah pada pertumbuhan transaksi keuangan online yang menawarkan peluang bisnis baru di bidang teknologi keuangan atau FinTech ( Financial Technology ).

Salah satu produk berbasis teknologi yang mendapatkan perhatian orang Indonesia baru-baru ini adalah mata uang virtual yang dikenal dengan bitcoin. Bitcoin merupakan salah satu mata uang digital yang paling banyak digunakan di dunia. Meskipun bitcoin adalah mata uang digital, ada beberapa sistem yang disebut blockchain yang memungkinkan bitcoin memiliki transaksi yang dapat diandalkan tanpa campur tangan pihak ketiga.

  1. Oleh karena realibilitasnya, bitcoin memiliki sejumlah besar transaksi di seluruh dunia.
  2. Teknologi blockchain dalam bitcoin dieksekusikan dengan scripting language dengan menggunakan metode kriptografi.
  3. Ini berarti bahwa blockchain adalah platform dengan bahasa scripting yang dapat memecahkan banyak kasus dan bukan hanya cryptocurrency.

Setiap pengguna sistem dapat melakukan query transaksi secara real time. Manfaat lainnya dari cryptocurrency yang disediakan oleh teknologi blockchain adalah transfer yang dapat melintasi batas-batas nasional dalam hitungan detik, dengan biaya minimum dan tanpa melalui entitas pihak ketiga seperti bank.

  1. Perluasan penggunaan cryptocurrency akan dapat mengatasi kekhawatiran pemerintah seperti perlindungan terhadap pencucian uang, perdagangan terlarang, volatile value dan kurangnya pengakuan oleh pihak yang dipercaya.
  2. Blockchain bermanfaat untuk digital identity.
  3. Di setiap komunitas dan korporasi, kebutuhan akan satu sumber yang tersentralisasi tentang identitas, menjadi suatu keharusan dan sangat penting.

Hal ini menjadi fokus banyak perusahaan, termasuk misalnya Microsoft dan IBM. Pengguna mendapatkan lebih banyak kontrol atas identitas mereka karena mereka dapat membagikannya hanya dengan pihak terpercaya. Tidak ada entitas terpusat tunggal yang bisa mengutak-atik identitas pengguna atau data.

Untuk users (pengguna), model ini meningkatkan aksesibilitas, privasi data dan kontrol atas data pribadi mereka. Untuk perusahaan, model ini mengurangi biaya identity management, mempermudah proses pemantauan, dan meningkatkan layanan serta efisiensi pelanggan. Sebagai contoh, dalam industry real estate misalnya, yang berurusan dengan properti dan melibatkan berbagai pihak seperti pemilik, pemberi pinjaman, investor dan penyedia layanan.

Transaksi antara entitas-entitas ini dapat menjadi masalah dengan sistem terpusat tradisional yang ada. Kesulitan dapat berasal dari banyak faktor, termasuk kurangnya kepercayaan diantara pihak tsb, penipuan dll. Teknologi blockchain, dalam contoh ini, dapat membantu sistem real estate dengan mesin pencari dan sumber pencarian yang sangat efisien untuk properti yang dijual saat ini.

Bitcoin sebagai implementasi nyata dari blockchain dan teknologi keuangan baru yang mendapatkan banyak popularitas di seluruh dunia, telah mulai mengubah cara orang melakukan transaksi keuangan. Dibandingkan dengan negara lain seperti USA, Jepang, Cina atau Korea Selatan, transaksi bitcoin di Indonesia sangat rendah.

Di Indonesia, bitcoin lebih dikenal karena masalah negatif seperti pencucian uang daripada penggunaannya dalam transaksi keuangan. Salah satu fakta menarik untuk digali adalah belum adanya peraturan yang secara eksplisit mengatur penggunaan bitcoin, khususnya di Indonesia.

  • Regulasi yang mengatur bitcoin atau mata uang virtual di Indonesia belum jelas.
  • Hingga saat ini, hanya ada pernyataan tentang bitcoin dari BI dan peraturan dari OJK bahwa perusahaan yang mendapatkan izin BI tidak diperbolehkan memproses mata uang virtual.
  • Bayu Anggorojati, Abidzar Gifari dan Setiadi Yazid memaparkan tentang rekomendasi penting bagi pengambil kebijakan terkait transaksi bitcoin di Indonesia.

