Naufal Muhsy Founder of Trifaris Media site. Sangat menyukai bisnis online dan saat ini sedang mendalami Internet Marketing dan Investasi Saham. Love you all ❤️

Pengertian Puisi Lama dan Baru

11 min read

pengertian-penjelasan-puisi-lama-dan-baru

Puisi lama dan baru- puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang menjadikan bahasa sebagai medianya.  Selain itu, puisi juga merupakan sarana yang sering digunakan untuk menyampaikan pesan.

Pesan yang ada di dalamnya bisa berupa nasehat atau ungkapan dari seseorang ke orang yang lain atau ke khalayak. Hampir semua puisi, berisi kata-kata indah yang disusun secara apik berdasarkan tema tertentu.

Di Indonesia sendiri, puisi dibedakan menjadi menjadi puisi lama, puisi baru, dan puisi kontemporer. Nah, pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai puisi lama dan puisi baru. Khususnya pada macam-macam puisi lama dan baru.

Pengertian Puisi Lama

puisi-lama-dan-baru-pengertian-contoh
pixabay

Puisi lama atau yang biasa disebut puisi konvensional, adalah salah satu jenis puisi dari berbagai macam jenis puisi yang ada. Puisi ini masih terikat dengan persajakan, pengaturan larik pada setiap bait, jumlah kata pada setiap larik, dan musikalitas puisi yang sangat diperhatikan.

Ciri-ciri Puisi Lama

  • Disampaikan dari lisan ke lisan (sastra lisan).
  • Tidak diketahui nama pengarangnya.
  • Terikat dengan aturan atau pola tertentu.
  • Umumnya adalah puisi rakyat.

Macam-macam Puisi lama dan Contohnya

1. Syair

adalah jenis karya sastra atau puisi lama yang berasal dari Arab, ia memiliki sajak a-a-a-a.  Syair biasanya berisi kisah yang di dalamnya terkandung sebuah amanat atau nasehat.

Contoh syair:

Dengarkan wahai manusia,

Syair sederhana yang pernah ada,

Dalam dunia yang fana,

Mengenai penderitaan semua manusia,

Hidup ini hanya untuk beribadat,

Tidak hanya untuk melakukan maksiat,

Janganlah mengumbar syahwat,

Lakukanlah ibadah yang taat,

Jangan lupa untuk sholat,

Agar menjadi manusia yang bermanfaat,

Jangan lupa zakat dan sholawat,

Untuk mengaharapkan akhirat,

Tuhan tak pernah tidur,

Agar manusia gampang diatur,

Tuhan membuat hidup manusianya makmur,

Agar kita selalu akur,

Jangan lupa saat kita bahagia,

Apalagi saat mengalami duka,

Karena tuhan selalu ada,

Sebab Tuhan selalu mejaga umat umat-Nya,

Ya Allah ya Tuhan kami,

Ampunilah segala dosa kami,

Berilah segala pentunjuk untuk kami,

Untuk mendapatkan ridho Illahi,

2. Pantun

Merupakan jenis puisi lama yang popular dan dikenal luas oleh masyarakat. Pantun memiliki sajak a-b-a-b, yang dimana pada setiap baitnya berisi 4 baris, setiap barisnya berisi 8 hingga 12 kata. 2 baris pertama merupakan sampiran, dan 2 baris berikutnya adalah isi.

Pantun sendiri terbagi dalam beberapa jenis diantaranya pantun nasehat, pantun jenaka, pantun adat, pantun anak, dan lain sebagainya.

Contoh pantun:

Pantun nasehat

Jangan suka mencabut padi

Kalau dicabut hilang buahnya

Jangan suka menyebut budi

Kalau disebut hilang tuahnya

Pantun jenaka

Burung perkutut

Burung kutilang

Kamu kentut

Nggak bilang bilang

Pantun adat

Ikan berenang di dalam lubuk

Ikan belida dadanya panjang

Adat pinang pulang ke tampuk

Adat sirih pulang ke gagang

Pantun anak

Enak rasanya es campur

Ditemani dengan rujak

Bermain di tanam lumpur

Naik kerbau yang membajak

3. Gurindam

Adalah jenis puisi lama yang terdiri dari 2 baris pada setiap bait, dan bersajak a-a. Biasanya gurindam berisi nasehat atau petuah yang singkat.

