Mengenal Sejarah Qurban dan Waktu Terbaik Pelaksanaan Qurban

Sejarah Qurban – Hari Raya Idul Adha atau yang biasa disebut juga dengan Idul Qurban, merupakan salah satu hari besar yang diperingati dan dirayakan oleh seluruh umat Islam di dunia.

Hari Raya Idul Adha diperingati tepat 70 hari setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri, yaitu pada tanggal 10 dzulhijjah.

Perayaan Hari Raya Idul Adha ini juga memiliki nama lain “Idul Nahr” yang memiliki arti hari penyembelihan. Yaitu hari di mana Nabi Ibrahim AS mendapat perintah secara langsung dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

Oleh karena itu, kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini lah yang kemudian menjadi latar belakang sejarah penyembelihan hewan qurban pada Hari Raya Idul Adha. Yuk simak kisah dan pembahasan lengkapnya.

Pengertian Apa itu Qurban?

Pengertian Apa itu Qurban?

Sebelum masuk pada pembahasan sejarah qurban, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kamu mengetahui mengenai apa itu qurban?

Pengertian qurban yaitu, amalan atau tindakan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara melaksanakan penyembelihan hewan ternak (qurban).

Umumnya qurban berlangsung setelah pelaksanaan shalat Idul Adha hingga hari tasyrik.

Kata “Qurban” sendiri berasal dari Bahasa Arab yaitu “Qariba,” yang artinya mendekat. Hal ini sesuai dengan tujuan qurban itu sendiri, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ketauhi Makna dan Cara Penulisan Arab Bismillah yang Baik & Benar

Sejarah Qurban Dalam Islam

Sejarah Qurban Dalam Islam

Sebagaimana yang sudah disebutkan di awal, bahwasannya qurban tidak terlepas dari kisah pengorbanan dan perjuangan Nabi Ibrahim AS dan putranya Nabi Ismail AS.

Berawal dari lahirnya Nabi Ismail AS, pada saat Nabi Ismail telah mencapai usia remaja Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi di suatu malam.

Di dalam mimpi tersebut Nabi Ibrahim AS menerima wahyu dari Allah SWT, yaitu berupa perintah untuk menyembelih putranya Ismail.

Pada saat itu, salah satu cara Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya yaitu dengan melalui mimpi.

Sehingga perintah apapun yang diterima di dalam mimpi tersebut harus dilaksanakan dan dikerjakan, begitu pun yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS.

Pada mulanya Nabi Ibrahim AS sempat gundah lantaran ia harus menyembelih Ismail puteranya sendiri. Namun karena rasa cinta dan taat kepada Allah SWT, ia pun berlapang dada untuk mengorbankan sang putra.

Kemudian dengan berat hati, Nabi Ibrahim AS mendatangi putranya Ismail dan menyampaikan mimpi serta perintah Allah untuk menyembelih Ismail.

Setelah menyampaikan maksud tersebut, Nabi Ibrahim AS tidak menyangka bahwa Ismail langsung mengamini perintah Allah dalam mimpi ayahnya tersebut.

Ismail dengan ketakwaannya kepada Allah SWT menjawab, dirinya dengan ikhlas bersedia dan meminta sang ayah untuk melaksanakan perintah Allah SWT sehingga termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sabar.

Tentu bukan hal mudah bagi Nabi Ibrahim AS untuk melaksanakan perintah tersebut, terlebih ditengah cemoohan orang-orang di sekitarnya.

Bahkan hal tersebut sempat membuat Nabi Ibrahim AS bersedih dan berkeinginan untuk mengurungkan niatnya.

Namun Nabi Ismail AS justru memberikan dukungan kepada sang ayah untuk segera melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.

Saat keduanya telah yakin, pergilah keduanya ke padang terbuka.

Nabi Ismail AS tidak diikat kaki dan tangannya, dan ia bersiap serta memantapkan niatnya.

Pada saat pedang diayunkan dan hampir mengenai leher Nabi Ismail AS, Allah SWT segera menggantinya dengan seekor domba.

Sehingga hal ini membuat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS lega, sebab telah menjalankan perintah Allah SWT dengan baik.

Kisah atau sejarah qurban ini memberikan 3 pelajaran pokok, yaitu:

  • Nilai ketakwaan kepada Allah SWT
  • Meningkatkan hubungan antar manusia
  • Dan meningkatkan kualitas diri

Sejarah qurban serta kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail AS ini diabadikan di dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 102.