Beberapa rekomendasi yang ditawarkan, baik sebagai masukan untuk penyusunan peraturan tentang bitcoin sebagai mata uang virtual di Indonesia serta rekomendasi untuk perusahaan bitcoin dalam mencegah pencucian uang, diantaranya:

Perizinan pertukaran bitcoin ( licensing bitcoin exchange), Setiap perusahaan yang terlibat dalam mata uang virtual, termasuk bitcoin perlu dilisensikan. Lisensi dikeluarkan oleh otoritas yang dimandatkan oleh undang-undang atau pemerintah. Pemberian lisensi bertujuan untuk mempermudah proses audit terhadap bitcoin dan mata uang virtual lainnya. Sensor dari bank sentral. BI sebagai bank sentral yang bertanggungjawab untuk mengendalikan mata uang dan sistem pembayaran di Indonesia. Kehadiran bitcoin di Indonesia akan memengaruhi sistem keuangan Indonesia. Dalam kasus terburuk, bitcoin dapat mengganggu nilai tukar IDR. Karena itu, BI perlu mengatur ketat sirkulasi dan siapa yang dapat mensirkulasikan bitcoin, dan mengendalikan sirkulasinya untuk mempertahankan nilai tukar IDR. Meskipun bitcoin tidak diakui sebagai mata uang, ni melibatkan ekonomi dalam peredarannya. Oleh karena itu, BI perlu mengaturnya meskipun dalam domain digital. Mekanisme Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap perusahaan yang terlibat dalam bitcoin, terutama pertukaran bitcoin harus memiliki mekanisme redemption (penebusan) yang baik dan jelas dari bitcoin ke IDR. Setiap aktivitas dalam mekanisme harus dicatat dengan jelas untuk memudahkan pelacakan oleh pihak berwenang. Manajemen Keamanan informasi. Perusahaan bitcoin manapun harus mengelola manajemen keamanan informasinya dengan tepat untuk mencegah eksploitasi kerentanan sistem dan secara optimal meminimalkan resiko keamanan. Infrastruktur yang mendukung sistem transaksi bitcoin harus ditingkatkan sehingga transaksi aman dapat dipastikan. Anti-money laundering program. Setiap perusahaan yang terlibat dalam mata uang virtual termasuk bitcoin, harus memiliki sistem yang dapat melacak dan mendeteksi pengguna atau bitcoin mana yang diindikasikan untuk tindakan pencucian uang. Deteksi dini oleh perusahaan bitcoin dapat membantu pihak berwenang dalam mendeteksi pencucian uang. Perusahaan bitcoin perlu memiliki program anti pencucian yang yang terdiri dari kebijakan dan prosedur, tim khusus serta sistem anti pencucian uang. Anti-money laundering system in bitcoin exchange. Pertukaran bitcoin harus memiliki sistem yang mampu mendeteksi indikasi pencucian dan menganalisis bagaimana dan siapa yang melakukan pencucian uang dalam sistem elektronik perusahaan. Di sistem perusahaan, ID pengguna yang dibuat dalam pendaftaran harus disimpan dalam semua data transaksi bitcoin untuk mengurangi anonimitas. Mengurangi anonimitas memungkinkan pelacakan lebih mudah dari semua transaksi sehingga pencucian uang dapat diminimalkan. Setiap data transaksi pelanggan yang disimpan dalam blockchain memiliki karakteristik khusus yang dapat diklasifikasikan sesuai dengan transaksi.

You might be interested:  Asas Pemungutan Pajak Yang Digunakan Oleh Negara Indonesia Adalah?

: Bitcoin, Teknologi Blockchain dan Internet Of Things (IoT)

Apakah bitcoin bergantung pada satu penerbit utama?

Pengertian Menurut Wikipedia – Bitcoin adalah mata uang elektronik yang digunakan dalam transaksi di internet tanpa menggunakan perantara atau jasa bank. Bitcoin ini diciptakan pada tahun 2009 oleh seseorang yang menggunakan nama samaran Satoshi Nakamoto.