Contoh gurindam:

Barang siapa bermaksiat

Hendaklah dia selalu ingat

 

Ingat dunia akan tamat

Ingat dirinya ‘kan sekarat

 

Maka segeralah bertaubat

Sebelum nanti tiada sempat

4. Mantra

Merupakan puisi lama yang biasanya digunakan pada saat upacara adat atau keagamaan. Jenis puisi mantra umumnya mengandung nilai atau kekuatan magis yang dapat menimbulkan kesan dan efek tertentu jika diucapkan. Sehingga  karya sastra ini memiliki rima dan irama yang terkenal misterius sifatnya.

Contoh Mantra:

Bismillahirrahmanirrohim

Hai besi bangunlah engkau si rajabesi

Yang bernama si ganda bisa

Engkau duduk di kepala jantungku

Bersandar di tiang arasy

Kuminta tinggalkan insanku

Kuminta rendah insan sekalian

Berkat aku memakai wujud kodrat sayyidina ali

Bujur lalu melintang patah

Lalu juga kehendak Allah

Berkat lailaha illallah

Muhammadarrasulullah

5. Karmina

Merupakan puisi yang biasa disebut pantun kilat, karena memiliki isi yang sangat pendek dan biasanya digunakan untuk menyindir. Karmina memiliki pola yang lurus yaitu a-a, dan hanya memiliki 2 baris pada setiap baitnya. Serta terdiri dari 8 sampai 12 kata disetiap baris, baris pertama adalah sampiran dan baris kedua adalah isi.

Contoh karmina:

Parfum dicium harum baunya

Baca Al-Quran paham maknanya

 

Tiada umat sepandai Nabi

Turutlah ilmu sebelum mati

 

Siapkanlah bekal menjelang wafat

Dengan sebarkan ilmu yang bermanfaat

6. Talibun

Hampir sama dengan pantun,talibun adalah salah satu puisi lama yang terdiri dari sampiran dan isi. Hanya saja talibun lebih panjang, yakni dengan susunan yang terdiri atas 6, 8, atau 10 baris. Tiga baris pertamanya adalah sampiran, dan tiga baris keduanya adalah isi.

Contoh talibun:

Talibun 6 baris

Burung elang hinggap di atas tanah

Mencari makan di tanah jawa

Makanan berlimpah tak akan merana

Adinda menunggu dengan gelisah

Karena Kanda tak kunjung pulang jua

Kabarnya pun tak jelas dimana

Talibun 8 baris

Jalan-jalan ke kota jeddah

Siggah dahulu membeli buah kurma

Buah kurma dibungkus kulitnya

Dibungkus dengan pantun jenaka

Hidup di dunia hendaknya beribadah

Menjalankan perintah agama

Menjauhi larangannya

Agar mendapat surga tak masuk neraka

Talibun 10 baris

Hujan di bulan tak itu hanya bualan

Bulan memerah tak bisa menjadi acuan

Hujan di bumi tak kunjung datang

Taburkan api dengan garam

Agar menimbulkan awan yang keputihan

Abang datang membawa kebahagian

Untuk Adik yang sedang tak karuan

Tolong jangan berbobohong sayang

Sudah cukup Adik menahan suram

Bawalah Adik ke luar dari kepedihan

 

7. Seloka

Seloka merupakan salah satu dari berbagai macam puisi lama yang berisikan pepatah maupun perumpamaan. Dengan mengandung isi berupa sindiran, senda gurau, dan bahkan ejekan. Seloka sendiri adalah bentuk dari puisi melayu yang terdiri dari 4 baris atau lebih.