Perbedaan Qurban dengan Aqiqah

Perbedaan Qurban dengan Aqiqah
source: cianjurexpres.net

Secara umum qurban dan aqiqah memiliki kesamaan dalam pelaksanaan, yaitu dengan menyembelih hewan dan berhukum sunnah muakkad (sunnah yang dianjurkan/ hampir mendekati wajib).

Lalu apa perbedaan antara qurban dan aqiqah? Berikut adalah pembahasan yang perlu kamu simak.

Qurban: Penyembelihan hewan dengan tujuan untuk beribadah atau mendekatkan diri kepada Allah SWT di Hari Raya Idul Adha.

Aqiqah: Penyembelihan hewan dalam rangka tasyakuran atas kelahiran anak, yang diikuti dengan pemotongan rambut bayi.

Dari sisi hewan yang dipotong/ disembelih, aqiqah hanya menggunakan hewan kambing dan sejenisnya.

Sementara qurban dapat menggunakan hewan sejenis kambing, unta, sapi, dan kerbau.

Perbedaan lainnya yaitu terletak dari sisi pemberian daging.

Pada saat qurban, daging yang dibagikan kepada masyarakat atau orang lain masih dalam keadaan mentah (belum dimasak).

Sebaliknya, pada saat aqiqah daging yang dibagikan sudah dalam keadaan dimasak.

Sumber: zakat.or.id

Berikut Cara Menulis Astaghfirullah Beserta Pengertiannya!

Waktu Terbaik Pelaksanaan Qurban 

Waktu Terbaik Pelaksanaan Qurban 
source: kba.one

Umumnya qurban dilaksanakan di Hari Raya Idul Adha, setelah mengerjakan sholat ied. Namun apakah ini waktu pelaksanaan qurban yang utama?

Ya, ternyata setelah sholat ied adalah waktu pelaksanaan qurban yang utama, namun dibatasi sebelum masuk dzuhur.

Pengambilan waktu ini telah disepakati oleh mayoritas ulama.

Menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaily, dimana waktu penyembelihan diperbolehkan mulai 10 hingga 13 Dzulhijjah.

Namun khusus untuk hari pertama Idul Adha, sebaiknya penyembelihan dilaksanakan sebelum dzuhur.

Menurut hadist yang diriwayatkan oleh Al Bara bin Azib, Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya:

“Lakukan penyembelihan setelah shalat, dan pulang setelah selesai. Namun diperbolehkan menyembelih sebelum shalat sebatas keluarga sendiri.” (HR. Bukhari).

Dimana tidak ada batasan kapan waktu penyembelihan hewan qurban, adapun hukum melaksanakan qurban sebelum matahari terbenam adalah sunnah.

Selama pelaksanaannya pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah maka qurban masih diterima, namun jika melaksanakan penyembelihan setelahnya maka tidak dapat dikatakan qurban.

Perintah dan Dalil Ibadah Qurban Bagi Umat Islam

Perintah dan Dalil Ibadah Qurban Bagi Umat Islam

Berangkat dari sejarah qurban yang sudah dibahas di atas, Allah SWT memerintahkan kepada kita sebagai umat Islam untuk melaksanakan qurban di Hari Raya Idul Adha.

Perintah berqurban juga telah tercantum di dalam Al-Qur-an surat Al-Kautsar ayat 1 dan 2, yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar : 1-2)

Selain itu, Allah SWT juga telah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj ayat 34 yang artinya:

“Bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, berserah dirilah kamu kepada-Nya dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah).” (QS. Al-Hajj : 34)

Sebenarnya masih terdapat banyak dalil mengenai perintah berqurban di dalam Al-Qur’an dan hadist. Namun kamu dapat membacanya di sini.

Yuk Ketahui Sekarang juga! Makna dari Surat Al-Ikhlas

Sekian

Intinya, makna dari qurban yaitu sebagai bentuk ibadah atau pendekatan diri dan ketakwaan kepada Allah SWT sekaligus sebagai bentuk syukur atas karunia yang telah Allah SWT berikan selama ini.

Semoga dengan adanya pembahasan mengenai sejarah qurban beserta pengertiannya ini dapat membantu dan memudahkan kamu dalam memahami makna qurban sebenarnya.

Akhir kata, semoga pembahasan ini dapat bermanfaat sekian dan terimakasih 🙂

Tinggalkan komentar

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.