  • Sistem yang digunakan oleh bitcoin itu sendiri adalah sistem peer to peer (P2P).
  • Sistem dari bitcoin ini bekerja tanpa penyimpanan atau administrator tunggal di mana Departemen Keuangan Amerika Serikat menyebut bitcoin sebagai sebuah mata uang yang terdesentralisasi.
  • Tidak seperti mata uang lain yang pada umumnya, bitcoin tidak bergantung pada satu penerbit utama.

Bitcoin menggunakan sebuah database yang didistribusikan dan menyebar ke node-node dari sebuah jaringan P2P ke jurnal transaksi. Bitcoin juga menggunakan kriptografi untuk menyediakan berbagai fungsi keamanan dasar, seperti memastikan bahwa bitcoin hanya dapat digunakan oleh orang yang memang memilikinya, dan tidak pernah boleh dilakukan lebih dari satu kali. Baca Juga

Apakah bitcoin bersifat mubah?

Bagaimana Bitcoin Menurut Islam? – Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bagi islam, tergantung dari niat para penggunanya. Bitcoin akan bersifat mubah atau boleh jika digunakan sebagai alat tukar bagi yang berkenan untuk menggunakan dan mengakuinya.

  • Bitcoin juga bisa bersifat gharar (spekulasi yang merugikan orang lain) jika digunakan sebagai investasi dikarenakan keadaannya yang tidak memiliki aset pendukung, harga yang tidak terkontrol, dan keberadaan yang belum terjamin resmi.
  • Bitcoin juga bisa bersifat haram jika hanya digunakan sebagai alat spekulasi dan bukan untuk investasi, atau sebagai alat permainan untung rugi buka bisnis yang menghasilkan.

Setelah mengetahui segala hal mengenai bitcoin itu sendiri, kalian juga tetap diharapkan untuk melakukan riset mengenai bitcoin itu sendiri terkait dengan sebagai alat tukar kalian. Kalian bisa mencarinya melalui website resmi mereka dengan tetap selalu up to date pada berita yang ada.

Jangan lupa untuk mendaftarkan diri kalian pada program Affiliate IB agar bisa mendapatkan income tambahan dari program tersebut. Demikian pembahasan dari GICTrade mengenai penjelasan “Pengertian Bitcoin, Cara Kerja, dan FAQ Mengenai Bitcoin”. Kalian juga bisa mencari tahu informasi yang lain seputar kripto, investasi, dan keuangan yang lainnya, seperti ” Risk Management, Tips Manajemen Risiko pada Forex hanya di Jurnal GIC,

Pastikan juga kamu memperdalam ilmu forex di GICTrade, via ebook scalping, dan juga NFP live trading,

Mengapa bitcoin lebih dikenal di Indonesia?

Bitcoin, Teknologi Blockchain dan Internet Of Things (IoT) Banyak kasus bisnis dipecahkan dengan menggunakan distributed ledger technology. Hal ini dapat digunakan dalam banyak kasus dimana layanan kepercayaan dibutuhkan oleh aplikasi bisnis, yakni dengan memanfaatkan teknologi blockchain sebagai platform aplikasi untuk membangun infrastruktur kepercayaan yang mendasari sistem.

Bitcoin merupakan salah satu implementasi nyata pertama dari blockchain. Blockchain dapat memproses transaksi lebih efisien karena tidak menggunakan infrastruktur terpusat. Selain itu, dengan sifat terdistribusi dan adanya protocol consensus, transaksi antara dua pihak dapat diselesaikan tanpa pihak ketiga karena adanya aspek trustless, yakni pihak-pihak yang tidak saling percaya sebelumnya dapat saling bertransaksi tanpa pihak ketiga yang dipercaya ( trusted third party).

Bitcoin dan blockchain memecahkan masalah mata uang digital yang sangat tua yang banyak dicoba dilakukan oleh mata uang digital lainnya di masa lalu, yang dikenal dengan pengeluaran ganda ( double spending problem). Pengeluaran ganda ini berarti membelanjakan mata uang digital yang sama dua kali dan bitcoin memecahkan masalah ini dengan memastikan konsensus terdistribusi.