Contoh seloka:

Beli bayam cukup seikat

Masak jangan pakai merica

Kepercayaan mudah didapat

Ketika berkata hindari dusta

Siapkanlah bekal menjelang wafat

Dengan sebarkan ilmu yang bermanfaat

Pengertian Puisi Baru

puisi-lama-dan-baru-pengertian-contoh
pixabay

Puisi baru atau puisi inkonvensional (puisi modern). Merupakan bentuk puisi yang sudah tidak lagi terikat dengan aturan-aturan  sebagaiman yang mengikat puisi lama, sehingga puisi baru cenderung lebih bebas.

Sebenarnya puisi baru sendiri berkembang dari puisi lama yang sudah mendapat pengaruh dari luar. Puisi baru tidak terikat dengan aturan rima, jumlah baris, maupun jumlah kata. Namun, baik puisi lama ataupun puisi baru di dalamnya masih tetap terkandung ritme, rima, serta musikalitas.

Ciri-ciri Puisi Baru

  • Perkembangannya secara lisan dan tulisan.
  • Diketahui nama pengarangnya.
  • Memiliki bentuk yang lebih rapi, simetris.
  • Lebih banyak menggunakan sajak pantun dan syair.
  • Penggunaan majas yang dinamis atau berubah-ubah.
  • Rima akhir yang teratur.
  • Biasanya menceritakan tentang kehidupan.
  • Setiap barisnya adalah kesatuan sintaksis.
  • Mempunyai persajakan yang lebih teratur diakhir.
  • Sebagian besar puisi empat seuntai.

Macam-macam Puisi Baru

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa puisi baru dibagi menjadi 2 macam sebagai berikut.

Puisi baru berdasarkan bentuknya:

1. Distikon

Merupakan puisi yang dimana pada setiap bait dari puisi ini terdiri atas dua baris (puisi 2 seuntai).

Contoh distikon:

Ingin Dicinta*

Karya: Chandra Malik

 

Ketika sendiri, siapa yang bersamamu?

Apakah sepi, ataukah Rindu?

 

Ketika kita bersama, apa yang kau rasa?

Apakah bahagia, ataukah derita?

 

Siapa di antara kita yang berbohong?

Siapa memelihara omong kosong?

 

Tidakkah manusia memang seharusnya memiliki cita-cita?

Tidakkah manusia memang selayaknya ingin dicinta?

 

Salatiga, 5 Desember 2015

*Sumber: Chandra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 13.

2. Terzina

Merupakan puisi yang setiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi 3 seuntai).

Contoh terzina:

Dongeng Kucing*

Karya: Sapardi Djoko Damono

 

Lengking klakson dan rem mobil itu

meninggalkan jejak asap knalpot, debu,

dan seekor kucing yang sekarat.

 

Di dalam rumah, tangis seorang gadis kecil,

lalu suara menghibur seorang ibu

menyelundupkan ajal ke negeri dongeng.

 

Jalan memang dibangun untuk mobil,

manusia, dan juga–tentu saja–kucing;

tak boleh kita mencurigai campur-tangan-Mu, bukan?

 

*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Melipat Jarak, hlm 29.

3. Quatrain

Merupakan puisi yang dimana pada setiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi 4 seuntai).

Contoh quatrain:

Asal Muasal Pelukan*

Karya: Candra Malik

 

Tuhan menciptakan manusia

dari tempat persembunyian-Nya

di mana tidak ada siapa pun

melihat-Nya meramu lamun

 

Dari segenggam sunyi,

dijadikan-Nya segumpal hati.

Dari ramai cuma sekepal,

dicipta-Nya sebongkah akal.

 

Tetapi Tuhan seperti sengaja

membuat hati tidak sempurna.

Dari dada yang menyimpan kalbu,

direnggut-Nya tulang rusuk satu.

 

Tuhan menyebut manusia

yang terluka itu sebagai laki-laki

Lalu dari luka itulah wanita

dicipta bagai permata sanubari.

 

Digegar oleh detak jantung

laki-laki tak kuat menanggung.