  • Bayu Anggorojati, Ph.D, salah satu dosen Fakultas Ilmu Komputer UI, mengembangkan penelitian pada minat utamanya di bidang access control, identity management, cryptography, IoT, cloud system dan blockchain.
  • Salah satu dari penelitian yang pernah dilakukan Bayu bersama Abidzar Gifari, S.Kom dan Setiadi Yazid, Ph.D adalah mengenai transaksi bitcoin di Indonesia dalam jurnal ” On Preventing Bitcoin Transaction from Money Laundering in Indonesia: Analysis and Recommendation on Regulations”.

Bayu membagikan pandangannya tentang potensi bitcoin, teknologi blockchain, yang diawali dengan pemaparan dari potensi IoT. Internet of Things (IoT) dan Potensi Pertumbuhannya Internet of Things (IoT) sudah menjadi topik pembicaraan yang semakin berkembang beberapa waktu terakhir ini.

  1. IoT merupakan konsep yang tidak hanya berpotensi untuk memengaruhi cara kita hidup tetapi juga cara kita bekerja.
  2. Broadband internet telah banyak tersedia, banyak perangkat dibuat dengan kemampuan Wi-Fi dan sensor yang dibangun di dalamnya, biaya teknologi menurun, dan penetrasi ponsel cerdas juga meroket.

Semua hal ini menciptakan “pintu” bagi IoT. Sederhananya, IoT dapat kita pahami sebagai konsep yang menghubungkan perangkat apapun dengan tombol on & off ke internet. Hampir semua objek fisik dapat diubah menjadi perangkat IoT jika dapat terhubung ke internet dan dikendalikan dengan internet.

  • Smartwatch atau fitness band merupakan contoh perangkat IoT.
  • Ini juga berlaku untuk komponen mesin seperti misalnya mesin jet pesawat terbang dll.
  • Jika memiliki tombol aktif dan non aktif maka kemungkinan itu bisa menjadi bagian dari IoT.
  • Pada skala yang lebih luas, IoT dapat diterapkan pada hal-hal seperti jaringan transportasi: “smart cities” yang dapat membantu meningkatkan efisiensi seperti penggunaan energi.

Realitanya adalah IoT memungkinkan adanya peluang dan koneksi yang bahkan tidak dapat kita pikirkan sepenuhnya hari ini namun mungkin terjadi di masa depan. IoT membuka pintu untuk banyak peluang tetapi juga banyak tantangan. Security (keamanan) adalah masalah besar yang seringkali muncul.

Dengan miliaran perangkat yang disambungkan bersama, apa yang dapat dilakukan orang untuk memastikan bahwa informasinya tetap aman? Masalah yang akan dihadapi banyak perusahaan secara khusus adalah tentang sejumlah besar data yang akan diproduksi oleh berbagai perangkat. Perusahaan perlu mencari cara untuk menyimpan, melacak, menganalisis dan memahami sejumlah besar data yang akan dihasilkan.

You might be interested:  Apa Tujuan Utama Dari Audit Terhadap Laporan Keuangan Entitas?

Pertumbuhan IoT berpotensi signifikan dan cepat dalam waktu dekat. Mengacu pada data McKinsey (2013), pertumbuhan yang cukup potensial dan memiliki dampak di market adalah aplikasi perawatan kesehatan dan manufaktur. Aplikasi layanan kesehatan dan layanan berbasis IoT seperti m-Health dan Telecare yang memungkinkan layanan kesehatan, pencegahan, diagnosis, perawatan dan pemantauan melalui media elektronik diproyeksikan akan bertumbuh pesat pada tahun 2025.

  1. Solusi IoT diharapkan dapat mengatasi masalah keamanan dan privasi pada perangkat dan data yang dikumpulkan, dihasilkan dan diproses.
  2. Baru-baru ini, teknlogi blockchain telah mendapatkan banyak perhatian dalam solusi IoT.
  3. Walaupun teknologi blockchain lebih terkenal di bidang keuangan, yang dikenal dengan cryptocurrency (dimana bitcoin merupakan implementasi blockchain pertama), teknologi blockchain juga dapat dimanfaatkan sebagai solusi bagi keamanan dan prvasi khususnya dalam akses kontrol.