Dari sinilah awal mula doa:

“Tuhan, kami ingin bahagia.”

 

Di mana letak kesabaran,

jika bukan di dalam dada?

Di mana syukur diletakkan,

jika bukan di dalam dada?

 

Tetapi, dada tak sempurna

sejak satu tulang rusuknya pergi.

Segala yang dilihat dari fana,

hanya kerinduanlah yang abadi.

 

Tanpa permpuan di sisinya,

laki-laki hanya memeluk udara.

Padahal pun bagi perempuan,

lelaki itu asal muasal pelukan.

 

Jakarta, Maret 2016

*Sumber: Candra Malik, Asal Muasal Pelukan, hlm 8-9.

4. Quint

Merupakan puisi yang terdiri dari lima baris pada setiap baitnya (puisi 5 seuntai).

Contoh quint:

Tukang Foto Keliling*

Karya: Joko Pinurbo

 

Cita-citanya tinggal satu: memotret

seorang pujangga yang ia tahu tak pernah suka

diambil gambarnya. Ia ingat bual

seorang peramal: “Kembaranmu akan

berakhir pada paras seorang penyair.”

 

Demikianlah, dengan tangan gemetar,

ia berhasil mencuri wajah penyair pendiam itu

dengan tustelnya. Ia bahagia, sementara

sang pujangga terpana: “Ini wajahku,

wajahmu, atau wajah kita?”

 

Tak lama kemudian tukang potert keliling itu

mati. Tubuhnya yang sementara terbujur

di sebuah ruangan yang dindingnya

penuh dengan foto karyanya.

Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya.

 

Kerabatnya bingung. Mereka tidak menemukan

potretnya untuk dipajang di dekat peti matinya.

“Sudah, pakai foto ini saja,” cetus seorang

dari mereka sambil diambilnya foto pujangga.

“Lihat, mirip sekali, nyaris serupa. Ha-Ha-Ha….”

 

*Sumber: Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, hlm 157.

5. Sektet

Merupakan puisi yang terdiri atas enam baris pada setiap baitnya (puisi 6 seuntai).

Contoh sektet:

Bunda dan Anak*

Karya: Rustam Effendi

 

Masak Jambak,

buah sebuah

diperam alam di ujung dahan.

Merah darah

beruris-uris

bendera masak bagi selera.

 

Lembut umbut,

disantap sayap.

Keroak pipi pengobat haus.

Harum baun

sumarak jambak.

Di bawah pohon terjatuh raum

 

Lalu ibu

di pokok pohon.

Tersarung hidung, terjatuh mata

pada pala,

tinggal sepenggal.

Terpecik liur di bawah lidah.

 

Belum jambu

masuk direguk,

terkenang anak, terkalang dirangkung.

Dalam talam,

bunda bersimpan

menanti putra si bungsu sulung.

 

Anak lasak

tersera-sera.

Budan berlari mengambil jambu.

Ibu sungguh

buah sebuah,

sedapnya sama dirasa ibu.

 

Renguk sunut,

merajut… rajuk.

Bakhil disangka cintanya bunda.

Keluar pagar

jambu dilempar.

Ibu berdiam, mengurut dada.

 

*Sumber: Kepada Puisi.

6. Septima

Merupakan puisi yang setiap baitnya terdiri atas tujuh baris (puisi 7 seuntai).

Contoh septima:

Indonesia Tumpah Darahku*

Karya: M. Yamin

 

Bersatu kita teguh

Bercerai kita jatuh

 

Duduk di pantai tanah yang permai

Tempat gelombang pecah berderai

Berbuih putih di pasir terderai

Tampaklah pulau di lautan hijau

Gunung-gunung bagus rupanya

Dilingkari air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia namanya

 

Lihatlah kelapa melambai-lambai

Berdesir bunyinya sesayup sampai

Tumbuh di pantai bercerai-cerai

Memagar daratan aman kelihatan

Dengarlah ombak datang berlagu

Mengejar bumi ayah dan ibu

Indonesia namanya, tanah airku

 

Tanahku bercerai seberang-menyeberang

Merapung di air, malam dan siang

Sebagai telaga dihiasi kiambang

Sejak malam diberi kelam

Sampai bulan terang-benderang

Di sanalah gerangan bangsaku gerangan menopang

Selama berteduh di alam nan lapang

 

Tumpah darah nusa India

Dalam hatiku selalu mulia

Dijunjung tinggi atas kepala

Semenjak diri lahir ke bumi

Sampai bercerai badan dan nyawa

Karena kita sedarah sebangsa

Bertanah air di Indonesia

 

*Sumber: Dan Riris Istanti, Puisi: Indonesia, Tumpah Darahku.

7. Oktaf atau Stanza

Merupakan puisi yang pada setiap baitnya teridiri dari 8 baris (double kuatrin atau puisi 8 seuntai)

Contoh oktaf/Stanza:

Mata Hitam*

Karya: WS Rendra

 

Dua mata hitam adalah matahari yang biru

dua mata hitam sangat kenal bahasa rindu.

Rindu bukanlah milik perempuan melulu

dan keduanya sama tahu, dan keduanya tanpa malu.

Dua mata hitam terbenam di daging yang wangi

kecantikan tanpa sutra, tanpa pelangi.

Dua mata hitam adalah rumah yang temaram

secangkir kopi seore hari dan kenangan yang terpendam

 

*Sumber: WS Rendra, Empat Kumpulan Sajak, hlm 55.

8. Soneta

Merupakan jenis puisi yang terdiri dari empat belas baris, yang terbagi menjadi dua bagian. Dimana yang bagian pertama terdiri atas 2 bait masing-masing dengan 4 baris, sedangkan bagian kedua terdiri atas 2 bait masing-masing terdiri atas 3 baris.

Contoh soneta:

Pagi-Pagi*

Karya: M. Yamin

 

Teja dan cerawat masih gemilang,

Memuramkan bintang mulia raya;

Menjadi pudar padam cahaya,

Timbul tenggelam berulang-ulang.

 

Fajar di timur datang menjelang,

Membawa permata ke atas dunia;

Seri-berseri sepantun mulia,

Berbagai warna, bersilang-silang.

 

Lambat laun serta berdandan,

Timbul matahari dengan pelahaan;

Menyinari bumi dengan keindahan.

 

Segala bunga harumkan pandan,

Kembang terbuka, bagus gubahan;

Dibasahi embun, titik di dahan.

 

*Sumber: Sapardi Djoko Damono, Bilang Begini Maksudnya Begitu, hlm 12.

Puisi baru berdasarkan isinya:

puisi-lama-dan-baru-penjelasan-contoh
pixabay

1. Balada

Merupakan jenis puisi baru yang berisi kisah atau cerita, yang menceritakan kisah tertentu. Balada terdiri atas 3 bait di dalam satu puisi, setiap baitnya terdiri dari 8 baris. Balada memiliki skema rima b-a-b-b-c-c-b, lalu skema berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Baris terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren untuk bait-bait berikutnya.

Contoh balada:

Di Mana Kamu, De’Na?*

Karya: WS Rendra

 

Akhirnya berita itu sampai kepada saya:

gelombang tsunami setinggi 23 meter

melanda rumahmu.

Yang tersisa hanyalah puing-puing belaka.

Di mana kamu, De’Na?

Sia-sia teleponku mencarimu.

Bagaimana kamu, Aceh?

Di TV kulihat mayat-mayat

yang bergelimpangan di jalan.

Kota dan desa-desa berantakan.

Alam yang murka

manusia-manusia terdera

dan sengsara.

 

Di mana kamu, De’Na?

Ketika tsunami melanda rumahmu

apakah kamu lagi bersenam pagi

dan ibumu yang janda

lagi membersihkan kamar mandi?

 

De’Na, kita tak punya pilihan

untuk hidup dan mati.