Kita dapat melihat bahwa IoT dan blockchain, pada saat yang sama, menciptakan kemungkinan baru. IoT yang memiliki sifat terdistribusi dapat memperoleh manfaat dari sifat terdesentralisasi yang dimiliki blockchain. Bitcoin dan Teknologi Blockchain Sektor yang paling terkena dampak dari pengembangan IT adalah ekonomi, sehingga istilah ekonomi digital semakin akrab.

  • Orang-orang saat ini lebih memilih untuk melakukan transaksi online daripada konvensional karena kepraktisan dan kenyamanannya.
  • Misalnya membeli dan menjual produk atau layanan melalui platform online seperti Bukalapak, Traveloka, atau Gojek.
  • Ini juga mengarah pada pertumbuhan transaksi keuangan online yang menawarkan peluang bisnis baru di bidang teknologi keuangan atau FinTech ( Financial Technology ).

Salah satu produk berbasis teknologi yang mendapatkan perhatian orang Indonesia baru-baru ini adalah mata uang virtual yang dikenal dengan bitcoin. Bitcoin merupakan salah satu mata uang digital yang paling banyak digunakan di dunia. Meskipun bitcoin adalah mata uang digital, ada beberapa sistem yang disebut blockchain yang memungkinkan bitcoin memiliki transaksi yang dapat diandalkan tanpa campur tangan pihak ketiga.

Oleh karena realibilitasnya, bitcoin memiliki sejumlah besar transaksi di seluruh dunia. Teknologi blockchain dalam bitcoin dieksekusikan dengan scripting language dengan menggunakan metode kriptografi. Ini berarti bahwa blockchain adalah platform dengan bahasa scripting yang dapat memecahkan banyak kasus dan bukan hanya cryptocurrency.

Setiap pengguna sistem dapat melakukan query transaksi secara real time. Manfaat lainnya dari cryptocurrency yang disediakan oleh teknologi blockchain adalah transfer yang dapat melintasi batas-batas nasional dalam hitungan detik, dengan biaya minimum dan tanpa melalui entitas pihak ketiga seperti bank.

Perluasan penggunaan cryptocurrency akan dapat mengatasi kekhawatiran pemerintah seperti perlindungan terhadap pencucian uang, perdagangan terlarang, volatile value dan kurangnya pengakuan oleh pihak yang dipercaya. Blockchain bermanfaat untuk digital identity. Di setiap komunitas dan korporasi, kebutuhan akan satu sumber yang tersentralisasi tentang identitas, menjadi suatu keharusan dan sangat penting.

Hal ini menjadi fokus banyak perusahaan, termasuk misalnya Microsoft dan IBM. Pengguna mendapatkan lebih banyak kontrol atas identitas mereka karena mereka dapat membagikannya hanya dengan pihak terpercaya. Tidak ada entitas terpusat tunggal yang bisa mengutak-atik identitas pengguna atau data.

Untuk users (pengguna), model ini meningkatkan aksesibilitas, privasi data dan kontrol atas data pribadi mereka. Untuk perusahaan, model ini mengurangi biaya identity management, mempermudah proses pemantauan, dan meningkatkan layanan serta efisiensi pelanggan. Sebagai contoh, dalam industry real estate misalnya, yang berurusan dengan properti dan melibatkan berbagai pihak seperti pemilik, pemberi pinjaman, investor dan penyedia layanan.

Transaksi antara entitas-entitas ini dapat menjadi masalah dengan sistem terpusat tradisional yang ada. Kesulitan dapat berasal dari banyak faktor, termasuk kurangnya kepercayaan diantara pihak tsb, penipuan dll. Teknologi blockchain, dalam contoh ini, dapat membantu sistem real estate dengan mesin pencari dan sumber pencarian yang sangat efisien untuk properti yang dijual saat ini.

  • Bitcoin sebagai implementasi nyata dari blockchain dan teknologi keuangan baru yang mendapatkan banyak popularitas di seluruh dunia, telah mulai mengubah cara orang melakukan transaksi keuangan.
  • Dibandingkan dengan negara lain seperti USA, Jepang, Cina atau Korea Selatan, transaksi bitcoin di Indonesia sangat rendah.