Namun untuk yang hidup

kehilangan dan kematian

selalu menimbulkan kesedihan.

Kecuali kesedihan, selalu ada pertanyaan:

kenapa hal itu mesti terjadi

dengan akibat yang menimpa kita?

 

Memang ada kedaulatan manusia, De’Na.

Tetapi lebih dulu

sudah ada daulat alam.

Dan kini kesedihanku yang dalam

membentur daulat alam.

Pertanyaanku tentang nasib ini

merayap mengitari alam gaib yang sepi.

 

De’Na! De’Na!

Kini kamu jadi bagian misteri

yang gelap dan sunyi.

Hidupku terasa rapuh

oleh duka, amarah, dan rasa lumpuh.

Tanpa kejernihan dalam kehidupan

bagaimana manusia bisa berdamai

dengan kematian?

 

Radio Female, Jakarta, 29 Desember 2004

²WS Rendra, Doa Untuk Anak Cucu (Yogyakarta, Bentang Pustaka: 2016), hlm 55-56.

2. Himne

Merupakan bentuk puisi baru yang berisi pujian-pujian kepada Tuhan, tanah air, pahlawan, maupun almamater. Semakin berkembangnya zaman, pengertian himne berubah yang mana sekarang sebagai puisi yang dinyanyikan. Berisi pujian terhadap yang dihormati seperti tuhan, guru, pahlawan, dlsb.

Contoh himne:

Dipenogoro*

Karya: Chairil Anwar

 

Di masa pembangunan ini

Tuan hidup kembali

 

Dan bara kagum menjadi api

 

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan Banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati

 

MAJU

 

Ini barisan tak tak bergenderan-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

 

Sekali berarti.

Sudah itu mati.

 

MAJU

 

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

 

Punah di atas menghamba

Binasa ditindas ditinda

 

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai

 

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

 

Februari, 1943

Sumber: Chairil Anwar, “Dipenogoro” Kakilangit (Horison), April 2016, hlm 3.

3. Romance

Merupakan puisi baru yang berisi luapan perasaan atau cinta kasih. Romansa sendiri sebenarnya berasal dari bahasa Perancis (Romantique) yang berarti keindahan perasaan, persoalan kasih sayang, rindu, dendam, maupun kasih mesra.

Contoh romance:

Sajak Putih

Karya: Chairil Anwar

 

Buat tunanganku Mirat

 

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

 

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba

Meriak muka air kolam jiwa

Dan dalam dadaku memerdu lagu

Menarik menari seluruh aku

 

Hidup dari hidupku, pintu terbuka

Selama matamu bagiku menengadah

Selama kau darah mengalir dari luka

Antara kita Mati datang tidak membelah…

 

Buat miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,

Dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!

Kucuplah aku terus, kucuplah

Dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku….

4. Ode

Adalah puisi yang berisi pujian ataupun sanjungan untuk orang yang telah berjasa. Puisi ini menggunakan gaya bahasa yang resmi, bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, serta bersifat menyanjung baik kepada pribadi tertentu ataupun kepada peristiwa umum.

Contoh ode:

karya: Toto Sudarto Bachtiar

 

Kutanya, kalau sekarang aku berangkat

Kuberi pacarku peluk penghabisan yang berat

Aku besok bisa mati. Kemudian diam-diam

Aku mengendap di balik sendat kemerdekaan dan malam

 

Malam begini beku, di manakah tempat terindah

Buat hatiku yang terulur padamu megap dan megah

Oh, tanah

Tanahku yang baru terjaga

 

Malam begini sepi, di manakah tempat terbaik

Buat peluru pistol di balik baju cabik

Oh, tanah di mana mesra terpendam rindu

Kemerdekaan yang mengembara ke mana saja

 

Ingin aku menyanyi kecil, tahu betapa tersandarnya

Engkau kepada pilar derita, megap nafasku di gang tua

Menuju kubu musuh di kota sana

Aku tak sempat hitung langkahku bagi jarak

 