Di Indonesia, bitcoin lebih dikenal karena masalah negatif seperti pencucian uang daripada penggunaannya dalam transaksi keuangan. Salah satu fakta menarik untuk digali adalah belum adanya peraturan yang secara eksplisit mengatur penggunaan bitcoin, khususnya di Indonesia.

Regulasi yang mengatur bitcoin atau mata uang virtual di Indonesia belum jelas. Hingga saat ini, hanya ada pernyataan tentang bitcoin dari BI dan peraturan dari OJK bahwa perusahaan yang mendapatkan izin BI tidak diperbolehkan memproses mata uang virtual. Bayu Anggorojati, Abidzar Gifari dan Setiadi Yazid memaparkan tentang rekomendasi penting bagi pengambil kebijakan terkait transaksi bitcoin di Indonesia.

Beberapa rekomendasi yang ditawarkan, baik sebagai masukan untuk penyusunan peraturan tentang bitcoin sebagai mata uang virtual di Indonesia serta rekomendasi untuk perusahaan bitcoin dalam mencegah pencucian uang, diantaranya:

Perizinan pertukaran bitcoin ( licensing bitcoin exchange), Setiap perusahaan yang terlibat dalam mata uang virtual, termasuk bitcoin perlu dilisensikan. Lisensi dikeluarkan oleh otoritas yang dimandatkan oleh undang-undang atau pemerintah. Pemberian lisensi bertujuan untuk mempermudah proses audit terhadap bitcoin dan mata uang virtual lainnya. Sensor dari bank sentral. BI sebagai bank sentral yang bertanggungjawab untuk mengendalikan mata uang dan sistem pembayaran di Indonesia. Kehadiran bitcoin di Indonesia akan memengaruhi sistem keuangan Indonesia. Dalam kasus terburuk, bitcoin dapat mengganggu nilai tukar IDR. Karena itu, BI perlu mengatur ketat sirkulasi dan siapa yang dapat mensirkulasikan bitcoin, dan mengendalikan sirkulasinya untuk mempertahankan nilai tukar IDR. Meskipun bitcoin tidak diakui sebagai mata uang, ni melibatkan ekonomi dalam peredarannya. Oleh karena itu, BI perlu mengaturnya meskipun dalam domain digital. Mekanisme Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap perusahaan yang terlibat dalam bitcoin, terutama pertukaran bitcoin harus memiliki mekanisme redemption (penebusan) yang baik dan jelas dari bitcoin ke IDR. Setiap aktivitas dalam mekanisme harus dicatat dengan jelas untuk memudahkan pelacakan oleh pihak berwenang. Manajemen Keamanan informasi. Perusahaan bitcoin manapun harus mengelola manajemen keamanan informasinya dengan tepat untuk mencegah eksploitasi kerentanan sistem dan secara optimal meminimalkan resiko keamanan. Infrastruktur yang mendukung sistem transaksi bitcoin harus ditingkatkan sehingga transaksi aman dapat dipastikan. Anti-money laundering program. Setiap perusahaan yang terlibat dalam mata uang virtual termasuk bitcoin, harus memiliki sistem yang dapat melacak dan mendeteksi pengguna atau bitcoin mana yang diindikasikan untuk tindakan pencucian uang. Deteksi dini oleh perusahaan bitcoin dapat membantu pihak berwenang dalam mendeteksi pencucian uang. Perusahaan bitcoin perlu memiliki program anti pencucian yang yang terdiri dari kebijakan dan prosedur, tim khusus serta sistem anti pencucian uang. Anti-money laundering system in bitcoin exchange. Pertukaran bitcoin harus memiliki sistem yang mampu mendeteksi indikasi pencucian dan menganalisis bagaimana dan siapa yang melakukan pencucian uang dalam sistem elektronik perusahaan. Di sistem perusahaan, ID pengguna yang dibuat dalam pendaftaran harus disimpan dalam semua data transaksi bitcoin untuk mengurangi anonimitas. Mengurangi anonimitas memungkinkan pelacakan lebih mudah dari semua transaksi sehingga pencucian uang dapat diminimalkan. Setiap data transaksi pelanggan yang disimpan dalam blockchain memiliki karakteristik khusus yang dapat diklasifikasikan sesuai dengan transaksi.

: Bitcoin, Teknologi Blockchain dan Internet Of Things (IoT)