Mungkin pacarku ‘kan berpaling

Dari wajahku yang terpaku pada dinding

Tapi jam tua, betapa pelan detiknya kudengar juga

Di tengah malam yang dingin beku

 

Teringat betapa pernyataan sangat tebalnya

Coretan-coretan merah pada tembok tua

Betapa lemahnya jari untuk memetik bedil

Membesarkan hatimu yang baru terjaga

 

Kalau sekarang aku harus pergi, aku hanya tahu

Kawan-kawanku akan terus maju

Tak berpaling dari kenangan pada dinding

Oh, tanah, di mana tempat yang terbaik buat hati dan jiwaku

 

Sumber: Sihaloholistik, “Puisi-Puisi Toto Sudarto Bachtiar”.

5. Epigram

Merupakan jenis puisi yang berisi tuntunan atau ajaran hidup. Epigram memiliki arti unsur pengajaran, didatik, ikhtibar, teladan, serta nasehat yang membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan sebagai pedoman.

Contoh epigram:

Pagi*

Karya : Chairil Anwar

 

jangan biarkan sekuntum bunga itu

layu sebelum matahari membelainya

dengan menggemakan semburat jingga

ultra dalam irama nuansa cinta-semesta

 

lihatlah bagaimana alam begitu perkasa

memainkan peran-Nya

dalam rindu-dendam yang terbungkus

kasih sayang memberi semburat

makna seribu pesona

 

6. Elegi

Adalah jenis puisi yang berisi kesedihan. Puisi ini merupakan bentuk dari ungkapan kesedihan, duka, kerinduan, maupun kepergian seseorang yang tidak pernah diinginkan.

Contoh elegi:

Senja di Pelabuhan Kecil*

Karya : Chairil Anwar

 

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

Di antara gudang, rumah tua, pada cerita

Tiang serta temali.

Kapal, perahu tiada berlaut

Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

 

Gerimis mempercepat kelam

Ada juga kelepak elang menyinggung muram

Desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan

Tidak bergerak dan kini tanah air tidur hilang ombak

 

Tiada lagi. Aku sendirian.

Berjalan menyisir semenanjung

Masih pengap harap

Sekali tiba di ujung

Dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat

Sedu penghabisan bisa terdekap

7. Satire

Merupakan puisi yang berisi sindiran atau kritik. Puisi ini khusus ditujukan kepada orang-orang tertentu yang memiliki jabatan atau kedudukan tinggi.

Contoh satire:

Aku bertanya

Oleh: WS Rendra

 

Aku bertanya…

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

 

sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,

termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.

Perbedaan Puisi Lama dan Puisi Baru

perbedaan-puisi-lama-dan-baru-pengertian-lengkap
pixabay

Jika dilihat secara umum, perbedaan antara puisi lama dan puisi baru dapat diambil dari segi isi, irama, penulis/pengarang, bentuk, serta penyebarannya. Berikut adalah perbedaan antara puisi lama dan puisi baru.

No. Perbedaan Puisi Lama Puisi Baru
1. Isi Seringnya berupa nasehat Berupa curahan hati penulis
2. Irama Tetap, dua patah kata dalam sekali ucap Dinamis, lebih mengikuti pikiran dan perasaan penulis.
3. Penulis/pengarang Biasanya tidak dikenal Lebih dikenal
4. Bentuk Lebih terikat oleh aturan Lebih bebas, tidak terikat aturan
5. Penyebaran Hanya secara lisan Melalui lisan dan tulisan

Sekian

Baik, usai sudah pembahasan kita tentang puisi lama dan baru. Semoga pembahasan-pembahasan tersebut dapat bermanfaat, jangan lupa juga untuk membaca jenis jenis cerpen lengkap beserta pembahasannya.

Sekian dan terimakasih.

Naufal Muhsy Founder of Trifaris Media site. Sangat menyukai bisnis online dan saat ini sedang mendalami Internet Marketing dan Investasi Saham. Love you all ❤️

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.